Bangga menjadi Bangsa Tempe
merangkak seperti kura-kura
pelan-pelan, merangkak untuk melaju
memperkenalkan diri pada khalayak
salwanaz nembus juga angka 2000 pengunjung, entah pengunjung setia atau tak sengaja.
jadi satu tantangan untuk lebih baik lagi
Krisis Keuangan Masuk Babak Baru
Jakarta, Kompas – Krisis di pasar keuangan domestik memasuki babak baru, yang dimulai dengan bermunculannya berbagai rumor tentang kesulitan likuiditas yang dihadapi sejumlah bank. Kejadian yang sebenarnya hal biasa itu dengan cepat berkembang menjadi rumor yang berbahaya. (more…)
Mudik, Budaya Rantau dan Kemajuan Bangsa
***
Satu peristiwa dalam setiap tahun selalu dihiasi dengan kemacetan jalur pantura maupun selatan, hiruk pikuk di tempat-tempat pemberangkatan kereta, kapal, bus antar kota. Tuslah yang tidak ditepati dan ditaati, calo-calo tiket yang kadang meresakkan dan bikin emosi. Peristiwa itu begitu akrab bagi kalangan perantau bahkan hampir menjadi budaya dan ritual yang pelaksanaan yang wajib bagi sebagaian orang. Satu peristiwa tersebut adalah “ acara pulang kampung, “mudik””.
di Persimpangan Jalan
Sebagai tanda terima kasihku, aku tumpahkan segala yang kupunyai, semata-mata untuk engkau walaupun tidak seorang, namun itu adalah sebagian besar dari yang aku punya. Engkau masih seperti yang dulu, sedangkan aku sudah mulai naik dan uzur. Kau mau mengertikan aku.
Kau hanya diam beribu bahkan berjuta bahsa, kau merasa terluka dan tertinggalkan oleh aku, oleh kenyataan disekelingmu, dan juga oleh dirimu sendiri. Sekali lagi lalu aku katakan, aku masih disini, tidak kemana-mana bahkan aku tidak di mana-mana, aku hanya disini menunggui dengan setia. Mari beranjak bersama, berjalan bersama, bahu-membahu tanpa ada saling menyikut sama sekali, yang sama sekali. Bagaikan sepasang binatang yang diberi kebebasan untuk terbang dan hinggap dimanapun, mencari tempat yang cocok untuk bersarang kemudian bersama-sama membesarkan anak-anaknya, dengan walau rasa berat bahkan menderita aku masih tetap menunggu.
(more…)
Mau kemana kita?
Ketika kita dilanda rasa kejenuhan yang keterlaluan, hal yang sering muncul dalam benak kita adalah rasa bosan yang sangat, serta tak tahu mau kemana kita. Ketika kita menjadi orang yang saat itu sedang lemah atau sedang menurun indeks keimanan kita, maka sajian-sajian alternatif yang negatif yang akan dihidangkan di alam lintasan fikiran kita.
Dan saat itu mungkin kita bisa jatuh dalam pelukan dosa, apabila kita tidak cepat-cepat melepaskannya maka cengkeraman itu semakin kuatnya. Mau kemana kita?
(more…)
Riba dalam Pandangan Tiga Agama
Republika, Senin, 18 Februari 2008
Riba berarti menetapkan bunga/melebihkan jumlah pinjaman saat pengembalian berdasarkan persentase tertentu dari jumlah pinjaman pokok, yang dibebankan kepada peminjam. Riba secara bahasa bermakna: ziyadah (tambahan).
Riba dibagi menjadi dua yaitu riba fadl (riba jual beli) dan riba nasiah (riba hutang). Riba nasiah disebut juga riba jahiliyah. Riba fadl adalah tambahan pada salah satu dari dua alat tukar (barang) yang satu jenis. Riba nasiah adalah riba yang disebabkan oleh adanya penundaan (utang) yang terjadi pada harta riba. (more…)
Kita adalah air
Air merupakan unsur kehidupan ini yang tak akan pernah terpisahkan dalam keseharian. Ia ada dan mengalir dalam tubuh kita. Ia ada dan mengalir di sekitar kita. Kita tak akan terpisah dengannya karena sebagian besar diri kita adalah air.
Air mengalir dari pegunungan yang tinggi menjulang setelah dihempas dari langit dengan hujan yang menyuburkan. Terus mengalir, namun disimpan dan ditahan oleh akar tanaman, hingga menjadi gudang air yang akan kontinyu memasok kebutuhan kita dalam aliran sungai yang jernih dan sumber-sumber air di sumur-sumur kita.
Air adalah semangat yang tak pernah pudar seberapa besar apapun yang merintangi untuk menuju lautan luas tujuannya. Tak terkendala oleh ikatan tanah dan akar tanaman, kuatnya bendungan dan kungkungan dalam dam-dam yang tangguh. Bahkan bila tidak disalurkan maka akan dijebol juga. Bahkan dalam keterkungkungan wadah yang tak mungkin dijebol, ia bisa merayap dalam kain yang terjulur ke dalamnya, ataupun langkah terakhir menguap menuju angkasa.
Tak tertahankan, tak terbentung, tak terkungkung.
Dalam tubuh kita adalah air, yang terus menggelegak tak pernah pantang mundur, bahkan mendobrak semua halangan, menghalau semua rintangan untuk menuju tujuan-tujuan hakiki kita.
warsito suwadi (sitosuwadi@yahoo.com)




