Rezim Produktifitas

 oleh : Warsito Suwadi

Produktivitas menjadi bahasan yang sangat menarik perhatian dalam sejarah peradaban manusia. Semenjak revolusi industri, produktivitas menjadi penting. Semuanya diukur dengan parameter produktivitas, sampai-sampai menanggalkan sisi-sisi kemanusiaan. Ilmu-ilmu manajemen berkembang pesat dalam penelaahnya terhadap pengelolaan SDM sehingga mampu mempunyai produktivitas yang tinggi.

Pernahkan kita makan ayam pedaging, ternyata ayam-ayam pedaging itu demi produktivitas dalam waktu 29 sampai 32 harus harus menjadi besar, dan siap untuk dilepas ke pasaran, bahkan demi produktivitas ayam-ayam tersebut tidak boleh berbulu banyak-banyak dimana diciptakan suatu kondisi agar ayam-ayam tersebut tetap hangat sehingga tidak memerlukan lagi perlindungan bulu, dan yang lebih kasihan lagi ayam pedaging  harus melahap hormon-hormon pertumbuhan agar cepat besar.

Pernahkan kita makan telur ayam negeri, bagaimana ayam-ayam petelur telah berubah fungsinya sebagai  mesin-mesin telur dengan cap ayam leghorn, yang harus menghasilkan telur-telur tiap harinya, mesin-mesin telur cap ayam ini, dikungkung dalam kandang yang sempit, dan diberi ransum yang bergizi, agar ia menghasilkan telur yang produktif. Semua itu berdiri diatas rezim produktivitas.

Atas nama produktivitas pula pupuk-pupuk diproduksi, obat-obatan dibuat, mesin pengolah pertanian didirikan. Dengan nama produktivitas padi-padi harus berumur pendek, cukup 3 bulan harus dapat dipanen.

 Bagaimana revolusi industri telah mengubah paradigma manusia dan wajah dunia. Revolusi industri telah mengubah paradigma manusia terhadap arti produktivitas.

Kemajuan yang pesat dalam perekonomian negara-negara Eropa salah satu faktor pendukungnya adalah mesin-mesin industri mereka, akhirnya  pola pembangunan yang bersendikan industri menjadi trend  terutama di negara-negara dunia ketiga untuk mencapai kemajuan, tak urung negara kitapun mengikutinya, namun kita ternyata gagal, bukannya menuju era tinggal landas tetapi terpuruk pada era tinggal kandas.

Demikian seiring dengan majunya teknologi, laju produktivitas semakin kencang. Apalagi dengan ditopang oleh teknologi informasi yang semakin canggih.

Dengan kemajuan penunjang prasarana dan sarana yang ada pada manusia maka, produktivitas yang dihasilkan harus berlipat pula.

Menarik untuk disikapi, ternyata sebuah produktivitas akan menghasilkan perubahan-perubahan yang monumental dalam sejarah manusia. Contoh menarik yang mungkin sudah sering sekali kita dengarkan adalah bangsa Jepang, dengan etos produktivitasnya yang tinggi ia mampu bangkit mensejajarkan diri dengan negara-negara maju lainnya, setelah mengalami kehancuran karena kalah perang. Bangsa Jepang menjadi ikon perekonomian  dunia di samping Amerika Serikat.

Apakah produktivitas hanya monopoli bangsa-bangsa yang maju secara perekonomian dan teknologi sekarang ini, jawabannya adalah tidak, produktivitas ternyata milik Islam semata-mata. Namun kenapa sekarang kita berkubang dalam terpurukan?.

Untuk lebih jauh lagi  marilah kita melihat sejarah yang harusnya menjadi panutan kita, pada siroh nabawi, siroh para sahabat, serta ulama-ulama salaf.  Kemudian yang jadi pertanyaan adalah sejauh mana kita telah mengetahui, mengenal atau bahkan berinteraksi dengan mereka. Karena seperti slogan-slogan para fans musik seperti “punk never die”, atau “rock never die”, haruskah kita kalah semangat dengan mereka sedangkan sebagaimana kita mahfum bahwa  siroh -siroh rujukan kitapun tak akan pernah usang dan lekang oleh perjalanan waktu, dan bahkan Allah sendiri yang akan menjaga orisinalitas dari Al Qur’an sebagai rujukan utama kita.

Produktivitas para teladan kita sangat luar biasa sekali, bagaimana Rosul tercinta kita, dalam melakukan produktivitas ibadahnya, sampai bengkak kakinya, demikian juga bagaimana  para sahabat yang dalam tiga hari mampu mengkhatamkan Al Qur’an, bahkan bisa lebih. Bagaimana Al Qur’an telah meminta kita untuk bekerja dan bekerja, dan jangan sekali-sekali puas dengan hasil yang kita terima, karena semata-mata hasil itu hanya Allah, Rosul dan orang-orang yang beriman yang menentukan.  Atas nama produktivitas pula Rasullullah telah menuntaskan Al Islam dalam waktu 23 tahun.

Produktivitas seharusnya bukan produktivitas yang kasar, merusak yang akhirnya melahirkan budaya-budaya yang negatif sebagai efek sampingnya, seperti kapitalisme, yang telah menghilangkan sisi-sisi kemanusian, sehingga bangunan ini akan  menjadi bentuk peradaban yang tidak rahmatan lil alamin, dan bahkan menjadi peradaban yang menghancurkan alam ini, bagaimana ozon makin tipis, persediaan air tanah yang semakin tipis digerogoti oleh air laut, sungai-sungai yang tidak menghidupkan lagi ikan-ikan, dan yang paling akhir ini adalah pemanasan global, semua itu disebabkan oleh produktivitas dalam nafsu kerakusan.

Produktivitas yang harus kita emban adalah produktivitas yang rahmatan lil alamin, dimana kita mampu menggenjot produktivitas ayam petelur tanpa harus menghilangkan sisi fitrah kehewanan ayam, bagaimana kita mampu meningkatkan produktivitas ayam pedaging tanpa menyakitinya. Bagaimana kita menjadi workaholic tanpa menjadi robot.

Wallahu’allam bishowab

About salwanaz
Kontak saya di: itosuwadi@gmail.com, facebook:warsito suwadi

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: