Riba dalam Pandangan Tiga Agama

Republika, Senin, 18 Februari 2008

Riba berarti menetapkan bunga/melebihkan jumlah pinjaman saat pengembalian berdasarkan persentase tertentu dari jumlah pinjaman pokok, yang dibebankan kepada peminjam. Riba secara bahasa bermakna: ziyadah (tambahan).

Riba dibagi menjadi dua yaitu riba fadl (riba jual beli) dan riba nasiah (riba hutang). Riba nasiah disebut juga riba jahiliyah. Riba fadl adalah tambahan pada salah satu dari dua alat tukar (barang) yang satu jenis. Riba nasiah adalah riba yang disebabkan oleh adanya penundaan (utang) yang terjadi pada harta riba. (more…)

Published in:  on February 19, 2008 at 3:42 am Leave a Comment

ekonomi ribawi dan bubble economic

  bubble.jpg 

warsito suwadi 

  Pengaruh ekonomi yang melambat dari perekonomian dunia yang salah satunya disebabkan oleh melambatnya kalau tidak mau disebut resesi perekonomian Amerika. Mau tidak mau kita semakin dihadapkan pada kenyataan bahwa perekonomian ribawi akan menuju pada kekacauan ekonomi. Banyak bukti tak terbantahkan telah tersodor di depan mata kita. Kasus  subprime mortgage hanya satu bukti kecil yang mengemuka bahwa perekonomian ribawi berdiri untuk membangun perekonomian bubble yang pasti akan meletus suatu saat.

Akibat letusan bubble economic di financial akan semakin meruntuhkan sektor riil. Daya beli semakin rendah sedang harga membumbung tinggi, ditambah lagi harga minyak bumi yang meroket, semakin menambah kesengsaraan, sudah jatuh ketimpa tangga lagi.

Published in:  on January 24, 2008 at 7:01 am Leave a Comment

Rezim Produktifitas

 oleh : Warsito Suwadi

Produktivitas menjadi bahasan yang sangat menarik perhatian dalam sejarah peradaban manusia. Semenjak revolusi industri, produktivitas menjadi penting. Semuanya diukur dengan parameter produktivitas, sampai-sampai menanggalkan sisi-sisi kemanusiaan. Ilmu-ilmu manajemen berkembang pesat dalam penelaahnya terhadap pengelolaan SDM sehingga mampu mempunyai produktivitas yang tinggi.

Pernahkan kita makan ayam pedaging, ternyata ayam-ayam pedaging itu demi produktivitas dalam waktu 29 sampai 32 harus harus menjadi besar, dan siap untuk dilepas ke pasaran, bahkan demi produktivitas ayam-ayam tersebut tidak boleh berbulu banyak-banyak dimana diciptakan suatu kondisi agar ayam-ayam tersebut tetap hangat sehingga tidak memerlukan lagi perlindungan bulu, dan yang lebih kasihan lagi ayam pedaging  harus melahap hormon-hormon pertumbuhan agar cepat besar.

Pernahkan kita makan telur ayam negeri, bagaimana ayam-ayam petelur telah berubah fungsinya sebagai  mesin-mesin telur dengan cap ayam leghorn, yang harus menghasilkan telur-telur tiap harinya, mesin-mesin telur cap ayam ini, dikungkung dalam kandang yang sempit, dan diberi ransum yang bergizi, agar ia menghasilkan telur yang produktif. Semua itu berdiri diatas rezim produktivitas.

Atas nama produktivitas pula pupuk-pupuk diproduksi, obat-obatan dibuat, mesin pengolah pertanian didirikan. Dengan nama produktivitas padi-padi harus berumur pendek, cukup 3 bulan harus dapat dipanen.

 Bagaimana revolusi industri telah mengubah paradigma manusia dan wajah dunia. Revolusi industri telah mengubah paradigma manusia terhadap arti produktivitas.

Kemajuan yang pesat dalam perekonomian negara-negara Eropa salah satu faktor pendukungnya adalah mesin-mesin industri mereka, akhirnya  pola pembangunan yang bersendikan industri menjadi trend  terutama di negara-negara dunia ketiga untuk mencapai kemajuan, tak urung negara kitapun mengikutinya, namun kita ternyata gagal, bukannya menuju era tinggal landas tetapi terpuruk pada era tinggal kandas.

Demikian seiring dengan majunya teknologi, laju produktivitas semakin kencang. Apalagi dengan ditopang oleh teknologi informasi yang semakin canggih.

Dengan kemajuan penunjang prasarana dan sarana yang ada pada manusia maka, produktivitas yang dihasilkan harus berlipat pula.

Menarik untuk disikapi, ternyata sebuah produktivitas akan menghasilkan perubahan-perubahan yang monumental dalam sejarah manusia. Contoh menarik yang mungkin sudah sering sekali kita dengarkan adalah bangsa Jepang, dengan etos produktivitasnya yang tinggi ia mampu bangkit mensejajarkan diri dengan negara-negara maju lainnya, setelah mengalami kehancuran karena kalah perang. Bangsa Jepang menjadi ikon perekonomian  dunia di samping Amerika Serikat.

Apakah produktivitas hanya monopoli bangsa-bangsa yang maju secara perekonomian dan teknologi sekarang ini, jawabannya adalah tidak, produktivitas ternyata milik Islam semata-mata. Namun kenapa sekarang kita berkubang dalam terpurukan?.

Untuk lebih jauh lagi  marilah kita melihat sejarah yang harusnya menjadi panutan kita, pada siroh nabawi, siroh para sahabat, serta ulama-ulama salaf.  Kemudian yang jadi pertanyaan adalah sejauh mana kita telah mengetahui, mengenal atau bahkan berinteraksi dengan mereka. Karena seperti slogan-slogan para fans musik seperti “punk never die”, atau “rock never die”, haruskah kita kalah semangat dengan mereka sedangkan sebagaimana kita mahfum bahwa  siroh -siroh rujukan kitapun tak akan pernah usang dan lekang oleh perjalanan waktu, dan bahkan Allah sendiri yang akan menjaga orisinalitas dari Al Qur’an sebagai rujukan utama kita.

Produktivitas para teladan kita sangat luar biasa sekali, bagaimana Rosul tercinta kita, dalam melakukan produktivitas ibadahnya, sampai bengkak kakinya, demikian juga bagaimana  para sahabat yang dalam tiga hari mampu mengkhatamkan Al Qur’an, bahkan bisa lebih. Bagaimana Al Qur’an telah meminta kita untuk bekerja dan bekerja, dan jangan sekali-sekali puas dengan hasil yang kita terima, karena semata-mata hasil itu hanya Allah, Rosul dan orang-orang yang beriman yang menentukan.  Atas nama produktivitas pula Rasullullah telah menuntaskan Al Islam dalam waktu 23 tahun.

Produktivitas seharusnya bukan produktivitas yang kasar, merusak yang akhirnya melahirkan budaya-budaya yang negatif sebagai efek sampingnya, seperti kapitalisme, yang telah menghilangkan sisi-sisi kemanusian, sehingga bangunan ini akan  menjadi bentuk peradaban yang tidak rahmatan lil alamin, dan bahkan menjadi peradaban yang menghancurkan alam ini, bagaimana ozon makin tipis, persediaan air tanah yang semakin tipis digerogoti oleh air laut, sungai-sungai yang tidak menghidupkan lagi ikan-ikan, dan yang paling akhir ini adalah pemanasan global, semua itu disebabkan oleh produktivitas dalam nafsu kerakusan.

Produktivitas yang harus kita emban adalah produktivitas yang rahmatan lil alamin, dimana kita mampu menggenjot produktivitas ayam petelur tanpa harus menghilangkan sisi fitrah kehewanan ayam, bagaimana kita mampu meningkatkan produktivitas ayam pedaging tanpa menyakitinya. Bagaimana kita menjadi workaholic tanpa menjadi robot.

Wallahu’allam bishowab

Published in:  on December 10, 2007 at 9:05 am Leave a Comment

Menjual Ekonomi Syariah

  Ekonomi syariah diyakini oleh para pengusungnya adalah jalan terbaik, bukan hanya sekedar alternatif semata atas sistem ekonomi yang sekarang ada atau yang pernah ada. Ekonomi syariah memberikan solusi yang tidak diberikan oleh sistem kapitalis maupun komunis. Sehingga ekonomi syariah menjadi sangat layak jual dan siap menggantikan sistem-sistem yang telah ada.Bila kita melihat kondisi ada saat ini, terutama di Indonesia, ada sedikit kegamangan di samping optimisme yang tinggi. Kegamangan itu terlihat sekali dengan perkembangan bank syariah yang tidak ada pentrasi yang optimal terhadap perbankan konvensional bila dilihat dari market share yang masih kecil, yaitu masih kurang dari angka 2 % per oktober 2007.  Sedangkan berdasarkan blue print BI angka 5 persen adalah market share yang harus digenggam perbankan syariah di tahun 2008. kegamangan ini makin terlihat nyata saat MUI mengeluarkan fatwa bahwa bunga bank adalah riba, sehingga analogi yang terjadi adalah dengan bunga bank yang riba tersebut maka menabung di bank konvensional dan menerima bunga maka telah memakan barang haram. Namun pada tataran prakteknya rush pada bank konvensional tidak terjadi, alih-alih ada pelonjakan market share di bank syariah masih belum terjadi.

Contoh  di bank syariah nyata kiranya untuk menjadi alat, guna melihat seberapa besar ekonomi syariah telah menemukan bentuk nyata dalam kehidupan sehari hari. Walaupun masih dini untuk mengatakan bahwa ekonomi syariah tidak berkembang. Namun dengan keyakinan yang dalam dan semangat yang tinggi hal ini harus dimaknai sebagai tantangan dalam membangun dan menemukan bentuk ekonomi syariah dalam bentuknya yang powerful dan rahmatan lil alamin.

Dalam mengimplementasikan ekonomi syariah, sebenarnya ada banyak contoh-contoh praktek walaupun tak sama persis. Contoh tersebut adalah bagaimana gerilya Grameen bank yang dimotori oleh M. Yunus yang sekarang telah mendunia, yang diakui mampu mengentaskan kemiskinan, terlepas dari pro kontra disekitarnya. Dan tentunya adalah contoh yang tak lekang oleh jaman yaitu perjuangan Nabi Muhammad dalam mengemban dan menegakkan syiar Islam di muka bumi ini.

Potensi perekonomian syariah untuk membangkitkan perekonomian umat adalah berbanding lurus dengan jumlah penganutnya, bila kita melihat Indonesia tentu potensinya adalah terbesar di dunia dari segi sumberdaya manusia dan alam. Hal ini akan menjadi tantangan para cerdik pandai yang ada di dalamnya untuk menyebarkan nilai ekonomi syariah ke seluruh kalangan sehingga sistem ekonomi syariah tidak menjadi macan di kertas saja, namun menjadi satu kekuatan yang nyata dan dengan contoh yang nyata pula.

Menjual ekonomi syariah perlu difahami, dilakukan dan dimaknai sebagai upaya dakwah. Dimana di dalamnya dilingkupi dengan perjuangan yang tulus dan suci sebagai bagian integral dakwah Islam. Mendakwahkan ekonomi syariah tak hanya butuh teori-teori ekonomi dan moral-moral ekonomi syariah semata, namun yang lebih penting adalah perekonomian syariah secara nyata memberi solusi atas keterpurukan ekonomi masyarakat dan bangsa ini.

Sebagaimana perjuangan Nabi Muhammad yang turun langsung dan memberi dampak yang nyata. Maka perjuangan pengusung ekonomi syariah harus demikian pula adanya.

Upaya untuk menjual ekonomi syariah perlu disertai dengan langkah-langkah yang memberikan dampak perbaikan atas kerusakan yang ditimbulkan oleh sistem kapitalis. Keberfihakan terhadap kaum miskin yang jelas sebagai subyek ekonomi terbesar dan menjadi obyek eksploitasi terbesar dari sistem kapitalis, harus diangkat martabatnya menjadi subyek ekonomi itu sendiri.

Untuk menjual ekonomi syariah adalah dengan membumi seperti yang dicontohkan  Nabi Muhammad, ataupun contoh saat ini dengan gerilya Muhammad Yunus dengan  Grameen Banknya.

(Wallahu’alam bishowab) warsito suwadi  on sitosuwadi@yahoo.com

Published in:  on December 6, 2007 at 4:47 am Leave a Comment

Dinar dan Dirham akankah Jadi Alternatif ?

Kuatnya pengaruh dan dominasi uang dollar terhadap perekonomian kita khususnya dan negara-negara muslim umumnya telah menggerakkan sebagian orang untuk mencari alternatif lain. Dinar dan dirham yang pernah digunakan, bahkan pada jaman nabi, dilihat sebagai alternatif yang sangat baik. Dalam sejarah penggunaan uang dinar dan dirham pernah berjaya, namun kemudian digantikan oleh uang kertas yang sangat rentan terhadap inflasi yang mengggerogoti nilai uang dari waktu ke waktu.

Dalam perkembangannya uang telah mengalami perubahan fungsinya dan semakin jauh dari nilai keadilan dalam perekonomian. Pergeseran fungsi itu adalah uang menjadi satu komoditi dan motif tambahan yaitu spekulasi karena adanya perubahan nilai uang sewaktu-waktu. Perlu kemudian untuk mendudukkan kembali uang pada fungsi sebenarnya, yaitu uang sebagai alat tukar (medium of exchange), satuan hitung (unit of account). Demikian juga dalam motif orang memegang uang adalah untuk jaga-jaga (precautionary motive), transaksi (transaction motive), dan tidak untuk spekulatif (speculative motive).

Kemauan kuat untuk kembali mengggunakan dinar dan dirham perlu disambut dengan baik, dan semoga ini bergulir dan menjadi bola salju sehingga kemudian menjadi perhatian kita semua. Namun yang menjadi perhatian adalah penggunaan mata uang saat ini tak dapat dilepaskan pada ekonomi  sebagai bagian yang tidak dapat berdiri sendiri, dan juga faktor-faktor pendukung serta faktor-faktor yang mengancam. Sebab bila masalah hanya diurai dan tangani secara terpisah tidak akan menemukan jalan penyelesaian yang diharapkan.

Penggunaan mata uang dinar dan dirham tidak dapat berlepas dari pemahaman dan keyakinan dari masyarakat terhadap fungsi uang yang seharusnya, dan bagaimana Islam mendudukkan uang dalam kemaslahatan dan muamalah. Harta dalam Islam di bagi menjadi dua yaitu modal sebagai barang pribadi dan uang sebagai barang masyarakat. juga uang diposisikan sebagai alat tukar semata bukan berubah komoditi seperti saat ini. Dengan demikian tidak akan terjadi penimbunan uang atau penyimpanan uang yang berdampak berkurangnya jumlah uang sebagai sarana pertukaran dalam perekonomian, yang tentunya bila kita ibaratkan penimbunan uang akan membuat lesu darah perekonomian.

Uang sebagai alat pertukaran dalam perekonomian mempunyai dampak berupa inflasi dan deflasi yang disebabkan oleh jumlah uang beredar dan ketersediaan komoditi yang dipertukarkan, ketika jumlah uang beredar kurang dari permintaan pasar menyebabkan penurunan harga, demikian juga sebaliknya dengan berlebihnya jumlah uang beredar akan menyebabkan harga akan naik. Kondisi ini akan berkisar pada titik keseimbangan dimana terjadi bila permintaan dan penawaran dalam jumlah yang pas, sehingga tercipta kestabilan harga, permintaan dan penawaran uang.

Kestabilan nilai mata uang telah menjadi ide dasar menggunakan dinar dan dirham disamping juga keprihatinan terhadap dominasi nilai mata uang dolar dalam perekonomian dunia, dimana akibatnya sangat terasa dengan inflasi rupiah yang tinggi terhadap dolar, sehingga memukul perekonomian Indonesia yang tak mempunyai fundamental yang kuat dengan ditandainya jumlah devisa yang sangat tipis saat itu. Mungkin kondisi kita akan lain bila kita mempunyai cadangan yang cukup berupa devisa ataupun dalam bentuk emas, untuk mendukung kinerja rupiah sehingga tidak habis-habisan dipermainkan spekulan.

Dinar dan dirham dalam sejarah penggunaannya dikenal mempunyai kestabilan yang tinggi, disini bisa kita lihat dengan perbandingan di masa Rasulullah 1: 10 nilai dinar terhadap dirham dalam perjalanan waktu mengalami inflasi sebesar 1: 15 di masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz dalam kurun 4 abad. Inilah yang dinamakan inflasi alamiah sehingga nilainya kecil dari tahun ke tahun.

Ide penerapan dinar dan dirham yang telah dirintis tentu mendapat dukungan dan penolakan dengan segala argumentasi yang dikemukan. Namun dengan segala penentangan dan penerimaan tersebut harus senantiasa diperhatikan kembali kepada hakiki sebenarnya fungsi uang itu dalam kehidupan muamalah, sehingga tidak terjebak pada situasi dimana usaha-usaha yang telah dilakukan tidak maksimal bahkan sia-sia belaka. Pemberlakuan dinar dirham adalah ide yang sangat menarik dan baik sebagai alternatif terhadap kondisi perekonomian yang dikendali oleh dolar dalam perekonomian dunia. Kestabilan dinar dan dirham karena nilai yang dikandungnya adalah nilai intrinsik yang dimilikinya, dimana 1 dinar adalah dinar itu sendiri, bukan misalnya seribu rupiah adalah hanya selembar kertas yang diberikan nilai seribu, kemudian dinyatakan sebagai seribu rupiah sebagai alat pembayaran yang sah oleh negara. Nilai seribu rupiah tidak akan bernilai seribu lagi diluar wilayah negara yang menetapkan atau wilayah yang mengakui dan mempercayai kertas tersebut bernilai seribu rupiah. Kondisi ini berlainan dengan dinar yang akan diterima di mana saja karena satu dinar adalah satu dinar tanpa butuh pengesahan dan pengakuan fihak manapun.

Disinilah kemudian dinar dan dirham mempunyai fungsi yang sangat baik karena tidak mengenal negara atau bersifat global, sebagaimana uang kertas yang sangat rentan terhadap kondisi negara yang mengeluarkannya. Dinar dan dirham menjadi entitas tersendiri dalam ekonomi, yang akan mengalami dan mempunyai karakteristik yang unik sebagaimana suatu mata uang dan dimana akan mengalami kondisi jamaknya mata uang seperti inflasi ataupun deflasi.

Kondisi ideal yang telah dibuktikan dan diinginkan kembali adalah sebuah keinginan yang sangat rasional di tengah kondisi saat ini, kondisi yang membutuhkan suatu pra-syarat untuk dapat menumbuhkan tata perekonomian yang adil, yang tidak didiktekan oleh negara tertentu karena pengaruh yang dimilikinya, yaitu politik maupun fundamental ekonominya. Kondisi ideal tersebut adalah perlu adanya kekuatan entahlah apa namanya yang membuat mata uang adalah mata uang yang mempunyai fungsi sebagai alat pertukaran, bukan sebagai komoditi yang dapat diperjualbelikan. Kemudian tidak adanya penimbunan uang yang berakibat pada jumlah uang yang berkurang. Kondisi ideal itu juga berupa ketersediaan mata uang dalam jumlah equibilirium. Namun kondisi ini tentu tidak mudah.

Ide untuk menggunakan mata uang dinar dan dirham pada kalangan terbatas kemudian diharapkan dan meluas kebanyak kalangan perlu untuk dikritisi, yaitu dengan hukum Gresham “Bad money will drive out good money”, dimana mempunyai implikasi bahwa peredaran mata uang dinar dan dirham tidak dapat berjalan seperti yang diinginkan, karena dinar dan dirham sebagai good money akan cenderung disimpan (hoarding), daripada digunakan untuk melakukan transaksi. Karena perlakuan ini kemudian dinar dan dirham akan lebih menjadi uang komoditi yang sebenarnya yaitu ia tidak sebagai mata uang namun kemudian berfungsi hanya sebagai dinar emas, untuk disimpan, atau yang lebih agak liquid digunakan untuk ONH, mas kawin atau fungsi-fungsi lain yang tidak mempunyai nilai strategis dalam perekonomian.

Ide untuk membangkitkan lagi adalah sebuah langkah yang harus didukung oleh semua fihak, terutama bagi mereka yang memegang peranan dalam perekonomian, sehingga prinsip-prinsip keadilan, kestabilan dalam perekonomian dapat terwujud, dengan semangat menjunjung Islam sebagai agama rahmat bagi semua umat manusia. Inilah kemudian semangat ini muncul untuk lebih menunjukkan bahwa sistem moneter Islam lebih menjunjung keadilan walaupun dinar dan dirham itu sendiri bukan sebuah mata uang yang lahir dari peradaban Islam tapi spirit keadilannya itulah yang kemudian diperjuangkan karena ia tidak mengenal lagi bangsa, tapi ia menempati fungsi sebenarnya sebagai alam pertukaran, sebagai alat penilai.

Kondisi perekonomian global sekarang ditandai dengan naiknya harga minyak mentah dunia yang berada pada level 100 dolar dan dalam perdagangan Amerika mengalami defisit kembar yaitu pembayaran dan anggaran berjalan. Memberikan satu bukti yang nyata bahwa mata uang yang digunakan sebagai devisa ini tak mampu berperan sebagai mata uang yang berdiri sendiri, namun keberadaan dan keberdayaannya tergantung pada kondisi dari negara yang mengeluarkannya. Bila kekuatan politik dan ekonomi negara tersebut kuat maka semakin kuat dan stabil nilainya, demikian kondisi sebaliknya.

Terlepas pada setuju ataupun tidak setuju dengan terhadap mata uang dinar dan dirham untuk diaktifkan kembali, kita harus mencermati dengan melihat realitas dan ju juga kondisi obyektif maupun normatif sesuai dengan Islam dalam mengatur masalah perekonomian dikaitkan dengan ilmu dan kajian ekonomi yang begitu pesat melesat dengan kondisi perekonomian Islam yang sedang berkembang saat ini. Perlu digali ilmu-ilmu tersebut dan kemudian ada satu usaha yag keras untuk menjadikannya tidak sebagai alternatif belaka namun sebagai pilihan utama untuk mengatasi kondisi perekonomian umat Islam yang diakui atau tidak masih terbelakang dang menjadi bulan-bulanan negara-negara barat yang jelas-jelas tidak menyenangi Islam. Dengan kekuatan dan kekuasaan mereka secara halus maupun kasar sekalipun, agar negara-negara Islam untuk selalu dalam cengkramannya. Keberdayaan umat salah satunya adalah dengan ekonomi karena Rasulullah  jauh-jauh hari telah memberi satu peringatan bahwa kondisi umat yang berada dalam kemiskinan akan lebih cenderung pada kekafiran, hal ini sudah terbukti. Maka mulailah dengan segala yang bisa kita lalukan dengan upaya-upaya yang keras untuk membangkitkan dan menunjukan bahwa Islam adalah pemberi solusi permasalahan dan juga sebagai agama yang rahmatan lil alamin.

ws 

Published in:  on November 9, 2007 at 9:15 am Leave a Comment