Musim Gugur di Bulan April

autumn-leaf-tile1

Pesta demokrasi 9 April terlaksana sudah. Kemudian diikuti dengan pemilu susulan di beberapa daerah, ketidakpuasan DPT, kecurangan, intimidasi, ketidakfahaman KPPS, protes dari kontestan pemilu dan banyak pernik lainnya. Terlepas dengan segala kekurangannya, pemilu 2009 berlangsung aman dan damai. Lancarnya Pemilu dari segi keamanan menunjukkan bangsa ini sudah semakin dewasa dalam berdemokrasi. Bangsa Indonesia telah menjadi salah satu Negara demokrasi terbesar di dunia.

Masa kampanye ibarat musim berbunga yang memabukkan banyak partai, caleg, pengurus bahkan kader dan simpatisan partai. Partainya adalah partai terbaik yang sangat pantas untuk dipilih, atau sang caleg adalah orang terbaik dan tepat untuk dipilih untuk mewakili pemilihnya dalam lembaga legislatif.

Masa kampanye adalah masa penuh dengan janji-janji, belanja iklan kampanye yang besar sehingga media akan menaguh untung besar dengan iklan kampanye. Kantong-kantong dan pundi-pundi akan terbuka lebar untuk membiayai spanduk, pamlet, stiker, iklan radio, bahkan iklan televisi. Semua partai, semua caleg hanya satu harapannya semoga dagangannya laku dibeli saat hari pencontrengan 9 April 2009. Ada yang cukup banyak keluar dana untuk kampanye, ada yang sekedarnya dan tidak memaksakan diri. Ada yang kehabisan harta untuk membiaya kampanye sehingga potensi stress bahkan gila akan semakin tinggi, maka banyak rumah sakit yang menyediakan ruangan khusus buat mereka yang gagal menjadi anggota dewan legislatif.

Masa setelah tanggal 09 april adalah musim gugur, yang menggugurkan banyak sekali partai-partai dan caleg-caleg yang kurang diminati pemilih. Tanggal 10 april ada berita yang cukup mengejutkan, ada salah satu caleg yang meninggal setelah mencontreng di TPS, ada kemungkinan yang ada dibenaknya, dia akan terpilih sehingga kegembiraannya berlebih, ataukah semua dana yang telah dikeluarkan akan sia-sia karena tidak ada yang memilihnya.

Musim gugur yang sangat menyakitkan bagi partai politik karena perolehan suaranya tidak sebanding dengan biaya, usaha yang telah dikeluarkan, demikian sangat jauh dari perkiraan mereka. Target minimal 2,5 perolehan suara nasionalpun semakin menjauh. Untuk mendapat 1% rasanya amat sangat berat, bahkan angan-angan untuk mencalonkan presiden sendiri menjadi jauh. Ajakan berkoalisipun menjadi angan belaka karena peroleh suara tidak signifikan.

Peraturan Parliamentary Treshold sebesar 2,5% menjadi batu sandungan yang amat menyakitkan, terutama bagi caleg DPRRI. Bagaimana tidak menyakitkan, perolehan suara untuk DPR RI yang kurang dari 2,5% menjadi sia-sia belaka, tak ada gunanya. Suara-suara untuk DPRRI yang kurang dari 2,5 % akhirnya akan disantap oleh partai-partai yang lolos Parliamentary Treshold. Jika diibaratkan, segala usaha, biaya yang dikeluarkan oleh caleg maupun partai hanya untuk membantu partai-partai yang lolos 2,5%. Sungguh mengenaskan. tapi itulah kenyataannya musim gugur telah berlangsung di sini, di negeri indah ini, di negeri tropis ini. warsito suwadi

About salwanaz
Kontak saya di: itosuwadi@gmail.com, facebook:warsito suwadi

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: