Menuju Ramadhan, Menuju Kejernihan

LittleRiver

Aliran sungai yang membelah dataran tinggi menjadi dua bagian adalah keperkasaan. Aliran sungai tak hanya memisahkan dua wilayah negara, lalu menjadi pembatasnya. Aliran sungai menjadi sandaran terlahirnya sebuah peradaban Mesir kuno.

Aliran sungai jiwa kedinamisan, alasan dari sebuah tamsil yang mengena dari sebuah makna kejernihan, makna kebergerakan, makna aktivitas tanpa pantang berhenti. Kejernihan melahirkan ketenangan yang menjernihkan pula bagi yang lain, kejernihan adalah harapan akan segala kebaikan kan dapat dilahirkan.

Air pegunungan yang penuh kejernihan adalah komoditi yang bernilai tinggi bahkan sangat komersial ditengah pola hidup masyarakat yang serba berubah, serba praktis dan tak mau repot, serba massal. Begitu lakunya air dalam kemasan karena ia memenuhi kriteria dinamika perubahan masyarakat. Faktor yang menjadi daya jual bagi air dalam kemasan adalah kejernihan dan kemurnian. Kemudian terbersit satu pernyataan “betapa mahalnya kejernihan”. Masih banyakkah kejernihan di dunia ini atau berangsur-angsur langka sehingga menjadikannya sebagai sebuah komoditi yang laku untuk dijual secara massal.

Kejernihan memang mempunyai banyak penyelesaian. Apa yang dapat kita harapkan atas kekeruhan untuk membersihkan baju kita, yang ada adalah semakin kotor atau paling tidak kotorannya tak berkurang sama sekali.

Kejernihan menjadi pangkal untuk menenggelamkan kekeruhan, walau kadang tidak sepenuhnya.

Kejernihan adalah pangkal kesucian.

Namun kejernihan yang berpangkal pada sumber yang suci kadang terkeruhkan untuk sebuah perjalanan. Namun dengan perjalanan mampu menjernihkan kekeruhan.

Ramadhan perjalanan kejernihan.

Ramadhan ajang pensucian.

Semoga kita terlahir kembali pada kesucian

Dalam kejernihan.

Published in:  on July 31, 2009 at 8:21 am Leave a Comment