
Kemandirian bangsa tak akan dapat tegak tanpa ditopang kemandirian individu, keluarga, masyarakat Negara itu sendiri. Kemandirian bukan berarti tidak ada saling ketergantungan, kemandirian-kemandirian yang ada akan membentuk sinergi ketergantungan yang harmonis sehingga menghasilkan kinerja saling mengisi dari tiap ceruk kekurangan yang ada.
Budaya instan yang demikian pesat merasuk dalam sendi kehidupan kita saat ini telah meluruhkan kemandirian dan kreativitas kita. Bagaimana tidak dari makanan, minuman, bahkan pengetahuan dibuat praktis instan, sehingga hal yang tidak masuk akal sekalipun karena praktis dan cepat akan diikuti oleh banyak orang. Cara instan cepat kaya misalnya, seminar-seminar atau buku-buku yang mengulas hal-hal instan ini akan cepat laku dan laris manis. Terus kemudian apa yang salah dengan kondisi ini?
Budaya instant sebenarnya tidak terjadi secara instant. Budaya ini tentu telah melalui waktu yang panjang sampai pada kondisi kita tidak merasa ada yang salah dengan kondisi ini. Sehingga kemudian dengan budaya instan yang diuntungkan adalah para pemilik modal yang bisa memproduksi produk-produk instan secara massal, muaranya sudah jelas yang gemuk adalah mereka yang punya pabrik yang mampu memproduksi produk instan. Kita kemudian membeli, tentu dengan harga yang tidak murah lagi, sebab yang instan tentu harganya tidak semurah seperti produk yang mesti sedikit repot untuk mengolahnya atau mendapatkannya.
Mindset instan, praktis telah sedemikian kuatnya mengikat pola fikir kita, sehingga kita malas untuk mau melihat potensi yang ada di lingkungan sekitar bahkan potensi diri kita sendiri. Contoh kecil saja begitu instannya kita, ketika tangan kita tergores pisau dapur, yang terjadi adalah kepanikan yang luar biasa, kemudian mencari obat luka, obat merah yang kita beli beberapa waktu yang lalu, untuk mengobati luka tersebut. Sebenarnya ketika kita terluka lingkungan kita telah menyediakan obat gratis, murah, mudah, tidak kedaluwarsa, cukup ambil daun lidah buaya di pekarangan kita, potek dan olesi dengan lendir dari daun lidah buaya. Reaksinya cepat menghentikan pendarahan, serta dingin yang mampu meredam rasa perih. Inilah kearifan yang mungkin belum kita ketahui. Ini hanya contoh kecil saja.
Warsito Suwadi