Mau kemana kita?

 railway_lines-2.jpg

Ketika kita dilanda rasa kejenuhan yang keterlaluan, hal yang sering muncul dalam benak kita adalah rasa bosan yang sangat, serta tak tahu mau kemana kita. Ketika kita menjadi orang yang saat itu sedang lemah atau sedang menurun indeks keimanan kita, maka sajian-sajian alternatif yang negatif yang akan dihidangkan di alam lintasan fikiran kita.

Dan saat itu mungkin kita bisa jatuh dalam pelukan dosa, apabila kita tidak cepat-cepat melepaskannya maka cengkeraman itu semakin kuatnya. Mau kemana kita?

Ketika kita dilanda kegembiraan yang keterlaluan, hal yang sering muncul yang menyerbu benak kita adalah pola hidup surgawi, serba bergelimang kenikmatan yang tak terkira dalam penilaiannya, lalu apakah kenikmatan yang paling nikmat, sehingga orang akan rela mengorbankan apa saja, nyawanya sekalipun, lalu kegembiraan apa yang sangat menggembirakan? 

Ketika kita dilanda kesedihan, maka seakan-akan dunia ini sudah runtuh, atap-atap langit berantakan menimpa hati rapuh kita, sampai pada klimaksnya, alangkah tidak adilnya Allah yang telah menciptakan rasa sedih, lalu semua yang tampak menjadi hitam semua, semua yang manis menjadi pahit, semuanya tidak ada yang baik, semua orang tak ada yang peduli dengannya, lalu siapakah yang paling peduli pada kita, teman karib kita, orang tua kita, orang yang dekat di hati kita, tidak sepenuhnya!,  namun ternyata yang paling peduli adalah Allah pencipta kita, tidakkah kita peduli dengan pencipta kita ?

Lalu mengapa kita?

Ketika kita bertanya mau kemanakah kita, dengan bangun pagi-pagi berkeringat dan berair-air mengejar bis kota (khusus penggemar  angkutan umum), yang nantinya pula saat ia harus bersesak-sesakkan dalam bis kota (khusus penggemar angkutan umum)  pada petangnya, sebenarnya mau kemana kita harus demikian, seakan tiap menit begitu berartinya. Ketika pertanyaan ini kita lontarkan tentu akan mendapat reaksi yang berlainan, sesuai kadar pengetahuannya.  Lalu mau kemana kita tiap harinya, setelah Allah membangunkan kita dari mati kecil dalam alam tidur?

Mau kemana kita?

Mau kemana kita, ketika harus makan dengan menu yang mahal, yang mungkin untuk sekali makan kita mampu mencukupi jatah makannya dua, tiga, empat  atau lima orang para pengungsi Ambon, Sampit misalnya, bukankah esensi makan kita adalah sama,   paling minimal adalah terpenuhinya empat sehat, lalu mau di kemana saudara-saudara kita ?

Mau kemana kita?

About salwanaz
Kontak saya di: itosuwadi@gmail.com, facebook:warsito suwadi

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: