Bila cinta ditautkan

 Jantungnya berpacu cepat, degupnya menggoncang tubuhnya yang semakin ringkih. Kepalanya terasa berputar-putar, perutnya diaduk-aduk, hingga sarapan tadi pagi keluar semua.

Tak biasanya ia mengalami hal seperti ini. Sangat berat sekali kondisi yang dialaminya. Kupu-kupu beterbangan di atas kepalanya, mengantarkan pada pingsan.

Rahmat sendiri di rumah kontrakan yang sempit. istrinya pergi ke pasar untuk belanja ala kadarnya. Selagi simpanan masih ada walau tinggal beberapa ribu rupiah, tetapi urusan makan kan tidak bisa ditinggalkan.

Hati Raida terasa kacau, bercampur bau ikan basah yang menyengat, terasa terngiang jelas di telinganya, “Ida segera pulang”.

Panggilan itu jelas menyengat telinga, itu jelas suara Mas Rahmat.

Segera ia beranjak, menyusuri lorong pasar yang pengap dan bau, bersama kecipak pekat alas pasar sehabis hujan mengguyur tadi malam.

Raida ucapkan salam dan mendorong pintu yang memang tidak dikunci. Menyeruaklah tangis yang ditahan sepanjang perjalanan.

 “Mas Rahmat…..” pekiknya,

Raida mendapati sekujur tubuh Rahmat yang dingin, dengan nafas yang terdengar memburu.

“aku, harus tenang, aku harus sabar” teriak Raida pada diri sendiri.

Disambarnya minyak angin yang tergeletak di meja ia olesi di sekitar hidung, perut dan punggung, ia olesi lagi hidung, dengan minyak angin.

Dengan lembut Raida, membisiki telinga Rahmat, “Mas Rahmat, bangun, sadarlah, aku mendengar teriakanmu” sambil berdoa, sambil berharap cemas.

Mata yang tertutup rapat itu kemudian meleleh dengan butiran-butiran hangat air mata. Memecah rasa dingin yang telah membungkus tubuh Rahmat.

Meledaklah tangis Raida. Menangis, menggugu sebisanya, ia memeluk tubuh suaminya. Hanya senyum Rahmat menyambut tangis istrinya. “Aku tidak apa-apa sayang”, sambil dielus rambut sang istri.

Walau tampak rapuh kehidupan rumah tangga yang baru dibangun dari segi ekonomi, namun Raida dan Rahmat merasa kokoh akan kehidupan baru mereka.

Sejak awal Rahmat meminang Ida, sudah dijelaskan dan ditekankan bahwa ia tidak memiliki apa-apa, hanya sebuah tekad dan keimanannya bahwa Allah akan mencukupi kehidupannya, dan alhamdulillah Ida menerima pinangannya dengan ikhlas dan menerima Rahmat apa adanya.

Untuk menutupi kebutuhan sehari-hari memang amat berat bagi Rahmat dengan gaji yang pas-pasan, namun ia sangat terhibur dengan kesetian Ida untuk menuruti kemauannya tinggal di kontrakan yang sangat minim fasilitasnya karena memang murah harganya.

Mas, kalau ini memang keputusanmu aku ngikut aja.

Sebab Mas Rahmat sekarang yang menjadi pemimpinku.

Dimana dan kemanapun Mas Rahmat pergi InsyaAllah aku akan mendampingimu. Semoga ini menjadi tabungan amal kita yang semakin membuat kita dicintai Allah.

Rahmat meneteskan airmatanya, ia agak sungkan juga untuk menangis, jaga wibawa pikirnya.

Terimakasih banyak Ida.

Aku tak bisa menjanjikan banyak kepadamu,

namun aku akan berusaha banyak untuk rumah tangga kita sebatas yang aku bisa.

Sejak peristiwa pingsannya Rahmat hati kedua manusia ini semakin erat.

Mereka percaya bahwa inilah ujian dari Allah akan pernyataan keimanannya.

Walaupun mereka kekurangan namun tak pernah mereka melewatkan hari-hari mereka dengan perut yang kosong, sebab mereka yakin Allah akan mencukupi segala hajat mahluknya. Memang ada saja rejeki yang Allah alirkan pada mereka.

 (abisaif ap 26 06)

About salwanaz
Kontak saya di: itosuwadi@gmail.com, facebook:warsito suwadi

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: