Jangan Sekedar Layangan

   Layang-layang, begitu indah menghiasi langit di musim panen. Diselingi angin bertiup sepoi, begitu membelai. Mewartakan sebuah kedamaian dan kemakmuran, berkah melimpah bagi penduduk yang lugu dan jujur. Dengan ikhlas terus berucap syukur pada Allah yang melimpahkan panen tiada terkira untuk musim tanam kali ini.Layang-layang semarak di persawahan yang tinggal tunggul-tunggul padi yang merata menghampar. Di sana riuh anak kecil, pemuda maupun bapak-bapak,  bersaing untuk mengadu ataupun sekedar memamerkan layangan indahnya  di ketinggian langit yang biru menyejukkan.

Layangan yang diadu meriuhkan suasana, dengan kejar mengejar disertai galah yang panjang untuk memetiknya, demikian musim layangan akhirnya berganti dengan layangan hias; ada yang berbetuk capung, burung, kapal terbang, bahkan ada yang seperti ikan hiu. Sangat semarak suasana  di musim layangan.

Layangan begitu akrab di dunia ini, ia tidak hanya menjadi monopoli orang kampung, orang gunung, orang pantai atau orang kota saja, hampir bisa dikatakan layangan banyak sekali penggemarnya di seluruh pelosok dunia ini.

Sering bila layangan  telah kita bubungkan, banyak sekali angan-angan yang terhambur;  kita ingin terbang bersama layangan, bahkan menembus awan putih dan lepas di angkasa luas. Kita mainkan layangan hebat kita dengan berkilo meter benang hingga membumbung tinggi tak terlihat, terbang bersama angan-angan yang kita sematkan di layangan atau kita kirim melalui benangnya. Namun sayang kita tak mampu diterbangkan oleh layangan. Kita yang memainkannya tetap tinggal disini, di tanah bumi ini, sedang layangan kita membumbung tinggi hingga banyak orang mampu melihatnya. Namun kadang terasa menyakitkan bila kita kehilangan layangan yang kita naikkan tinggi-tinggi, karena benangnya putus.

Berpulang dari dunia layangan, sebenarnya ada apakah pada layangan, kalau boleh berkomentar ternyata: pertama adalah layangan dengan pemainnya hanya dihubungkan dengan seutas benang, yang akan semakin panjang apabila kita memainkannya setinggi-tingginya, seringan mungkin benang yang mengaitnya akan semakin baik, demikian sebaliknya semakin berat benang yang mengaitnya akan semakin susah untuk membumbung, apalagi kondisi angin yang bertiup lemah. Kedua adalah tidak pernah pemain layangan terbang bersama layangannya, bahkan orang yang melihat layangan di angkasa tidak mengenali layangan siapa yang sedang membumbung di angkasa.

Dari dua karakteristik ini coba kita tarik sebagai sebuah refleksi yang mungkin mampu menjadi sebuah pelajaran yang kadang terlewatkan begitu saja oleh kebanyakan dari kita.

Al Islam yang tinggi dan mulia adalah tuntunan hidup universal yang semua manusia dengan hati nurani yang bersih akan mengakuinya sebagai satu-satunya Dien yang sempurna. Kesempurnaan dan keuniversalannya tak ada yang menandingi, karena sangat tingginya dan seakan-akan hanya di awang-awang (langit) maka membetikkan gagasan untuk membumikan Al Islam. Namun apa yang terjadi dengan kondisi umat Islam  sekarang ini Al Islam selaksa layangan. Nilai-nilai Islam hanya dipegang dalam seutas benang, dimana jarak Al Islam dengan pemeluknya  sangat jauh sekali. Al Islam tampak hanya pada ritual-ritual rutinitas semata, hanya dalam skala musiman di mana kondisinya kondusif sekali, selayaknya layangan yang hanya dimainkan pada bulan-bulan tertentu.

Kondisi ini harus segera mengalami sebuah perubahan dimana harus diadakan perubahan yang mendasar dalam memberlakukan Islam dalam kehidupan kita sehari-hari.

Ketika  Islam kita dudukkan sebagai layangan semata-mata, maka kita hanya bisa berangan-angan saja untuk mengarungi ketinggian angkasa. Harus ada sebuah usaha yang nyata untuk merubah dengan  mendudukkan Islam menjadi sebuah pesawat terbang yang mampu mengangkut umatnya dalam sebuah mobilitas yang tinggi, bahkan tidak cukup pesawat terbang saja namun coba kita dudukkan Al Islam dalam kedudukan sebagai pesawat ruang angkasa yang akan mampu membawa umatnya untuk mengeksplorasi  jagat raya. 

Terakhir adalah sebuah pertanyaan besar menghadang “Bisakah kita menjadi demikian?”, jawabanya tentu ada dalam hati-hati kita, dan yang pasti kerja nyata nan rapi yang menjadi tuntutan selanjutnya.  (wallahua ‘alam bishshowab)

About salwanaz
Kontak saya di: itosuwadi@gmail.com, facebook:warsito suwadi

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: