Pagar

Pagar dan kekuatan, keamanan, privasi, sembunyi, sendiri mengkooptasi dengan dunia luar, walau itu tidak mungkin. Kekuatan pagar menjadi simbol “memberi rasa aman”, namun belum tentu. Alangkah sombongnya sebuah pagar dengan pos pejagaan, dengan dijaga empat, lima orang berseragam satpam, tentara dan polisi, segerombolan anjing-anjing buldog dan  herder. Pagar  bergerbang tunjukkan kewibawaan, tunjukkan kesombongan, tunjukan ketidaktersentuhan, ini adalah wilayah terlarang bagi orang yang tak terijinkan, lagak-lagak penguasa keraton yang merasa seperti raja yang menguasai sebuah wilayah. 

Pagar mengekspresikan macam-macam rasa. Namun aku, engkau bahkan semua yang berumah pagar menginginkan keamanan, menunjukkan ketidakpercayaannya pada dunia luar, pada sistem keamanan, pada ketidakpastian tatanan masyarakat yang mampu melindungi warga.

Pagar yang kekar dengan kawat berduri menjadi penegas bahwa ini milikku, tidak boleh orang mengaku-aku, ini adalah batas-batas kewilayahanku, kau tak berhak menginjak, masuk, bermain-main bahkan membuang sampah disini tanpa ada ijin yang kumandatkan padamu.

Rumah berarsitektur megah, menghabiskan jutaan, bahkan milyaran, akhirnya tak masuk dalam jajaran kesombongan sepenuhnya, namun hanya kesombongan dengan ketakutan, kesombongan dengan berpagar rapat, kesombongan dengan kerapuhan, kesombongan yang tak beridentititas, kesombongan yang lepas dari masyarakatnya.

Pagar yang rapi dan seragam adalah titah dari tatanan masyarakat yang didaulat bahwa keseragaman itu indah, ekspresi keberbedaan  hanya mengotori sebuah harmoni keseragaman yang dipaksakan belaka, keragaman hanya pengkhianat yang harus dipandang dengan curiga.

Pagar yang rapi dan seragam di desa-desa adalah kesederhanaan warganya yang ingin tampil secara kolektif dalam tatanan masyarakatnya, tatanan instruksi dari PakRT-nya, atau instruksi langsung dari desa, bahkan warnapun harus seragam terserah penguasa. merah , kuning, putih bahkan hijau, asalkan seragam nanti akan menimbulkan keindahan, kebersamaan, senasib sepenanggungan, sejiwa, kerukunan, dan kegotong royongan. Lalu sebuah keluguan dan kepatuhan dari jiwa-jiwa yang tulus dan lugu.

Pagar sebagai penguatan hak milik, pembuktian dengan pengakuan akan kekuasaan dan kekayaan. Alangkah bertanya-tanyanya orang bila melihat tanah luas berpagar, “di Jakarta lagi, Siapa yang memiliki tanah ini?”, orang menaksir  harganya , lalu di kepala mereka tertulis angka-angka yang jumlah yang tak pernah ternyanakan oleh ia sebagai orang yang biasa, orang-orang yang awam.

Rumah tak berpagar. Namun gila juga orang-orang yang rumahnya tanpa dipasangi dengan pagar, ini akan mengundang maling untuk masuk, perampok akan leluasa menggasak semua milik kita, bahkan jiwa kita satu-satunya.

Pagar-pagar berjeruji, pagar berbeling adalah jamak di rumah-rumah besar, rumah-rumah berpunya. Beling-beling, jeruji-jeruji adalah bahasa kiasan atau lebih pada sarkasme yang terkatakan: dilarang masuk lewat pagar, jangan coba-coba menaiki pagar kalau tidak ingin terluka dan nyangkut dipagar.

Pagar lancip diujung-ujungnya mungkin senada pula dengan pagar berbeling dan pagar berjeruji, jangan masuk, jangan lihat-lihat, atau matamu akan tertusuk lancipnya pagar rumahku.

Pagar berperdu terasa asri, hijau bahkan menyegarkan pandangan, namun jangan tinggi-tinggi kalau tak ingin terkurung dalam dalam kesejukan kesendirian.

Rumah-rumah tak berpagar, lebih karena apa, saya tidak tahu, apakah karena kemiskinan yang tak mampu untuk membeli pagar, memasang pagar. Rumah-rumah tanpa pagar lebih berdesak-desakan, banyak orang-orang yang menghampiri demi sumbangan, menawarkan sesuatu pada kita, mungkin telah menjadi teror tiap harinya terhadap orang rumahan.

Rumah belum ada, tanahpun belum punya, apalagi pagar rumahnya. Pagar-pagar itu masih menancap dalam dada-dada  ini, mungkin akan kunyatakan bila aku punya uang nanti, atau cukup sebuah pagar dari pohon perdu yang nanti kupangkas tiap minggunya, atau hanya pagar ilalang, yang tak terurus.

About salwanaz
Kontak saya di: itosuwadi@gmail.com, facebook:warsito suwadi

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: