Kalender Baru, di tahun Baru

  oleh : Warsito Suwadi

Sitosuwadi@yahoo.com

Edisi baru lembaran hari selalu berganti  setiap jam duabelas malam. Lalu bergulirlah fajar menuju sebuah pagi yang merekah  dengan kemerahan matahari yang menggeliat di ufuk timur. “Matahari yang menggeliat?” agaknya sangat emosional sekali. Tidak sesungguhnya tidak demikian karena matahari tidak tidur atau istirahat sejenakpun  untuk memancarkan sinarnya, hingga tak perlu menggeliat, demikian juga bumi tidak berhenti sejenak untuk berotasi dan berputar pada sumbunya, lalu apa yang akan terjadi bila matahari atau bumi berhenti sejenak untuk tidur kemudian menggeliat, tentu tak akan mampu kita bayangkan akibatnya.

Hari-hari manusia seperti diterjemahkan dalam lembaran-lembaran kalender, hingga pada akhir bulan kita balik lembaran baru, demikian setiap bulan kita melakukan itu. Sampai pada penghujung tahun kemudian kalender tersebut kita buang.Kadang gambar-gambar kalender tersebut apabila masih terkesan kita gunting, yang pasti selanjutnya kalender kita buang ke tempat sampah. Kemudian kalender tersebut  adalah masa lalu yang tak perlu dikenang bahkan untuk disimpan. Musnah dengan datangnya kalender baru untuk menjadi pengingat tanggal-tanggal di tahun ini. Bergantinya tahun  dalam diri kita kadang serasa seperti bergantinya kalender yang selalu kita buang tiap tahunnya.

Coba kita luangkan barang sebentar untuk melihat kalender usang kita yang mungkin akan kita buang, pernahkan kita memberdayakannya sedemikian rupa atau hanya sebagai pengingat tanggal saja buat kita.

Yang terjadi dan terasa adalah jarang sekali pada akhir tahun kita melihat, tanggal mana saja yang telah kita tandai dengan spidol merah misalnya sebagai tanggal yang kita nanti-nantikan. Jarang sekali kita mengevaluasi satu tahun yang telah kita jalani, jarang sekali. Seakan-akan waktu dalam setahun berlalu begitu saja, wajar dan datar, kemudian kita beranjak pada tahun yang baru yang wajar datar dan hambar.

Setelah berlembar-lembar kalender terbuang terasa waktu menghantarkan kita bahwa kita telah uzur. Disaat kita sudah begitu uzurnya baru kita sadar, ternyata semuanya hanya sebuah permukaan datar hambar dan biasa-biasa. semua tahun-tahun telah berhimpun terbuang begitu saja, senasib kalender-kalender usang saat tahun baru menjelang.

Hilang, musnah, bahkan anak cucu kita tak pernah mengenal siapa kita, Karena tak pernah berbekas, datar, hambar, biasa-biasa saja. Hilang ditelan riuhnya jaman.

(Semoga itu bukan kita, Amin)

About salwanaz
Kontak saya di: itosuwadi@gmail.com, facebook:warsito suwadi

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: