Butiran-butiran hujan

Masih sesore ini rintik hujan semakin menderas. reda tak kunjung menghampiri. Sementara senja semakin berkejaran dengan detik-detik jam tangan. Lelah merayap menjadi satu sandaran bahwa telah jauh perputaran itu sampai dan menemukan titik awal bermula.Sore yang basah merayap malam yang gelap. Lampu-lampu jalanan menghablur menerobos dinding-dinding kristal butiran hujan, membuat pandangan terhalang oleh deretan sinar yang diurai menjadi tarian-tarian dipentas titik-titik air yang membasahi helm. Kayuh terus kayuh menerjang kubangan, menimbulkan sensasi cipratan yang meriahkan. Untung bawa jas hujan, cenung dalam hati, hingga tak perlu terhambat tertambat di halte bus yang telah berjejal manusia berlindung dari guyuran hujan.

Terbetik mencibir, salah siapa tak bawa jas hujan, udah tahu kalau lagi masa sering-sering turun hujan, Kalau begitu kan waktu terbuang percuma, sedang keluarga menunggu harap-harap cemas terhadap keselamatan.

dingin itu semakin menambah gigilan gigi yang tak kuasa menahan tebasan angin yang semakin meruntuhkan ketebalan jaket. Namun masih dapat teratasi. Segerombolan motor itu beriringan dengan laju agak pelan karena memang tak memungkinkan untuk ngebut karena macet ceetttt!!!.

Helai rambut yang tak terlindung digunjang hembusan dingin terlihat titik air hujan menggelayut, semakin masai rambut tak terurus itu.

Semakin dingin akan mengundang kegairahan, untuk duduk-duduk di sini, di lampu merah dekat jembatan layang dan kolong jembatan tempat biasa keluarga melepas penatnya. Lumayan juga seorang ibu mengulurkan lembaran ribuan. Sementara mata emak menguasai setiap gerak gerik di kejauhan. Batinnya “semoga kau semakin menggigil dan menengadahkan tangan agar semakin pula banyak orang iba dan mengulurkan lembaran rupiah terhadapmu.

Desah atau tangisan yang tak tersisa ketika runtuhan gunung melumatkan perkampungan. Batu-batu dan Lumpur serta tanah menjebol dinding-dinding rumah merangsek melumatkan meratakan dan tenggelam terhanyaut dalam aluran Lumpur yang terjun tanpa dikait lagi oleh rindangnya pepohonan. Terjual demi sebuah ambisi yang memakan gelondongan-gelondongan kayu bulat-bulat. Kembali lagi rintihan itu ditindas oleh batu gunung bulat-bulat.

Nafas tersendat tersengal hampir putus ketika harus melawan arus air yang menggila di tengah jalan yang diputus oleh banjir, kenekatan yang kadang harus dibayar dengan nyawa satu-satunya, untunglah tim SAR segera datang menyelamatkan. Banyak rumah terendam, kerugian material yang tak terhitung kemudian bantuan datang mengalir menyemut.

About salwanaz
Kontak saya di: itosuwadi@gmail.com, facebook:warsito suwadi

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: