Tembang-tembang sunyi

akar

 

Tembang-tembang sunyi di tengah butiran-butiran air yang tumpah ruah dari angkasa raya. Tembang-tembang sunyi rasa syukur atas nikmatnya untuk menghidupkan hati gersang. Tanah jiwaku yang gersang menjadi gembur, subur, mencecap karunia terbaik ini.

Hujan yang indah ditingkahi sinar matahari untuk mengukir pelangi di kaki langit yang mendung. seperti harapan yang mesti didaki walau kadang itu semu, menghablur bersama sirnanya matahari ditelan senja beranjak.

Tembang-tembang lirih liris, menjadi benih-benih simfoni yang syahdu berdegup di dalam jiwa ini. Benih-benih nan bermutu menggeliat di tanahku yang gembur subur, kutunggu pagiku biar menyapa benih jiwaku, biar tumbuh menjadi pohon hidupku yang tinggi menjulang tinggi, mengakar kuat di bumi, berbuah lebat sepanjang masa, untuk dinikmati makhluk yang berkunjung, biarkan angin dan hujan membawa buahmu untuk makhluk lainnya yang tak sempat berkunjung.

Ya Allah aku ingin menjadi pohon yang kokoh, memberi manfaat yang melimpah untuk kehidupan dunia dan akherat kelak.

Published in:  on April 1, 2009 at 3:21 am Leave a Comment

di Persimpangan Jalan

Sebagai tanda  terima kasihku, aku tumpahkan segala yang kupunyai, semata-mata untuk engkau walaupun tidak seorang, namun itu adalah sebagian besar dari yang aku punya. Engkau masih seperti yang dulu, sedangkan aku sudah mulai naik dan uzur. Kau mau mengertikan aku.

Kau hanya diam beribu bahkan berjuta bahsa, kau merasa terluka dan tertinggalkan oleh aku, oleh kenyataan disekelingmu, dan juga oleh dirimu sendiri. Sekali lagi lalu aku katakan, aku masih disini, tidak kemana-mana bahkan aku tidak di mana-mana, aku hanya disini menunggui dengan setia. Mari beranjak bersama, berjalan bersama, bahu-membahu tanpa ada saling menyikut sama sekali, yang sama sekali. Bagaikan sepasang binatang yang diberi kebebasan untuk terbang dan hinggap dimanapun, mencari tempat yang cocok untuk bersarang kemudian bersama-sama membesarkan anak-anaknya, dengan walau rasa berat bahkan menderita aku masih tetap menunggu.
(more…)

Published in:  on March 11, 2008 at 6:18 am Leave a Comment

BERMANFAATLAH!!!

 oleh: Warsito Suwadi   (sitosuwadi@yahoo.com)

Sesuatu benda yang ada dalam kehidupan manusia, pasti memiliki kemanfaatan  yang akan dan telah dirasakan oleh pemiliknya. Demikian benda tersebut akan dibuang apabila nilai kemanfaatannya sudah hilang bagi pemiliknya. Benda tersebut kemudian  turun statusnya dari benda yang bermanfaat menjadi sampah.

Kemanfaatan selalu memiliki sebuah nilai  yang berarti dalam segala bentuknya. Dimensi kemanfaatan memiliki bentuk yang sesuai dengan lingkungan di mana kemanfaatan itu dapat dipetik dan seberapa besar ia bisa dipetik. Ada kemanfaatan untuk dirinya sendiri, untuk keluarga, untuk tetangga bahkan untuk masyarakat luas. Dalam bentuk apapun kemanfaatan itu berwujud, ia akan tetap menjadi sebuah komoditi yang dicari-cari.

Suatu kemanfaatan tidaklah selalu dalam bentuk  penampilan yang sempurna, namun lebih pada fungsionalnya.  Kursi yang sudah reot ternyata masih mempunyai kemanfaatan yang tinggi bagi orang yang hanya memiliki satu kursi reot tersebut. Tetapi sebuah kursi yang kondisinya lebih baik dari kursi yang reot tadi, karena telah dibuang di tempat sampah oleh pemiliknya, maka nilai kemanfaatannya telah hilang. Demikian sebuah kemanfaatan tidak selalu dengan bentuk yang sempurna, namun kemanfaatan akan bernilai lebih apabila ia berada pada tempat dan waktu yang tepat.

Kemanfaatan begitu melimpah diberikan oleh lingkungan alam kita, sungguh kemurahan ini adalah satu bukti betapa Maha Pengasihnya Allah terhadap  makhluknya. Mulai dari barang tambang, lautan yang menghampar dengan segala isinya,  bermacam ragam tanaman baik yang telah dibudidayakan atau yang masih berupa plasma nutfah, berjenis-jenis hewan ternak maupun hewan peliharaan. Semuanya mengalirkan kemanfaatan semata-mata bagi manusia.

Menggali manfaat yang lebih besar

Kebutuhan bagi  kehidupan manusia yang terus melaju, dibutuhkan satu rekayasa manusia dengan ditopang oleh ilmu pengetahuan dan teknologi untuk terus mencari keunggulan-keunggulan dari tanaman maupun hewan. Rekayasa-rekayasa yang dilakukan tersebut dikenal dengan usaha pemuliaan tanaman maupun hewan. Pemuliaan dalam ruang-ruang laboratorium dengan segala metodenya memunculkan varietas-varietas dan spesies-spesies  yang memiliki dan memberikan kemanfaatan yang besar bagi manusia.

Tanaman dan hewan unggul akan terus menjadi pilihan bagi petani dan peternak karena menguntungkan dan banyak diminati oleh konsumen. Petani dan peternak akan mendapatkan keuntungan maksimal. Keuntungan yang dinikmati adalah persembahan kemanfaatan yang maksimal dari tanaman dan hewan unggul tersebut.

Demikian halnya pada manusia yang selalu mengeluarkan produk-produk kemanfaatan. Kemanfaatan yang dihasilkan cepat atau lambat akan menjadi komoditi yang dicari-cari. Produk-produk bermanfaat tersebut akan terus mengalami peningkatan-peningkatan dengan sarana uji coba dalam laboratorium kehidupan ini. Hingga pada satu saat tertentu ia akan mencapai pada tataran unggul dengan produk-produk kemanfaatan yang maksimal. Kemuliaan yang direngkuh adalah kemuliaan di mata manusia maupun  dihadapan Allah SWT.

Demikian bahwa orang-orang yang bermanfaat adalah orang-orang yang selalu mengalami pemuliaan-pemulian, melalui serangkaian ujian-ujian dalam laboratorium kehidupan. sehingga ia akan mencapai kedudukan unggul.

Proses pemuliaan  pasti bukanlah sebuah proses yang sederhana dan dalam waktu sebentar. Bahkan mungkin sebuah usaha yang keras dan kesabaran yang tinggi agar kita bisa melalui ujian demi ujian. Kesabaran yang tinggi akan  mampu memberi kekuatan untuk terus maju dan memberikan kesiapan menghadapi ujian, sehingga dari proses tersebut mampu mengeluarkan kemanfaatan yang maksimal dan unggul. Walaupun tak jarang kegagalan sering menimpa, namun dalam laboratorium kehidupan try and error adalah sebuah kelaziman atau bahkan sebuah keniscayaan.

Kemanfaatan yang besar tentu tak selalu datang dari sebuah percobaan-percobaan yang maha besar, namun aktifitas kemanfaatan yang remeh-remeh, yang kecil-kecil akan mampu memunculkan dan melahirkan kemanfataan yang besar, namun karena kemanfatan kecil adalah sebuah kesepelean maka seakan-akan ia dihindari karena kecilnya, namun kadang ketika kita mengejar kemanfatan yang mercusuar, kemanfaatan yang besar, kita tersandung bahkan terpuruk karena kapasitas keunggulan kita belum mencapai kualitas yang disyaratkan.

Coba kita mulai menghasilkan produk-produk kemanfaatan walaupun kecil dan remeh bentuknya, bahkan kemanfaatan tersebut tak terlihat oleh orang lain, namun dengan kesabaran  serta daya tahan yang tinggi sudah menjadi keniscayaan, kemanfaatan kita akan mengalami peningkatan-peningkatan pada derajat yang unggul, yang tak hanya dapat dinikmati oleh lingkungan diri sendiri, namun kemanfatan itu mengalir dan direguk oleh masyarakat luas. Kemanfaatan yang kecil yang terus mengalir dalam keteraturan adalah lebih dicintai oleh Allah, daripada sebuah proyek yang besar namun hanya sebuah insidential semata-mata tanpa ada keterlanjutan. Karena kemanfaatan yang terus mengalir akan berjalan pada laboratorium-laboratorium kehidupan yang terus merekayasanya menjadi kemanfaatan yang unggul.

Maukah kita menjadi telaga-telaga kemanfaatan, walaupun kecil bentuknya untuk terus tumbuh  menjadi  unggul dan menjadi manusia terbaik, karena kemanfaatan kita yang terus mengalir. (ws)

Published in:  on December 13, 2007 at 9:26 am Leave a Comment

Kalender Baru, di tahun Baru

  oleh : Warsito Suwadi

Sitosuwadi@yahoo.com

Edisi baru lembaran hari selalu berganti  setiap jam duabelas malam. Lalu bergulirlah fajar menuju sebuah pagi yang merekah  dengan kemerahan matahari yang menggeliat di ufuk timur. “Matahari yang menggeliat?” agaknya sangat emosional sekali. Tidak sesungguhnya tidak demikian karena matahari tidak tidur atau istirahat sejenakpun  untuk memancarkan sinarnya, hingga tak perlu menggeliat, demikian juga bumi tidak berhenti sejenak untuk berotasi dan berputar pada sumbunya, lalu apa yang akan terjadi bila matahari atau bumi berhenti sejenak untuk tidur kemudian menggeliat, tentu tak akan mampu kita bayangkan akibatnya.

Hari-hari manusia seperti diterjemahkan dalam lembaran-lembaran kalender, hingga pada akhir bulan kita balik lembaran baru, demikian setiap bulan kita melakukan itu. Sampai pada penghujung tahun kemudian kalender tersebut kita buang.Kadang gambar-gambar kalender tersebut apabila masih terkesan kita gunting, yang pasti selanjutnya kalender kita buang ke tempat sampah. Kemudian kalender tersebut  adalah masa lalu yang tak perlu dikenang bahkan untuk disimpan. Musnah dengan datangnya kalender baru untuk menjadi pengingat tanggal-tanggal di tahun ini. Bergantinya tahun  dalam diri kita kadang serasa seperti bergantinya kalender yang selalu kita buang tiap tahunnya.

Coba kita luangkan barang sebentar untuk melihat kalender usang kita yang mungkin akan kita buang, pernahkan kita memberdayakannya sedemikian rupa atau hanya sebagai pengingat tanggal saja buat kita.

Yang terjadi dan terasa adalah jarang sekali pada akhir tahun kita melihat, tanggal mana saja yang telah kita tandai dengan spidol merah misalnya sebagai tanggal yang kita nanti-nantikan. Jarang sekali kita mengevaluasi satu tahun yang telah kita jalani, jarang sekali. Seakan-akan waktu dalam setahun berlalu begitu saja, wajar dan datar, kemudian kita beranjak pada tahun yang baru yang wajar datar dan hambar.

Setelah berlembar-lembar kalender terbuang terasa waktu menghantarkan kita bahwa kita telah uzur. Disaat kita sudah begitu uzurnya baru kita sadar, ternyata semuanya hanya sebuah permukaan datar hambar dan biasa-biasa. semua tahun-tahun telah berhimpun terbuang begitu saja, senasib kalender-kalender usang saat tahun baru menjelang.

Hilang, musnah, bahkan anak cucu kita tak pernah mengenal siapa kita, Karena tak pernah berbekas, datar, hambar, biasa-biasa saja. Hilang ditelan riuhnya jaman.

(Semoga itu bukan kita, Amin)

Published in:  on December 12, 2007 at 1:53 am Leave a Comment

Mensyukuri Turunnya Hujan

artikel ini pernah dimuat di PKPU Online lumayan lama.

Warsito Suwadi

Selasa, 26 Maret 2002
Mensyukuri Turunnya Hujan

PKPU Online Hujan, melimpahkan berkah dari sang pencipta pada mahluk-mahluknya yang melata di muka bumi ini, bukan hanya untukmu manusia. Tumbuhan semakin hijau menyegarkan, benih-benih menggeliat tumbuh untuk memulai babak baru dalam hidupnya. Mungkin bila hujan itu diciptakan hanya untuk manusia maka sampai detik ini, ia tak akan turun lagi, karena kemaksiatan yang telah diperbuat. Sudah selayaknya kita harus berterima kasih dengan tumbuhan, hewan, yang karena ketulusan merekalah salah satu yang menyebabkan hujan turun membasahi bumi.

Hujan yang mulia kadang diumpati oleh orang-orang yang yang belum mampu mensyukuri nikmat dari Allah yang Maha bagi semua mahluknya, mereka hanya terfikir oleh tujuan-tujuan sesaat mereka saja. Mungkin perasaan yang dongkol sering terlontar atau hanya ada dalam hati.

Hujan menyiram bumi dengan derasnya kadang membawa bencana, karena manusia yang serakah memakan hutan yang begitu baiknya memberikan segalanya bagi manusia. Manusia-manusia yang tak tahu berterima kasih malah melahapnya bulat-bulat untuk kepentingannya sendiri. Sunggguh benar adanya, bahwa kerusakan di langit dan di bumi bukan siapa-siapa yang menciptakan, namun diri manusia sendirilah penyebabnya.

Hujan di pagi hari, banyak digerutui orang-orang yang akan berangkat kerja dengan alasan perjalanan menuju ke kantor jadi macet total, lalu sudah pasti terlambat, harus berhujan-hujan ria, hingga kedinginan.

Jangkrik dan kodok bersujud syukur, dengan lantunan doanya yang sangat harmonik, ia mengekpresikan kegembiraan dan syukur yang mendalam, Allah telah memberkahi bangsa katak dan hewan-hewan lainnya. Lalu berudu itupun jadi katak-katak kecil yang berjuang hidup sampai akhirnya ia harus berbiak lagi demi kelanggengan pengabdian.

Di padang Kalahari yang panas dan luas hujan adalah awal kemeriahan kehidupan bagi penghuni padang, singa-singa jadi gemuk lagi, semua penghunipun bergairah untuk melakukan regenerasi bagi keturuanannya, ini adalah masa yang baik untuk membesarkan anak, masa penuh makanan, masa penuh perburuan, masa penuh istirahat diantara kewaspadaan.

Hujan begitu ditunggu-tunggu oleh petani-petani kita. hujan pertama dengan sedikit angin kencang melegakan mereka, karena besok dapat membajak sawahnya, yang telah ditunggui sepetak kecil bibit padi yang disemai. Hujan adalah keberkahan bagi petani.

Hujan-hujan menghijaukan hutan-hutan tropis di negeri kita. Hijaunya hutan tropis kita menyumbang begitu banyak oksigen dunia. Hujan menyegarkan dunia ini dengan kehijauannya, dengan fotosintesis dan oksigen yang dihasilkan.

Hujan sama sekali bukan malapetaka buat mahluk-mahluk yang terus mensyukuri kenikmatan. Masihkan kita mengerutu dengan hujan yang turun pagi ini? Wallahu ‘alam bishowab. [warsito.suwadi/warsito@attglobal.net]

Published in:  on December 10, 2007 at 10:07 am Leave a Comment

sendu di kanvasku

Kutumpahkan semua kepenatanku pada selembar kanvas putih, dengan warna-warna yang berani merah, hitam, putih, kuning menyala. Kunyalakan lagi jiwaku yang mulai reda. Merah dan putih tidak aku campur, memerah menyala-nyala, membakar dan menghidupkan obyek lukisku. Namun semburat warna putih kutimpakan pada pinggir warna merah agar kontur warnanya tidak terlalu tajam.

Kusemburatkan lagi warna kuning yang ngejreng memeriahkan obyek yang sebenarnya adalah sendu, lalu mau kubawa kemana obyekku?, ahh tidak urusan, kusiram lagi kanvas putihku dengan luapan emosiku yang makin memanas walaupun obyek lukisanku sendu. Kuraih lagi warna putihku kulabur dan kukawinkan dengan kuningku, agak lunak namun sendu obyekku belum juga muncul, yang muncul gelegar semangat warna merahku. Tanpa sadar telah kupadamkan warna merah itu dengan kekejaman tube hitamku, merahku mengejang, sekarat dan kelabu, tetapi belum mati, namun antara mati dan hidup. Uhh.. senduku mulai nampak, berlahan-lahan merambah, menyeruak puas ke sekujur kanvasku, walaupun masih warna putih kanvas yang belum aku intervensi.

Sendu obyekku muncul, namun perlahan-lahan obyek senduku agak kabur, kadang jelas kadang menghilang, senduku kehilangan semangat, senduku kehilangan  merah, namun bukannya aku masih memiliki warna kuning yang dengan mesranya berkawin dengan putih. Dan masih banyak warna-warna lain yang ada dikoleksi warnaku yang belum berpartisipasi. Aku mohon obyek senduku jangan engkau tinggalkan aku dalam keterasingan kanvas putih ini, sungguh aku mohon jangan kau kabur, ehh jangan kau pergi tinggalkan aku bisa mati kesepian, aku bisa mati dalam kesenduan, aku mohooon….

Kuraih lagi warna merahku, kutumpahkan dengan penuh harap agar obyek senduku mau kembali, mau mencumbui kembali imajinasiku. Dengan penuh harap, dengan penuh mengiba aku oleskan, aku laburkan aku poleskan kembali sesuai alur yang tadi kulalui dengan penuh kehati-hatian, namun apa lacurnya ia semakin tenggelam dalam kekelaman hitam itu dalam kematian yang tak mati. Aduh aku semakin tersiksa, aku semakin sekarat aku putus asa. Tidak aku belum putus aku harus bangkit!!!!

Published in:  on November 30, 2007 at 3:52 am Leave a Comment

Pagar

Pagar dan kekuatan, keamanan, privasi, sembunyi, sendiri mengkooptasi dengan dunia luar, walau itu tidak mungkin. Kekuatan pagar menjadi simbol “memberi rasa aman”, namun belum tentu. Alangkah sombongnya sebuah pagar dengan pos pejagaan, dengan dijaga empat, lima orang berseragam satpam, tentara dan polisi, segerombolan anjing-anjing buldog dan  herder. Pagar  bergerbang tunjukkan kewibawaan, tunjukkan kesombongan, tunjukan ketidaktersentuhan, ini adalah wilayah terlarang bagi orang yang tak terijinkan, lagak-lagak penguasa keraton yang merasa seperti raja yang menguasai sebuah wilayah. 

Pagar mengekspresikan macam-macam rasa. Namun aku, engkau bahkan semua yang berumah pagar menginginkan keamanan, menunjukkan ketidakpercayaannya pada dunia luar, pada sistem keamanan, pada ketidakpastian tatanan masyarakat yang mampu melindungi warga.

Pagar yang kekar dengan kawat berduri menjadi penegas bahwa ini milikku, tidak boleh orang mengaku-aku, ini adalah batas-batas kewilayahanku, kau tak berhak menginjak, masuk, bermain-main bahkan membuang sampah disini tanpa ada ijin yang kumandatkan padamu.

Rumah berarsitektur megah, menghabiskan jutaan, bahkan milyaran, akhirnya tak masuk dalam jajaran kesombongan sepenuhnya, namun hanya kesombongan dengan ketakutan, kesombongan dengan berpagar rapat, kesombongan dengan kerapuhan, kesombongan yang tak beridentititas, kesombongan yang lepas dari masyarakatnya.

Pagar yang rapi dan seragam adalah titah dari tatanan masyarakat yang didaulat bahwa keseragaman itu indah, ekspresi keberbedaan  hanya mengotori sebuah harmoni keseragaman yang dipaksakan belaka, keragaman hanya pengkhianat yang harus dipandang dengan curiga.

Pagar yang rapi dan seragam di desa-desa adalah kesederhanaan warganya yang ingin tampil secara kolektif dalam tatanan masyarakatnya, tatanan instruksi dari PakRT-nya, atau instruksi langsung dari desa, bahkan warnapun harus seragam terserah penguasa. merah , kuning, putih bahkan hijau, asalkan seragam nanti akan menimbulkan keindahan, kebersamaan, senasib sepenanggungan, sejiwa, kerukunan, dan kegotong royongan. Lalu sebuah keluguan dan kepatuhan dari jiwa-jiwa yang tulus dan lugu.

Pagar sebagai penguatan hak milik, pembuktian dengan pengakuan akan kekuasaan dan kekayaan. Alangkah bertanya-tanyanya orang bila melihat tanah luas berpagar, “di Jakarta lagi, Siapa yang memiliki tanah ini?”, orang menaksir  harganya , lalu di kepala mereka tertulis angka-angka yang jumlah yang tak pernah ternyanakan oleh ia sebagai orang yang biasa, orang-orang yang awam.

Rumah tak berpagar. Namun gila juga orang-orang yang rumahnya tanpa dipasangi dengan pagar, ini akan mengundang maling untuk masuk, perampok akan leluasa menggasak semua milik kita, bahkan jiwa kita satu-satunya.

Pagar-pagar berjeruji, pagar berbeling adalah jamak di rumah-rumah besar, rumah-rumah berpunya. Beling-beling, jeruji-jeruji adalah bahasa kiasan atau lebih pada sarkasme yang terkatakan: dilarang masuk lewat pagar, jangan coba-coba menaiki pagar kalau tidak ingin terluka dan nyangkut dipagar.

Pagar lancip diujung-ujungnya mungkin senada pula dengan pagar berbeling dan pagar berjeruji, jangan masuk, jangan lihat-lihat, atau matamu akan tertusuk lancipnya pagar rumahku.

Pagar berperdu terasa asri, hijau bahkan menyegarkan pandangan, namun jangan tinggi-tinggi kalau tak ingin terkurung dalam dalam kesejukan kesendirian.

Rumah-rumah tak berpagar, lebih karena apa, saya tidak tahu, apakah karena kemiskinan yang tak mampu untuk membeli pagar, memasang pagar. Rumah-rumah tanpa pagar lebih berdesak-desakan, banyak orang-orang yang menghampiri demi sumbangan, menawarkan sesuatu pada kita, mungkin telah menjadi teror tiap harinya terhadap orang rumahan.

Rumah belum ada, tanahpun belum punya, apalagi pagar rumahnya. Pagar-pagar itu masih menancap dalam dada-dada  ini, mungkin akan kunyatakan bila aku punya uang nanti, atau cukup sebuah pagar dari pohon perdu yang nanti kupangkas tiap minggunya, atau hanya pagar ilalang, yang tak terurus.

Published in:  on November 19, 2007 at 8:31 am Comments (1)