Dinar dan Dirham akankah Jadi Alternatif ?

Kuatnya pengaruh dan dominasi uang dollar terhadap perekonomian kita khususnya dan negara-negara muslim umumnya telah menggerakkan sebagian orang untuk mencari alternatif lain. Dinar dan dirham yang pernah digunakan, bahkan pada jaman nabi, dilihat sebagai alternatif yang sangat baik. Dalam sejarah penggunaan uang dinar dan dirham pernah berjaya, namun kemudian digantikan oleh uang kertas yang sangat rentan terhadap inflasi yang mengggerogoti nilai uang dari waktu ke waktu.

Dalam perkembangannya uang telah mengalami perubahan fungsinya dan semakin jauh dari nilai keadilan dalam perekonomian. Pergeseran fungsi itu adalah uang menjadi satu komoditi dan motif tambahan yaitu spekulasi karena adanya perubahan nilai uang sewaktu-waktu. Perlu kemudian untuk mendudukkan kembali uang pada fungsi sebenarnya, yaitu uang sebagai alat tukar (medium of exchange), satuan hitung (unit of account). Demikian juga dalam motif orang memegang uang adalah untuk jaga-jaga (precautionary motive), transaksi (transaction motive), dan tidak untuk spekulatif (speculative motive).

Kemauan kuat untuk kembali mengggunakan dinar dan dirham perlu disambut dengan baik, dan semoga ini bergulir dan menjadi bola salju sehingga kemudian menjadi perhatian kita semua. Namun yang menjadi perhatian adalah penggunaan mata uang saat ini tak dapat dilepaskan pada ekonomi  sebagai bagian yang tidak dapat berdiri sendiri, dan juga faktor-faktor pendukung serta faktor-faktor yang mengancam. Sebab bila masalah hanya diurai dan tangani secara terpisah tidak akan menemukan jalan penyelesaian yang diharapkan.

Penggunaan mata uang dinar dan dirham tidak dapat berlepas dari pemahaman dan keyakinan dari masyarakat terhadap fungsi uang yang seharusnya, dan bagaimana Islam mendudukkan uang dalam kemaslahatan dan muamalah. Harta dalam Islam di bagi menjadi dua yaitu modal sebagai barang pribadi dan uang sebagai barang masyarakat. juga uang diposisikan sebagai alat tukar semata bukan berubah komoditi seperti saat ini. Dengan demikian tidak akan terjadi penimbunan uang atau penyimpanan uang yang berdampak berkurangnya jumlah uang sebagai sarana pertukaran dalam perekonomian, yang tentunya bila kita ibaratkan penimbunan uang akan membuat lesu darah perekonomian.

Uang sebagai alat pertukaran dalam perekonomian mempunyai dampak berupa inflasi dan deflasi yang disebabkan oleh jumlah uang beredar dan ketersediaan komoditi yang dipertukarkan, ketika jumlah uang beredar kurang dari permintaan pasar menyebabkan penurunan harga, demikian juga sebaliknya dengan berlebihnya jumlah uang beredar akan menyebabkan harga akan naik. Kondisi ini akan berkisar pada titik keseimbangan dimana terjadi bila permintaan dan penawaran dalam jumlah yang pas, sehingga tercipta kestabilan harga, permintaan dan penawaran uang.

Kestabilan nilai mata uang telah menjadi ide dasar menggunakan dinar dan dirham disamping juga keprihatinan terhadap dominasi nilai mata uang dolar dalam perekonomian dunia, dimana akibatnya sangat terasa dengan inflasi rupiah yang tinggi terhadap dolar, sehingga memukul perekonomian Indonesia yang tak mempunyai fundamental yang kuat dengan ditandainya jumlah devisa yang sangat tipis saat itu. Mungkin kondisi kita akan lain bila kita mempunyai cadangan yang cukup berupa devisa ataupun dalam bentuk emas, untuk mendukung kinerja rupiah sehingga tidak habis-habisan dipermainkan spekulan.

Dinar dan dirham dalam sejarah penggunaannya dikenal mempunyai kestabilan yang tinggi, disini bisa kita lihat dengan perbandingan di masa Rasulullah 1: 10 nilai dinar terhadap dirham dalam perjalanan waktu mengalami inflasi sebesar 1: 15 di masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz dalam kurun 4 abad. Inilah yang dinamakan inflasi alamiah sehingga nilainya kecil dari tahun ke tahun.

Ide penerapan dinar dan dirham yang telah dirintis tentu mendapat dukungan dan penolakan dengan segala argumentasi yang dikemukan. Namun dengan segala penentangan dan penerimaan tersebut harus senantiasa diperhatikan kembali kepada hakiki sebenarnya fungsi uang itu dalam kehidupan muamalah, sehingga tidak terjebak pada situasi dimana usaha-usaha yang telah dilakukan tidak maksimal bahkan sia-sia belaka. Pemberlakuan dinar dirham adalah ide yang sangat menarik dan baik sebagai alternatif terhadap kondisi perekonomian yang dikendali oleh dolar dalam perekonomian dunia. Kestabilan dinar dan dirham karena nilai yang dikandungnya adalah nilai intrinsik yang dimilikinya, dimana 1 dinar adalah dinar itu sendiri, bukan misalnya seribu rupiah adalah hanya selembar kertas yang diberikan nilai seribu, kemudian dinyatakan sebagai seribu rupiah sebagai alat pembayaran yang sah oleh negara. Nilai seribu rupiah tidak akan bernilai seribu lagi diluar wilayah negara yang menetapkan atau wilayah yang mengakui dan mempercayai kertas tersebut bernilai seribu rupiah. Kondisi ini berlainan dengan dinar yang akan diterima di mana saja karena satu dinar adalah satu dinar tanpa butuh pengesahan dan pengakuan fihak manapun.

Disinilah kemudian dinar dan dirham mempunyai fungsi yang sangat baik karena tidak mengenal negara atau bersifat global, sebagaimana uang kertas yang sangat rentan terhadap kondisi negara yang mengeluarkannya. Dinar dan dirham menjadi entitas tersendiri dalam ekonomi, yang akan mengalami dan mempunyai karakteristik yang unik sebagaimana suatu mata uang dan dimana akan mengalami kondisi jamaknya mata uang seperti inflasi ataupun deflasi.

Kondisi ideal yang telah dibuktikan dan diinginkan kembali adalah sebuah keinginan yang sangat rasional di tengah kondisi saat ini, kondisi yang membutuhkan suatu pra-syarat untuk dapat menumbuhkan tata perekonomian yang adil, yang tidak didiktekan oleh negara tertentu karena pengaruh yang dimilikinya, yaitu politik maupun fundamental ekonominya. Kondisi ideal tersebut adalah perlu adanya kekuatan entahlah apa namanya yang membuat mata uang adalah mata uang yang mempunyai fungsi sebagai alat pertukaran, bukan sebagai komoditi yang dapat diperjualbelikan. Kemudian tidak adanya penimbunan uang yang berakibat pada jumlah uang yang berkurang. Kondisi ideal itu juga berupa ketersediaan mata uang dalam jumlah equibilirium. Namun kondisi ini tentu tidak mudah.

Ide untuk menggunakan mata uang dinar dan dirham pada kalangan terbatas kemudian diharapkan dan meluas kebanyak kalangan perlu untuk dikritisi, yaitu dengan hukum Gresham “Bad money will drive out good money”, dimana mempunyai implikasi bahwa peredaran mata uang dinar dan dirham tidak dapat berjalan seperti yang diinginkan, karena dinar dan dirham sebagai good money akan cenderung disimpan (hoarding), daripada digunakan untuk melakukan transaksi. Karena perlakuan ini kemudian dinar dan dirham akan lebih menjadi uang komoditi yang sebenarnya yaitu ia tidak sebagai mata uang namun kemudian berfungsi hanya sebagai dinar emas, untuk disimpan, atau yang lebih agak liquid digunakan untuk ONH, mas kawin atau fungsi-fungsi lain yang tidak mempunyai nilai strategis dalam perekonomian.

Ide untuk membangkitkan lagi adalah sebuah langkah yang harus didukung oleh semua fihak, terutama bagi mereka yang memegang peranan dalam perekonomian, sehingga prinsip-prinsip keadilan, kestabilan dalam perekonomian dapat terwujud, dengan semangat menjunjung Islam sebagai agama rahmat bagi semua umat manusia. Inilah kemudian semangat ini muncul untuk lebih menunjukkan bahwa sistem moneter Islam lebih menjunjung keadilan walaupun dinar dan dirham itu sendiri bukan sebuah mata uang yang lahir dari peradaban Islam tapi spirit keadilannya itulah yang kemudian diperjuangkan karena ia tidak mengenal lagi bangsa, tapi ia menempati fungsi sebenarnya sebagai alam pertukaran, sebagai alat penilai.

Kondisi perekonomian global sekarang ditandai dengan naiknya harga minyak mentah dunia yang berada pada level 100 dolar dan dalam perdagangan Amerika mengalami defisit kembar yaitu pembayaran dan anggaran berjalan. Memberikan satu bukti yang nyata bahwa mata uang yang digunakan sebagai devisa ini tak mampu berperan sebagai mata uang yang berdiri sendiri, namun keberadaan dan keberdayaannya tergantung pada kondisi dari negara yang mengeluarkannya. Bila kekuatan politik dan ekonomi negara tersebut kuat maka semakin kuat dan stabil nilainya, demikian kondisi sebaliknya.

Terlepas pada setuju ataupun tidak setuju dengan terhadap mata uang dinar dan dirham untuk diaktifkan kembali, kita harus mencermati dengan melihat realitas dan ju juga kondisi obyektif maupun normatif sesuai dengan Islam dalam mengatur masalah perekonomian dikaitkan dengan ilmu dan kajian ekonomi yang begitu pesat melesat dengan kondisi perekonomian Islam yang sedang berkembang saat ini. Perlu digali ilmu-ilmu tersebut dan kemudian ada satu usaha yag keras untuk menjadikannya tidak sebagai alternatif belaka namun sebagai pilihan utama untuk mengatasi kondisi perekonomian umat Islam yang diakui atau tidak masih terbelakang dang menjadi bulan-bulanan negara-negara barat yang jelas-jelas tidak menyenangi Islam. Dengan kekuatan dan kekuasaan mereka secara halus maupun kasar sekalipun, agar negara-negara Islam untuk selalu dalam cengkramannya. Keberdayaan umat salah satunya adalah dengan ekonomi karena Rasulullah  jauh-jauh hari telah memberi satu peringatan bahwa kondisi umat yang berada dalam kemiskinan akan lebih cenderung pada kekafiran, hal ini sudah terbukti. Maka mulailah dengan segala yang bisa kita lalukan dengan upaya-upaya yang keras untuk membangkitkan dan menunjukan bahwa Islam adalah pemberi solusi permasalahan dan juga sebagai agama yang rahmatan lil alamin.

ws 

About salwanaz
Kontak saya di: itosuwadi@gmail.com, facebook:warsito suwadi

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: