Tersengat efek 10.000 jam

kesetrum

“Lakukanlah amal sesuai kesanggupan. Karena sesungguhnya Allah tidak akan bosan sehingga engkau menjadi bosan. Dan sesungguhnya amal yang paling Allah sukai ialah yang terus-menerus dikerjakan walaupun sedikit.” (HR Abu Dawud 1161)

Membaca hadist ini, mengingatkan kita betapa pentingnya sebuah komitmen dalam menjalankan aktifitas rutin yang kadang menemui satu titik jenuh. Ketika sampai disitu kita berhenti, atau bahkan terputus sama sekali. Akhirnya ibarat seorang menyulam, akhirnya sulamannya diurai kembali, sungguh kesia-siaan jadinya. (more…)

Published in:  on August 7, 2009 at 10:07 am Leave a Comment

Menuju Ramadhan, Menuju Kejernihan

LittleRiver

Aliran sungai yang membelah dataran tinggi menjadi dua bagian adalah keperkasaan. Aliran sungai tak hanya memisahkan dua wilayah negara, lalu menjadi pembatasnya. Aliran sungai menjadi sandaran terlahirnya sebuah peradaban Mesir kuno.

Aliran sungai jiwa kedinamisan, alasan dari sebuah tamsil yang mengena dari sebuah makna kejernihan, makna kebergerakan, makna aktivitas tanpa pantang berhenti. Kejernihan melahirkan ketenangan yang menjernihkan pula bagi yang lain, kejernihan adalah harapan akan segala kebaikan kan dapat dilahirkan.

Air pegunungan yang penuh kejernihan adalah komoditi yang bernilai tinggi bahkan sangat komersial ditengah pola hidup masyarakat yang serba berubah, serba praktis dan tak mau repot, serba massal. Begitu lakunya air dalam kemasan karena ia memenuhi kriteria dinamika perubahan masyarakat. Faktor yang menjadi daya jual bagi air dalam kemasan adalah kejernihan dan kemurnian. Kemudian terbersit satu pernyataan “betapa mahalnya kejernihan”. Masih banyakkah kejernihan di dunia ini atau berangsur-angsur langka sehingga menjadikannya sebagai sebuah komoditi yang laku untuk dijual secara massal.

Kejernihan memang mempunyai banyak penyelesaian. Apa yang dapat kita harapkan atas kekeruhan untuk membersihkan baju kita, yang ada adalah semakin kotor atau paling tidak kotorannya tak berkurang sama sekali.

Kejernihan menjadi pangkal untuk menenggelamkan kekeruhan, walau kadang tidak sepenuhnya.

Kejernihan adalah pangkal kesucian.

Namun kejernihan yang berpangkal pada sumber yang suci kadang terkeruhkan untuk sebuah perjalanan. Namun dengan perjalanan mampu menjernihkan kekeruhan.

Ramadhan perjalanan kejernihan.

Ramadhan ajang pensucian.

Semoga kita terlahir kembali pada kesucian

Dalam kejernihan.

Published in:  on July 31, 2009 at 8:21 am Leave a Comment

Kita adalah air

1wm_waterfall_016-2.jpg   

Air merupakan unsur kehidupan ini yang tak akan pernah terpisahkan dalam keseharian. Ia ada dan mengalir dalam tubuh kita. Ia ada dan mengalir  di sekitar kita. Kita tak akan terpisah dengannya karena sebagian besar diri kita adalah air.

Air mengalir dari pegunungan yang tinggi menjulang setelah dihempas dari langit dengan hujan yang menyuburkan. Terus mengalir, namun disimpan dan ditahan oleh akar tanaman, hingga menjadi gudang air yang akan kontinyu memasok kebutuhan kita dalam aliran sungai yang jernih dan sumber-sumber air di sumur-sumur kita.

Air  adalah semangat yang tak pernah pudar seberapa besar apapun yang merintangi untuk menuju lautan luas tujuannya. Tak terkendala oleh ikatan tanah dan akar tanaman, kuatnya bendungan dan kungkungan dalam dam-dam yang tangguh. Bahkan bila tidak disalurkan maka akan dijebol juga. Bahkan dalam keterkungkungan wadah yang tak mungkin dijebol, ia bisa merayap dalam kain yang terjulur ke dalamnya, ataupun langkah terakhir menguap menuju angkasa.

Tak tertahankan, tak terbentung, tak terkungkung.

Dalam tubuh kita adalah air, yang terus menggelegak tak pernah pantang mundur, bahkan mendobrak semua halangan, menghalau semua rintangan untuk menuju tujuan-tujuan hakiki kita.

warsito suwadi (sitosuwadi@yahoo.com)

Published in:  on February 19, 2008 at 3:26 am Leave a Comment

ketika matang itu tiba

  warsito suwadi (sitosuwadi@yahoo.com)

Proses pemasakan pada buah-buahan menjadi satu contoh sebuah kematangan akan selalu mengalami sebuah proses. Kita ambil contoh misalnya pisang. Dari yang berwarna hijau dengan warna buah yang putih setelah mengalami kematangan akan mengalami transformasi warna dan rasanya. Warna kulit menjadi kuning segar atau agak kuning tua, demikian buahnya menjadi manis.

Ketergesaan kadang memetik batunya. Apa yang kita nikmati bila kita tak sabar menunggu pisang hingga sampai matang. Walaupun sudah tua misalnya, pisang tersebut masih berasa hambar dan belum manis tentunya. Maka proses pemeraman yang benar atau kita tunggu sampai matang pohon adalah saat yang terbaik bagi kita untuk menikmati lezatnya buah pisang.

Proses dari pohon pisang yang kecil sampai berbuah hingga saat kita menunggu dengan sabar sampai buah tersebut tua dan matang.  Baik di peram ataupun dibiarkan matang dipohon ternyata adalah sebuah proses yang bisa dibilang lumayan lama. Kesabaran dan ketawakalan kita untuk memupuk dan menghalau segala hama dan penyakit yang menyerangnya, yang mampu mempersembahkan kenikmatan tersebut

Published in:  on February 7, 2008 at 2:44 am Leave a Comment

Berdiri di titik nol

  oleh warsito suwadi

kegagalan dan keberhasilan, sesuatu  yang mempunyai banyak sisi yang kemudian memojokkan dan mengerucut pada satu titik yaitu di titik sudut. kemudian yang terngiang adalah sebenarnya adakah perbedaan yang mendasar dari kedua kata tersebut. selain perlawanan dari sebuah thesis dan antithesis yang tak pernah mau bertemu dalam satu titik yang sama, keduanya saling bertolak belakang dan membentuk dua buah kutub yang berlawanan dan berseberangan. dan sudut itu gagal berbentuk.

kegagalan dan keberhasilan, menjadi sebuah keniscayaan dalam setiap perjalanan, perjuangan dan setiap ikhtiar yang digelar oleh makhluk yang bernama manusia. sebuah kegagalan kemudian dijadikan momok setiap orang yang berikhtiar, hanya sudut keberhasilan yang menjadi curahan keberhasilannya. kemudian menitiknolkan dermaga kegagalan yang kadang menganga dengan luasnya. sebuah ketakutan yang terus dibangun setiap langkahnya sehingga sangat berhati, sangat takutnya bahkan memaksa untuk tidak melangkah agar tidak menuai sebuah kegagalan walaupun keberhasilan tak dapat diraih oleh tangan.  kemudian hanya biasa memandang dunia ini di titik nol semata

Published in:  on January 30, 2008 at 10:37 am Leave a Comment

misi kehidupan sepohon pisang

banana_tree.jpg Pict: www.cepolina.com 
oleh:Warsito Suwadi ( sitosuwadi@yahoo.com)

 memaknai perjalanan dengan penuh arti, itu yang akan membuat orang dikayakan oleh perjalanan hidupnya. Pada hakekatnya hidup adalah menuju jalan kematian, yang tentunya disertai dengan kesabaran, perjuangan serta kegagalan. Namun semua perjalanan itu akhirnya bermuara pada satu pembenaran bahwa kesabaran, perjuangan serta kegagalan akan menjadi indah walaupun pada saat peristiwa itu dilalui akan ditemui kesukaran yang tak terhingga. Bagaimana beratnya  sebuah perjalanan mendaki gunung, namun bagi yang telah merasakan nikmatnya perjalanan itu akan diulang dan diulang bahkan perjalanan pendakian akan semakin dinaikkan tingkat kesulitannya.

Daratan yang tak rata, lautan yang menghampar, tumbuhan yang beraneka ragam bentuk dan warnanya, serta bermacam-macam tabiat binatang, yang keberadaan mereka adalah satu bentuk harmoni yang saling mengisi. Begitu gigihnya lembaga lingkungan hidup dalam pembelaannya terhadap kelestarian  lingkungan hidup, perlindungan terhadap satwa-satwa langka. Kita merasa dan sangat yakin bahwa dengan hilangnya spesies-spesies tersebut akan memunculkan disharmoni, adanya satu ketimpangan dalam alam ini.

Kegagalan, keberhasilan, kesabaran menjadi komponen-komponen pembentuk perjalanan kehidupan kita. Satu persatu mengisi, atau bahkan dua atau semuanya mengisi hidup kita.

Kita menjadi sebuah miniatur yang komplek dari sebuah makro sistem alam ini yang penuh dengan komponen-komponen penyangganya. Di dalam komponen makro sistem tersebut akan terjadi dinamika yang saling bersinergi.

Demikian juga keadaan tersebut terjadi pada setiap diri kita, hilangnya salah satu unsur keseimbangan dalam diri kita akan menimbulkan ketimpangan, ketidakseimbangan.

Lalu apakah kita gundah saat kita berada pada salah satu komponen dalam hidup kita saat kita sedang dilanda sebuah musibah yang dasyat, sehingga kita menyalahkan musibah itu, lalu yang paling ujung sekali, kita akan menyalahkan Dzat yang menimpakan musibah tersebut. Haruskah kita mengingkari satu komponen dari irama hidup kita, lalu kita musnahkan sama sekali, lalu akan masuk pada stadium baru yaitu kehilangan dari komponen kita, yang kemudian tentunya dalam ketidakseimbangan, disharmoni dalam kehidupan kita.

Demikian juga hewan yang sangat merugikan bagi manusia, misalnya lalat, apakah lalat tersebut sangat menjijikkan maka harus dimusnahkan dari dunia ini, tidak bisa kita bayangkan bagaimana jadinya jika lalat benar-benar dimusnahkan eksistensinya, maka yang akan terjadi adalah banyak sekali bangkai tikus, bangkai kucing, bangkai-bangkai yang terserak tanpa dikubur akan mengalami proses pembusukan yang lama, tanpa bantuan belatung-belatung dari lalat (menjijikkan tapi inilah alam, yang memiliki mekanisme yang sangat rapi).

Namun banyak juga yang ingin memusnahkan salah satu komponen dalam hidupnya, misalnya dengan mabuk, madat ataupun perbuatan-perbuatan lainnya yang selalu mempunyai alasan-alasan untuk menghilangkan kesedihan, kesuntukan, dan alasan-alasan yang lain.

Yang pasti yang harus selalu ada adalah seberapa kuat kita melalui sebuah track, yang menjadi jalur lari kita. Alangkah tidak enaknya apabila kita lari dengan meninggalkan medan track kita, lalu beralih pada track orang lain. Yang terjadi adalah perbenturan  dan bahkan kita akan tertinggal. Contoh pohon pisang adalah permisalan yang sangat baik bagi sebuah kegigihan. Betapa gigihnya pohon pisang dalam mengemban misi kehidupanya. Ia akan terus tumbuh walaupun kita memotong batangnya. Ia akan terus bertunas dan bertunas, selama kita tidak mematikannya, sampai pada titik dimana pohon pisang tersebut mempersembahkan buah walau dalam bentuk yang tidak optimal.

Published in:  on January 21, 2008 at 4:36 am Leave a Comment

Keikhlasan

ketika sebuah pergerakan adalah keniscayaan. Maka kemudian sarana-sarana pendukungnya menjadi sebuah keharusan sebagai kelengkapannya. selayaknya para pendaki gunung yang harus menempuh perjalanan yang tak landai, penuh rintangan dan tanjakan, maka sarana pendukung yang memadai menjadi penolongnya untuk dapat mencapai titik tujuan. 

Demikian juga ketika Rosul mengabarkan bahwa salah satu kelengkapan dakwah adalah infaq dari para pendukung dakwah, maka tanpa alasan yang dicari-cari seorang Abu Bakar menginfaqkan seluruh harta kekayaan. Tak kalah juga semangat Umar untuk berlomba dalam ranah kebaikan dan pahala ini. Beliau menginfaqkan separuh hartanya. sepenggal kemulian ini menjadi sebuah penggetar hati yang sangat melegenda, yang kemudian menjadi satu prototipe keikhlasan dan semangat berkorban yang tinggi nilainya. 

Kemudian terbetik dalam hati bahwa “mereka adalah sahabat-sahabat utama, yang tentunya sulit ditandingi, apalagi sekualitas kita saat ini”. ya itu adalah sah-sah saja, namun spirit yang terbawa mengalir deras dalam aliran keimanan kita.sebuah keikhlasan yang ditunjukkan oleh dua sahabat yang mulia, tentu bukan sebuah sikap yang sembrono. namun ada sesuatu kekuatan yang membentengi keduanya kenapa sampai bertindak demikian. di antara benteng pendukung itu adalah keimanan yang mendalam, dan kemudian kemampuan life skill yang handal. ketika dua komponen tersebut ada maka sikap dari dua sahabat mulia tersebut akan bermunculan ditengah kita.wallahualam bishowab

Published in:  on January 11, 2008 at 3:01 am Leave a Comment

Tak Jemu Ku Menunggu

Menunggu adalah satu pekerjaan yangn sangat menyebalkan bahkan menguras stamina. Menunggu membuat orang cepat marah, kesal dan tidak sabaran. Hati ini menjadi begitu sakit karena kekesalan yang menggunung. Apalagi menunggu sesuatu yang tidak tepat sesuai janji. Lebih-lebih menunggu yang tidak ada satu arah kepastian yang jelas.

Menunggu kadang menjadi sesuatu yang mengasyikkan, penuh harap, penuh ketidakpastian, penuh dengan kesetiaan. Menunggu dengan satu kesabaran dan keyakinan penuh bahwa sesuatu yang kita tunggu pasti akan datang.

Bagi yang telah terbiasa naik bis, pekerjaan menunggu merupakan pekerjaan hampir setiap hari baik pagi maupun petang. Pekerjaan menunggu menjadi pekerjaan yang menyita ketenangan hati apabila bisnya jarak jauh serta peminatnya banyak. Kadang dengan penantian yang memakan waktu yang lama ternyata bis telah penuh hingga kita tak punya kesempatan untuk terangkut, akibatnya kita harus menunggu lama lagi.

Menunggu adalah pekerjaan yang membosankan, sehingga banyak orang uring-uringan dan cepat naik pitam, teruskah kita diperbudak dari efek menunggu. Tentunya kita tidak mau. Akhirnya kita harus menyikapinya dengan sedikit kreatif dan menguntungkan.

Menunggu dalam penantian dan pengharapan akan selalu dialami oleh setiap orang,  mulai dari harus menantikan dan menunggu bis, surat panggilan kerja, menunggu teman yang telah berjanji di suatu tempat, bahkan menunggu kapan jodoh kita akan menghampiri dan menjelang. Semuanya menjadi saat-saat yang mengesalkan dan membuat putus asa bila kita tidak hati-hati mensikapinya.

Allah telah memberikan fenomena-fenomena kehidupan yang beragam, dari peredaran bumi mengelilingi matahari dalam susunan tata surya, demikian juga planet-planet yang lain, semuanya beredar dalam lintasannya, lintasan-lintasan tersebut berbeda satu dengan yang lainnya baik jarak tempuh dan tempat lintasan beredarnya. Tak dapat kita bayangkan apa yang akan terjadi bila garis edar bumi dan pluto misalnya sama baik waktu tempuhnya maupun tempatnya  maka sangat dimungkinkan terjadinya tabrakan. Demikian juga lintasan-lintasan penantian kita mempunyai jalur dan waktu tempuh yang berbeda-beda,  akankah kita merebut dan memaksakan lintasan yang bukan milik kita. Sedang bukan tidak mungkin dengan agak panjangnya waktu edar giliran kita, Allah akan memberikan janji terbaiknya buat kita.

Allah telah mengatur tata kehidupan ini sedemikian rapinya, hal-hal yang telah dijanjikan oleh Allah pasti akan ditunaikan sesuai dengan jatah yang kita miliki, mengenai waktu dan tempatnya Allah yang mengetahui pasti. Kesabaran adalah  salah satu wasilah dan senjata untuk kita agar  dapat menghadapi penungguan yang membosankan dan  menjadikan penantian yang menyenangkan. Kesabaran akan janji Allah, membuat kita tak menghabiskan energi hanya untuk menunggu semata, tetapi dengan kesabaran dan keyakinan terhadap janji Allah maka kita akan bisa menggunakan potensi dan tenaga untuk mengisi penantian dengan hal-hal yang bermanfaat, sehingga ketika hal yang kita tunggu telah datang, kita tidak canggung dan merasa berat.

Sesungguh sholat dan sabar adalah sebagai penolong kita. Ketika kita menunggu bis misalnya, kita bisa mengalihkan energi untuk membaca buku, ketika kita sedang menunggu panggilan kerja kita bisa belajar dan banyak membaca serta berlatih sehingga kemampuan kita semakin bertambah.

Sesungguhnya janji Allah itu pasti akan ditunaikan, maka dengan kesabaran kita jelang masa penuai janji tersebut dengan amal-amal yang produktif dan konstruktif. Wallahu’alam bishshowab.  (warsito suwadi)

Published in:  on December 28, 2007 at 2:59 am Leave a Comment

KECERDASAN

Kecerdasan menjadi sebuah kajian yang menarik, bahkan kajian ini tampaknya akan terus mengalami perkembangan, sesuai dengan sisi-sisi kebutuhan dan pemahaman manusia yang terus berkembang. Eksplorasi kecerdasan telah diawali dengan  menggunakan  parameter IQ (Intellegence Quotient ), EQ (Emotional Quotient), dan paling terakhir adalah SQ (Spiritual Quotient).  IQ adalah kemampuan manusia untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai alat bantu manusia dalam memenuhi kebutuhannya. EI (Emotional Intellegent) adalah kemampuan manusia untuk memanfaatkan emosinya guna mencapai  cita-cita yang tinggi.  SI (spiritual Intellegent) adalah kemampuan manusia  untuk membedakan hal-hal yang baik dari hal-hal yang buruk, yang positif dari yang negatif, haq dari yang batil, yang legal dari yang melanggar hukum sesuai atau berdasarkan ajaran-ajaran agama yang dianut manusia.

Kecerdasan manusia tentu sangat berkaitan erat dengan otak dan kalbu yang dimiliki manusia. Kebaikan dan keburukan yang dilahirkan manusia dalam tindakan nyata tentu awalnya terlahir dari komponen ini. Allah telah menganugerahkan manusia dengan kemampuan otak yang luar biasa.

Kemampuan otak yang luar biasa yang dimiliki oleh manusia, ternyata pemanfaatannya dalam kondisi normal masih sekitar 4%, sehingga kecerdasan-kecerdasan emosional atau bahkan kecerdasan spiritual tidak tertutup kemungkinan  penggunaannya akan sama sama yaitu cuma 4%.

Dengan potensi yang begitu besar sudah selayaknya manusia mendapat amanat yang berat sebagai khalifah yang harus  membuat kesejahteraan dan kerahmatan di bumi ini. Lalu bila kita melihat dan merasakan kondisi umat Islam saat ini jangan-jangan kita telah mendzolimi diri dan amanat ynag telah diberikan.

Kebodohan yang melanda khususnya pada diri saya maupun orang-orang yang terbodohkan kemungkinan besar bukanlah karena kesalahan sistem namun jangan-jangan karena kemalasan untuk menggali diri, memanfaatkan dan semakin mempertajamnya amanah terindah dan termahal yang diberikan Allah kepada kita.

Coba kita bayangkan alangkah dasyatnya kita bila mampu mengkaryakan potensi otak kita cukuplah 50 % saja. tentu tidak ada keraguan lagi bahwa beban tanggung jawab kita sebagai khalifah di bumi akan dapat ditanggung.

Sebagai umat Islam syarat-syarat sebagai pengembanan tugas suci ini sudah lengkap kiranya. Tentunya setiap mukmin telah memiliki kecerdasan spiritual yang lebih bila di banding orang ateis.  Untuk potensi IQ dapat digali dengan kekuatan Iqro, demikian juga untuk EI telah disediakan dalam Islam dalam keluasan akhlaqul karimah yang diajarkan.

Perspektif Islam mensikapi masalah kecerdasan, mungkin agak aneh karena kecerdasan dikaitkan dengan ingat mati. Lalu ada apa dibalik ini? Wallahualam bishshowab

Published in:  on December 17, 2007 at 6:24 am Leave a Comment