di Persimpangan Jalan

Sebagai tanda  terima kasihku, aku tumpahkan segala yang kupunyai, semata-mata untuk engkau walaupun tidak seorang, namun itu adalah sebagian besar dari yang aku punya. Engkau masih seperti yang dulu, sedangkan aku sudah mulai naik dan uzur. Kau mau mengertikan aku.

Kau hanya diam beribu bahkan berjuta bahsa, kau merasa terluka dan tertinggalkan oleh aku, oleh kenyataan disekelingmu, dan juga oleh dirimu sendiri. Sekali lagi lalu aku katakan, aku masih disini, tidak kemana-mana bahkan aku tidak di mana-mana, aku hanya disini menunggui dengan setia. Mari beranjak bersama, berjalan bersama, bahu-membahu tanpa ada saling menyikut sama sekali, yang sama sekali. Bagaikan sepasang binatang yang diberi kebebasan untuk terbang dan hinggap dimanapun, mencari tempat yang cocok untuk bersarang kemudian bersama-sama membesarkan anak-anaknya, dengan walau rasa berat bahkan menderita aku masih tetap menunggu.

Perasaan muakmu tumpahkan semua padaku, aku sudah biasa menghadapinya, aku sudah teramat sering merasakannya, aku sudah teramat hingga tak berasa apa-apa terhadap diri  ini. Mungkin dalam hati, atau perasaan bahkan akalku telah mempunyai sebuah danau yang siap menenggelamkan beban-beban yang sering mengelayut.

Tahukan kamu rasanya ketika sebuah hantaman meteor telah melubanginya, bukan hanya sekali, namun berkali-kali bahkan tak terhitung olehku. Danau itu dalam tenang, dengan air biru yang berarak tertiup angin. Airnya kadang keruh, namun berangsur angsur jernih kembali.

Aku tak tahu seberapa dalamnya, aku tak tahu seberapa banyaknya orang-orang yang berdanau, atau aku hanya sebagian kecil saja bahkan sedemikian dangkalnya. Aku harap danau ini bisa menenggelapkan sakit hatimu.

Kuterima kau apa adanya, demikian terimalah aku apa adanya juga.

Seperti pemulung, mari kita pungut bekas-bekas yang mungkin masih ada nilai ekonomisnya. Atau mungkin sekedar kita membuat kesibukan yang dapat melupakan beban ini walau sesaat, semoga selamanya.

Kau hanya diam, demikian juga akupun diam, ruangan itu menjadi beku dengan kediamanku dan kamu. Musim hujan yang membawa banjir telah membekukan semua yang dilaluinya. Tak ada keinginan untuk beranjak walau hanya diam.

Kedatanganmu aku sambut sekali, namun di antara kita telah tumbuh banyak perbedaan yang sulit untuk disatukan lagi, aku tahu kau tak sejengkalpun melupakanku, namun aku selalu berusaha menghapus banyak bayangan yang menggoda tentangmu, aku tak mau itu lalu aku menjadi mati kutu, aku masih yang dulu, mungkin jadi perwujudanku sudah mulai uzur. Aku menyesalkanmu mengapa kau masih setia untuk bertemu kembali denganku, sedangkan aku terus berusaha menghapusmu dari semuanya, maafkan aku.

Kupecah kebekuan suasana kediamanku “ini Raisa istriku, aku sudah menikahinya, dua tahun yang lalu, namun selama ini aku belum diperkenankan untuk menimang anak”. Kau berusaha tersenyum dan mengangguk pada Raisa. Istriku mengulurkan tangannya dan tersenyum penuh kesantunan, kau berjabat tangan. Kau menginap di mana?, dia  tampak termenung dan terkesiap ketika pertanyaanku bagai sebuah tamparan dimukamu. Mukamu memerah agak malu, karena berusaha larut sendirian, dalam lautan lamunanmu, kau tergeragap, “aku tinggal di Grand Hyatt”, wuih  sebuah hotel yang mewah sekali, semua itu dari kantor yang bayari, bukan dari kantongku sendiri, mana mampu aku ini. Aku hanya tersenyum untuk sekedar mematahkan kerendahan diri  yang seakan menutupi kekayaannya. “aku tahu itu, kantormu akan rela membayar berapa saja untuk sekedar biaya akomodasimu, apalah artinya sedikit mahal untuk biaya akomodasi, untuk seorang profesional sepertimu”. Ia buru-buru memotong percakapan yang mulai tidak mengenakkan buat dirinya, “sudahlah aku tak ingin memperpanjang lagi soal keadaanku sekarang’.

Maaf aku tak membalas banyak email yang kau kirimkan, namun semuanya kubaca. Aku merasa ada sesuatu kekuatan yang mencegah tangan-tangan ini untuk mengalirkan semua jawaban yang engkau tanya, namun satu yang aku temukan, kau pasti tiap hari membuka website-website berita yang sekarang banyak di Indonesia.

Aku tak mau hidup dalam jarak serta mimpi-mimpi belaka, maka aku putuskan untuk mempersunting Raisa. “maafkan aku. Itu bisik hatiku ketika kau berpamitan. Ada banyak rasa kulihat di wajahmu, namun ada juga senyum lega, setelah sekian lama terpendam. Memang hidup mesti dilalui dan tak harus terhanyut dalam persaan saja. (Warsito Suwadi)

About salwanaz
Kontak saya di: itosuwadi@gmail.com, facebook:warsito suwadi

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: