Budaya Instan

 

bumbuinstant

Kemandirian bangsa tak akan dapat tegak tanpa ditopang kemandirian individu, keluarga, masyarakat Negara itu sendiri. (more…)

Published in:  on April 24, 2009 at 6:44 am Leave a Comment

alternatif pangan yang kian sempit

gembili-indra-riawan1

Gembili (foto Indra Riawan)

 

Alhamdulillah kita telah swasembada pangan pada tahun 2009 ini, bahkan ada rencana untuk mengekspor beras. Sungguh ini suatu prestasi dari bangsa ini yang sebenarnya bukan yang sulit untuk diwujudkan di masa-masa yang lalu. (more…)

Published in:  on April 2, 2009 at 3:45 am Leave a Comment

Bila cinta ditautkan

 Jantungnya berpacu cepat, degupnya menggoncang tubuhnya yang semakin ringkih. Kepalanya terasa berputar-putar, perutnya diaduk-aduk, hingga sarapan tadi pagi keluar semua.

Tak biasanya ia mengalami hal seperti ini. Sangat berat sekali kondisi yang dialaminya. Kupu-kupu beterbangan di atas kepalanya, mengantarkan pada pingsan.

Rahmat sendiri di rumah kontrakan yang sempit. istrinya pergi ke pasar untuk belanja ala kadarnya. Selagi simpanan masih ada walau tinggal beberapa ribu rupiah, tetapi urusan makan kan tidak bisa ditinggalkan.

Hati Raida terasa kacau, bercampur bau ikan basah yang menyengat, terasa terngiang jelas di telinganya, “Ida segera pulang”.

Panggilan itu jelas menyengat telinga, itu jelas suara Mas Rahmat.

Segera ia beranjak, menyusuri lorong pasar yang pengap dan bau, bersama kecipak pekat alas pasar sehabis hujan mengguyur tadi malam.

Raida ucapkan salam dan mendorong pintu yang memang tidak dikunci. Menyeruaklah tangis yang ditahan sepanjang perjalanan.

 ”Mas Rahmat…..” pekiknya,

Raida mendapati sekujur tubuh Rahmat yang dingin, dengan nafas yang terdengar memburu.

“aku, harus tenang, aku harus sabar” teriak Raida pada diri sendiri.

Disambarnya minyak angin yang tergeletak di meja ia olesi di sekitar hidung, perut dan punggung, ia olesi lagi hidung, dengan minyak angin.

Dengan lembut Raida, membisiki telinga Rahmat, “Mas Rahmat, bangun, sadarlah, aku mendengar teriakanmu” sambil berdoa, sambil berharap cemas.

Mata yang tertutup rapat itu kemudian meleleh dengan butiran-butiran hangat air mata. Memecah rasa dingin yang telah membungkus tubuh Rahmat.

Meledaklah tangis Raida. Menangis, menggugu sebisanya, ia memeluk tubuh suaminya. Hanya senyum Rahmat menyambut tangis istrinya. “Aku tidak apa-apa sayang”, sambil dielus rambut sang istri.

Walau tampak rapuh kehidupan rumah tangga yang baru dibangun dari segi ekonomi, namun Raida dan Rahmat merasa kokoh akan kehidupan baru mereka.

Sejak awal Rahmat meminang Ida, sudah dijelaskan dan ditekankan bahwa ia tidak memiliki apa-apa, hanya sebuah tekad dan keimanannya bahwa Allah akan mencukupi kehidupannya, dan alhamdulillah Ida menerima pinangannya dengan ikhlas dan menerima Rahmat apa adanya.

Untuk menutupi kebutuhan sehari-hari memang amat berat bagi Rahmat dengan gaji yang pas-pasan, namun ia sangat terhibur dengan kesetian Ida untuk menuruti kemauannya tinggal di kontrakan yang sangat minim fasilitasnya karena memang murah harganya.

Mas, kalau ini memang keputusanmu aku ngikut aja.

Sebab Mas Rahmat sekarang yang menjadi pemimpinku.

Dimana dan kemanapun Mas Rahmat pergi InsyaAllah aku akan mendampingimu. Semoga ini menjadi tabungan amal kita yang semakin membuat kita dicintai Allah.

Rahmat meneteskan airmatanya, ia agak sungkan juga untuk menangis, jaga wibawa pikirnya.

Terimakasih banyak Ida.

Aku tak bisa menjanjikan banyak kepadamu,

namun aku akan berusaha banyak untuk rumah tangga kita sebatas yang aku bisa.

Sejak peristiwa pingsannya Rahmat hati kedua manusia ini semakin erat.

Mereka percaya bahwa inilah ujian dari Allah akan pernyataan keimanannya.

Walaupun mereka kekurangan namun tak pernah mereka melewatkan hari-hari mereka dengan perut yang kosong, sebab mereka yakin Allah akan mencukupi segala hajat mahluknya. Memang ada saja rejeki yang Allah alirkan pada mereka.

 (abisaif ap 26 06)

Published in:  on November 14, 2007 at 3:23 am Leave a Comment

Cintai Aku apa adanya

Hari-hari pernikahan yang dilalui adalah aliran perjuangan yang akan terus dilalui sampai sebuah muara menjemput. Tanpa adanya kesungguhan membuat ia hanyalah perjuangan kesia-siaan, penderitaan dan kebosanan yang membuat berhenti, mandeg, lalu mati dalam hidup, hidup dalam kematian.Memaknai perjalanan, membuatnya menjadi lebih berarti dari sekedar arti yang biasa-biasa saja, arti dengan kesungguhan adalah arti yang sebenarnya, yang memiliki keunikan-keunikan tersendiri dari setiap individunya. Meraih keunikan adalah kepuasan tersendiri yang tidak pasaran yang biasanya murah harganya, seperti produk pabrikan.

Lika-likunya membuat terus untuk berada didalamnya, tidak ada kata bosan, penuh dengan hal-hal yang baru. Penuh dengan perasaan yang hangat, tanpa ada satu kebohongan yang kadang muncul atau sebuah ketakutan-ketakutan bayangan masa depan yang menciutkan jiwa, penuh keyakinan, penuh keimanan dalam meniti perjalanan hidup ini.

Alhamdulillah, Allah mempersembahkan teman dalam tiap kehidupan ini, kemana selalu dalam kebersamaan hati, memperhatikan, menyemangati sehingga kebosanan itu berubah menjadi semangat, kesedihan itu menjadi keceriaan.

Akhirnya setelah perjalanan waktu harus dikatakan, “aku mencintaimu dengan apa adanya, aku mencitaimu dengan sepenuh yang aku punya”. Kata-kata itu mampu memangkas semua riak gelombang karena angin masa lalu, bayang-bayang yang tak pernah terwujud, kekecewaan-kekecewaan yang tak mendasar.

Hari -hari kedepan sudah tak perlu ada himpitan setengah-setengah dalam hati, ketika anak-anak lahir, ketika tangung-jawab makin bertambah, tak perlu lagi hati terobang-abing oleh masa lalu dan perasaan-perasaan, sebab bangunan yang telah berdiri butuh untuk dibenahi, dengan cat yang riang dan warna-warna yang hangat, ataupun pernak-pernik yang selalu menyegarkan ketika kita didera kelelahan.

Totalitas itu adalah cintanya Rasulullah terhadap kecintaannya Khodijah tersayang, totalitas itu adalah menerima apa adanya dan memberi apa yang dipunyai agar menjadi sempurnanya bangunan suci itu mengemban misinya, menjadikan madrasah bagi lahirnya tauladan-tauladan di tengah umat, berbiaknya generasi rabbani yang akan mengusung kejayaan peradaban yang mulia dimuka bumi. (abisaif 05)

Published in:  on November 13, 2007 at 4:21 am Leave a Comment