Krisis Keuangan AS

 Republika, Jumat, 25 Januari 2008

Krisis Keuangan Sepanjang Sejarah

Black Thursday
1929

Krisis yang terkenal dengan sebutan Black Thursday ini telah membuat AS dan juga ekonomi dunia mengalami depresi besar selama 1930-an. Usai maraknya spekulasi di pasar modal sepanjang 1920-an, ketika industri penyiaran radio dan produksi mobil mulai tumbuh.

Dimulai dengan jatuhnya harga saham sebesar 13 persen pada hari Kamis 24 Oktober 1929. Walau otoritas pasar modal telah berupaya menstabilkan pasar, harga saham terus jatuh lagi 11 persen pada Selasa 29 Oktober. Pasar jatuh sampai dasar pada 1932 ketika nilai saham tersapu hingga 90 persen. Butuh waktu 25 tahun bagi Dow Jones untuk pulih kembali ke level 1929. Dampaknya sangat terasa karena saham dimiliki oleh banyak kelas menengah yang kemudian mengurangi konsumsi mereka akan barang-barang seperti rumah dan mobil. Sementara kalangan pebisnis menunda investasi dan menutup pabrik. Pada 1932, ekonomi AS anjlok setengah dan sepertiga pekerja menjadi pengangguran.

Sistem keuangan hancur dengan penutupan seluruh perbankan pada Maret 1933 ketika FD Roosevelt menjadi presiden baru dan memulai program New Deal. Banyak ekonom sayap kiri ataupun kanan mengkritik bahwa otoritas keuangan tak melakukan langkah yang cukup. Bank sentral sebenarnya telah menaikkan suku bunga untuk melindungi nilai tukar dolar AS dan standar emas, sementara pemerintah AS menaikkan tarif dan memakai semua surplus anggaran. New Deal yang dijalankan Roosevelt menghilangkan beberapa masalah terburuk depresi. Namun ekonomi AS belum sepenuhnya pulih hingga Perang Dunia II, ketika belanja militer dalam jumlah masif menghilangkan pengangguran dan mendorong pesat pertumbuhan.

New Deal juga memperkenalkan peraturan ekstensif dalam pasar keuangan dan perbankan, melalui pembentukan Komisi Sekuritas dan Saham (SEC) atau badan pengawas pasar modalnya AS, dan Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC), seta pemisahan antara bank komersial dan ritel melalui Glass-Steagall Act.

Skandal Tabungan dan Pinjaman di AS
1985

Lembaga peminjaman dan tabungan (saving and loan) di AS adalah bank-bank lokal yang menawarkan pinjaman perumahan dan menarik tabungan dari para investor ritel. Selama deregulasi keuangan 1980-an, mereka diperbolehkan melakukan transaksi keuangan yang lebih kompleks, juga kadang tidak bijak, untuk berkompetisi dengan bank komersial besar. Pada 1985, banyak lembaga keuangan ini yang bankrut, terutama di Ohio dan Maryland. Pemerintah AS menjamin banyak deposito pribadi, sehingga menanggung beban keuangan besar ketika terjadi kebangkrutan pada lembaga keuangan lokal ini.

Pemerintah kemudian mendirikan Resolution Trust Company untuk mengambil alih dan menjual aset-aset lembaga keuangan lokal, termasuk kepemilikan rumah dan lembaga yang bangkrut. Terhitung dana yang dihabiskan pemerintah mencapai 150 miliar dolar AS. Krisis ini telah memperkuat posisi bank-bank besar dengan menyingkirkan rival kecil mereka dan meletakkan dasar bagi konsolidasi dan merger perbankan di sektor ritel pada 1990.

Black Monday
19 Oktober 1987

Pasar modal AS mengalami penderitaan terparah ketika terjadi krisis satu hari pada 19 Oktober 1987 ketika Dow Jones Average Index yang berisi indeks saham perusahaan-perusahaan terkemuka di AS anjlok 22 persen. Pasar modal Eropa dan Jepang pun terkena imbasnya. Krisis dipicu oleh menyebarnya kabar bahwa insider trading mendominasi pasar. Sementara ekonomi AS sedang mengalami pelambatan. Timbul pula kekhawatiran tentang nilai tukar dolar AS, yang memang sedang menurun di pasar internasional. Ditambah lagi kebijakan Jerman menaikkan suku bunganya, membuat nilai tukar Mark Jerman ikut naik.

Sistem perdagangan saham terkomputerisasi yang baru saja diperkenalkan, ketika perintah jual dieksekusi secara otomatis, memperparah runtuhnya pasar. Khawatir bahwa bank-bank utama akan ikut rontok, The Fed dan bank sentral negara lain segera menurunkan tingkat suku bunga secara tajam. Circuit-breaker atau saklar pengaman transaksi pasar modal diperkenalkan untuk membatasi perdagangan terprogram dan otoritas bisa mensuspensi perdagangan saham sementara waktu. Krisis ini tampaknya hanya punya dampak kecil dan pasar modal pun kembali pulih.

Namun rendahnya suku bunga, terutama di Inggris, memberi kontribusi pada terciptanya gelembung pasar tahun 1988-1989. Ini mengakibatkan tekanan pada poundsetrling yang kemudian memicu devaluasi pada 1992. Krisis ini juga menunjukkan bahwa pasar saham global mulai terhubung. Perubahan kebijakan ekonomi satu negara dapat memengaruhi pasar seluruh dunia. Hukum insider trading kemudian diperketat di AS dan Inggris.

Suku Bunga Merosot
Agustus-September 1992

Pasar saham terpuruk setelah pemerintah berupaya menekan mata uang Inggris dalam European Exchange Rate Mechanism (ERM). Pimpinan bank sentral menaikkan suku bunga hingga 15 persen yang menyebabkan pasar saham anjlok. Namun, upaya pemerintah menangkis serangan Inggris itu sia-sia.

Investasi Jangka Panjang Bangkrut
Juli-Oktober 1998

Bangkrutnya pasar modal jangka panjang atau Long-Term Capital Market (LTCM) terjadi pada tahap akhir krisis keuangan yang dimulai di Asia pada 1997. Krisis kemudian menyebar hingga Rusia dan Brasil pada tahun 1998. LTCM adalah dana lindung nilai (hedge fund) yang didirikan oleh pemenang Nobel, Myron Scholes dan Robert Merton, untuk perdagangan obligasi. Kedua profesor ekonomi itu percaya bahwa dalam jangka panjang, tingkat suku bunga pada berbagai obligasi milik pemerintah akan sama atau konvergen.

Namun, ketika Rusia menutup obligasi pemerintahnya pada Agustus 1998, investor pun kemudian memindahkan obligasi pemerintah milik mereka ke tempat yang lebih aman, yaitu obligasi pemerintah AS (US Treasury bond). Akibatnya, perbedaan tingkat suku bunga antarobligasi pun melonjak tajam.

LTCM yang banyak meminjam dana dari perusahaan investasi lain, tiba-tiba kehilangan miliaran dolar AS. Untuk tetap menjaga likuiditasnya, maka LTCM menjual obligasi US Treasury yang membuat industri kredit AS pun terseret dalam kekacauan. Akibatnya, suku bunga pun membubung tinggi. The Fed pun memutuskan langkah penyelamatan. The Fed memanggil bank-bank terkemuka di AS, banyak yang telah berinvestasi di LTCM, dan membujuk mereka untuk menempatkan dana 3,65 miliar dolar untuk mencegah LTCM kolaps. The Fed kemudian memotong tingkat suku bunga pada Oktober 1998 dan pasar pun kembali stabil. LTCM sendiri kemudian dibubarkan pada tahun 2000.

Krisis Dotcom
Maret 2000-2003

Sepanjang akhir tahun 90-an, pasar saham dikejutkan dengan peningkatan jumlah perusahaan internet seperti Amazon dan AOL, yang tampaknya akan menjadi pemain yang menonjol dalam era ekonomi baru. Saham-saham perusahaan internet itu langsung melonjak naik ketika terdaftar di bursa Nasdaq, walau kenyataannya, hanya sebagian kecil saja yang sebenarnya dapat menuai untung.

Booming internet mencapai puncaknya ketika perusahaan penyedia jasa internet AOL membeli perusahaan media tradisional, Time Warner, dengan harga hampir mencapai 200 miliar dolar AS pada Januari 2000. Namun pada Maret 2000, gelembung itu pun pecah. Indeks Nasdaq yang banyak ditopang perusahaan berbasis teknologi rontok hingga 78 persen pada Oktober 2002.

Runtuhnya saham internet mempunyai dampak yang tak terduga seperti nilai investasi yang ikut jatuh dan pelambatan ekonomi AS pada tahun berikutnya. Diperparah lagi dengan tragedi 9/11 yang membuat pasar modal ditutup sementara. Namun bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), kemudian memotong suku bunga sepanjang 2001, secara perlahan menurunkan tingkat suku bunga dari 6,25 persen ke satu persen untuk menstimulus pertumbuhan ekonomi.

Serangan Menara Kembar, New York
11 September 2001

Serangan terhadap menara kembar (WTC) di New York, AS, menyebabkan kerugian luar biasa di pasar saham London. Indeks FTSE anjlok 5,7 persen, kerugian terbesar keempat dalam sehari. Pasar saham global pun mengalami ketidakpastian.

Credit Boom 2003-2007

Ekonomi yang tumbuh baik dalam empat tahun terakhir, membantu kinerja ekonomi AS serta Cina dan India. Suku bunga rendah dalam kredit properti, mendorong warga ramai-ramai mengajukan kredit perumahan. Industri keuangan di Inggris juga membesar, dan London menjadi saingan New York sebagai kiblat keuangan dunia.

Subprime Bangkrut
Januari 2008

Industri properti di AS yang menuju jurang kerugian, menimbulkan kekhawatiran dampak itu dapat memicu inflasi di AS. Jor-jorannya perbankan memberikan kredit kepada nasabah yang belum ketahuan jejak rekam serta berpendapatan rendah atau dikenal subprime mortgage, menjadi hantu bagi pasar modal AS. Sumber: ap/afp/rto/has

( )

About salwanaz
Kontak saya di: itosuwadi@gmail.com, facebook:warsito suwadi

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: