Mudik, Budaya Rantau dan Kemajuan Bangsa

***

Gambar dari Antara

Gambar dari Antara

 

Satu peristiwa dalam setiap tahun selalu dihiasi dengan  kemacetan jalur pantura maupun selatan, hiruk pikuk di tempat-tempat pemberangkatan kereta, kapal, bus antar kota. Tuslah yang tidak ditepati dan ditaati, calo-calo tiket yang kadang meresakkan dan bikin emosi. Peristiwa itu begitu akrab bagi kalangan perantau bahkan hampir menjadi budaya dan ritual yang pelaksanaan yang wajib bagi sebagaian orang. Satu peristiwa tersebut adalah “ acara pulang kampung, “mudik””.

 

 

 

 Mudik sangat menarik ditengah kultur masyarakat kita yang masih kuat ikatan kekeluargaannya, demikian dengan trend kaum urban yang ingin menunjukkan kesuksesannya kepada masyarakatnya. Kesuksesan  yang telah berbumbu dan terlihat secara vulgar telah mengundang selera bagi kaum desa yang terpapakan dan ingin menikmati pula manisnya tanah perantauan atau sekadar mencari pengalaman semata. Pasca acara mudik biasanya diikuti pula urbanisasi yang cukup signifikan jumlahnya untuk mengadu peruntungan ditanah perantauan. Daya tampung kota yang semakin tidak memadai, akhirnya banyak menyebabkan permasalahan-permasalahan yang semakin membebani penguasa tanah perantauan.

 

 

Mudik menjadi momen yang sangat tepat sekali bagi kaum perantau yang telah bekerja keras  untuk berkangen ria dengan tanah kelahirannya yang begitu lekat dibenak mereka, disana ia meluapkan semua nostalgia waktu kecilnya, serasa mempunyai nilai lebih dan tak tergantikan. Budaya mudik menjadi ajang reuni, temu kangen, temu rembug, temu iuran untuk membangun masjid atau jalan bahkan temu pamer kesuksesan mungkin.

    

****

 

Apabila telah ditunaikan sholat maka bersebaranlah ke muka bumi untuk mencari karunia Allah. Itu yang tersurat dan mungkin yang menjadi spirit para perantau, untuk mengais dan mengumpulkan sesuatu yang berguna untuk perbaikan keadaan hidupnya. Merantau dalam salah satu sisi positifnya mempunyai dampak pembaruan bahkan merombak tata nilai suatu tempat yang sudah mapan sekalipun. Bagaimana seorang Imam Bonjol telah melakukan koreksi terhadap tata nilai masyarakatnya setelah merantau ke Tanah suci.

 

 

Merantau sebenarnya mempunyai sebuah benang merah yang sangat kuat bagi perkembangan dan kekuatan sebuah bangsa. Masyarakat Cina yang terusir dahulunya, karena sebuah pertentangan, akhirnya dengan keuletan mereka ditempat perantauan mampu membangun sebuah masyarakat perantauan yang mempunyai kekuatan yang signifikan terutama dalam ekonominya. Mereka bahkan menjadi kuat di negara-negara yang yang dirantauinya, bahkan mereka tersebar dibanyak penjuru dunia. semisal di negara-negara asia tenggara, peran mereka  menjadi soko guru perekonomian. Bila kita tilik hiruk pikuknya konglomerasi di Indonesia yang berkolusi dengan kekuasaan orde baru, ternyata kaum perantau inilah tokoh utamanya. Apakah kaum overseas ini lupa dengan  akar mereka yaitu cina, ternyata tidak. Kaum perantauan cina tersebut melakukan mudik juga, bahkan dengan spirit mudiknya dana investasi para perantau mengucur ke kampung halaman, sehingga apa yang terjadi sekarang adalah cina menjadi satu kekuatan ekonomi baru dunia, setelah meledaknya Bubble ekonomi Amerika maupun semakin rentannya ekonomi Jepang saat ini.

 

Mari kembangkan semangat merantau dikalangan kita, semakin giat dan jauh jaraknya akan semakin luas dan banyak jaringan yang kita miliki.

Wallahu’alam bishowab.

Warsito Suwadi

About these ads

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: