Berdiri di titik nol

  oleh warsito suwadi

kegagalan dan keberhasilan, sesuatu  yang mempunyai banyak sisi yang kemudian memojokkan dan mengerucut pada satu titik yaitu di titik sudut. kemudian yang terngiang adalah sebenarnya adakah perbedaan yang mendasar dari kedua kata tersebut. selain perlawanan dari sebuah thesis dan antithesis yang tak pernah mau bertemu dalam satu titik yang sama, keduanya saling bertolak belakang dan membentuk dua buah kutub yang berlawanan dan berseberangan. dan sudut itu gagal berbentuk.

kegagalan dan keberhasilan, menjadi sebuah keniscayaan dalam setiap perjalanan, perjuangan dan setiap ikhtiar yang digelar oleh makhluk yang bernama manusia. sebuah kegagalan kemudian dijadikan momok setiap orang yang berikhtiar, hanya sudut keberhasilan yang menjadi curahan keberhasilannya. kemudian menitiknolkan dermaga kegagalan yang kadang menganga dengan luasnya. sebuah ketakutan yang terus dibangun setiap langkahnya sehingga sangat berhati, sangat takutnya bahkan memaksa untuk tidak melangkah agar tidak menuai sebuah kegagalan walaupun keberhasilan tak dapat diraih oleh tangan.  kemudian hanya biasa memandang dunia ini di titik nol semata

Published in:  on January 30, 2008 at 10:37 am Leave a Comment

ekonomi ribawi dan bubble economic

  bubble.jpg 

warsito suwadi 

  Pengaruh ekonomi yang melambat dari perekonomian dunia yang salah satunya disebabkan oleh melambatnya kalau tidak mau disebut resesi perekonomian Amerika. Mau tidak mau kita semakin dihadapkan pada kenyataan bahwa perekonomian ribawi akan menuju pada kekacauan ekonomi. Banyak bukti tak terbantahkan telah tersodor di depan mata kita. Kasus  subprime mortgage hanya satu bukti kecil yang mengemuka bahwa perekonomian ribawi berdiri untuk membangun perekonomian bubble yang pasti akan meletus suatu saat.

Akibat letusan bubble economic di financial akan semakin meruntuhkan sektor riil. Daya beli semakin rendah sedang harga membumbung tinggi, ditambah lagi harga minyak bumi yang meroket, semakin menambah kesengsaraan, sudah jatuh ketimpa tangga lagi.

Published in:  on January 24, 2008 at 7:01 am Leave a Comment

misi kehidupan sepohon pisang

banana_tree.jpg Pict: www.cepolina.com 
oleh:Warsito Suwadi ( sitosuwadi@yahoo.com)

 memaknai perjalanan dengan penuh arti, itu yang akan membuat orang dikayakan oleh perjalanan hidupnya. Pada hakekatnya hidup adalah menuju jalan kematian, yang tentunya disertai dengan kesabaran, perjuangan serta kegagalan. Namun semua perjalanan itu akhirnya bermuara pada satu pembenaran bahwa kesabaran, perjuangan serta kegagalan akan menjadi indah walaupun pada saat peristiwa itu dilalui akan ditemui kesukaran yang tak terhingga. Bagaimana beratnya  sebuah perjalanan mendaki gunung, namun bagi yang telah merasakan nikmatnya perjalanan itu akan diulang dan diulang bahkan perjalanan pendakian akan semakin dinaikkan tingkat kesulitannya.

Daratan yang tak rata, lautan yang menghampar, tumbuhan yang beraneka ragam bentuk dan warnanya, serta bermacam-macam tabiat binatang, yang keberadaan mereka adalah satu bentuk harmoni yang saling mengisi. Begitu gigihnya lembaga lingkungan hidup dalam pembelaannya terhadap kelestarian  lingkungan hidup, perlindungan terhadap satwa-satwa langka. Kita merasa dan sangat yakin bahwa dengan hilangnya spesies-spesies tersebut akan memunculkan disharmoni, adanya satu ketimpangan dalam alam ini.

Kegagalan, keberhasilan, kesabaran menjadi komponen-komponen pembentuk perjalanan kehidupan kita. Satu persatu mengisi, atau bahkan dua atau semuanya mengisi hidup kita.

Kita menjadi sebuah miniatur yang komplek dari sebuah makro sistem alam ini yang penuh dengan komponen-komponen penyangganya. Di dalam komponen makro sistem tersebut akan terjadi dinamika yang saling bersinergi.

Demikian juga keadaan tersebut terjadi pada setiap diri kita, hilangnya salah satu unsur keseimbangan dalam diri kita akan menimbulkan ketimpangan, ketidakseimbangan.

Lalu apakah kita gundah saat kita berada pada salah satu komponen dalam hidup kita saat kita sedang dilanda sebuah musibah yang dasyat, sehingga kita menyalahkan musibah itu, lalu yang paling ujung sekali, kita akan menyalahkan Dzat yang menimpakan musibah tersebut. Haruskah kita mengingkari satu komponen dari irama hidup kita, lalu kita musnahkan sama sekali, lalu akan masuk pada stadium baru yaitu kehilangan dari komponen kita, yang kemudian tentunya dalam ketidakseimbangan, disharmoni dalam kehidupan kita.

Demikian juga hewan yang sangat merugikan bagi manusia, misalnya lalat, apakah lalat tersebut sangat menjijikkan maka harus dimusnahkan dari dunia ini, tidak bisa kita bayangkan bagaimana jadinya jika lalat benar-benar dimusnahkan eksistensinya, maka yang akan terjadi adalah banyak sekali bangkai tikus, bangkai kucing, bangkai-bangkai yang terserak tanpa dikubur akan mengalami proses pembusukan yang lama, tanpa bantuan belatung-belatung dari lalat (menjijikkan tapi inilah alam, yang memiliki mekanisme yang sangat rapi).

Namun banyak juga yang ingin memusnahkan salah satu komponen dalam hidupnya, misalnya dengan mabuk, madat ataupun perbuatan-perbuatan lainnya yang selalu mempunyai alasan-alasan untuk menghilangkan kesedihan, kesuntukan, dan alasan-alasan yang lain.

Yang pasti yang harus selalu ada adalah seberapa kuat kita melalui sebuah track, yang menjadi jalur lari kita. Alangkah tidak enaknya apabila kita lari dengan meninggalkan medan track kita, lalu beralih pada track orang lain. Yang terjadi adalah perbenturan  dan bahkan kita akan tertinggal. Contoh pohon pisang adalah permisalan yang sangat baik bagi sebuah kegigihan. Betapa gigihnya pohon pisang dalam mengemban misi kehidupanya. Ia akan terus tumbuh walaupun kita memotong batangnya. Ia akan terus bertunas dan bertunas, selama kita tidak mematikannya, sampai pada titik dimana pohon pisang tersebut mempersembahkan buah walau dalam bentuk yang tidak optimal.

Published in:  on January 21, 2008 at 4:36 am Leave a Comment

selamat tinggal bangsa tempe

  Warsito Suwadi (sitosuwadi@yahoo.com)

 tempe-crop.jpg

Saatnya julukan bangsa tempe atau bermental tempe kita tinggalkan, selain berkonotasi negatif bermental lemah, ternyata buat bangsa ini harga tempe seperti tak terjangkau lagi sebagai lauk yang murah yang masih bisa dinikmati kalangan terendah bangsa ini. Penyebabnya adalah harga kedelai  dunia yang cenderung naik, sehingga dampaknya harga kedelai yang di impor dari Negara Amerika serikat melonjak di dalam negeri. Hal ini memacu kenaikan yang berdampak multi effect sampai pada produk akhir yaitu tempe dan tahu.

Ironis terasa, bahwa negara yang berbasis agraria mempunyai permasalahan pada produk pertanian yaitu kedelai. Demikian juga kondisi dan ketahanan pangan kita yang masih lemah, yaitu cadangan beras kita yang masih perlu didukung dengan produk impor, demikian juga gula dan produk pertanian lainnya. Lalu apa yang bisa kita hasilkan dari bumi yang terkenal dengan kesuburannya sejak berabad-abad lampau, ataukah kesuburan itu telah habis karena kebodohan dan keserakahan sebagian rakyat ini.

Begitu besar ketergantungan kita pada bangsa lain sehingga tanpa kemandirian, kejujuran dan keberanian. Bangsa ini hanya menjadi bulan-bulanan bangsa lain yang telah berbuat nyata. Dan sudah waktunya kita melepas inferior kita sebagai bangsa tempe yang lunak dan lemah, sebab dalam segala hal kita didukung untuk menjadi bangsa yang besar. SDM, SDA kita masih bisa dimanfaatkan untuk kebangkitan bangsa ini, namun mentalitas bangsalah yang memegang kunci penting untuk meninggalkan eforia bangsa tempe ini.

Published in:  on January 16, 2008 at 2:02 am Leave a Comment

Keikhlasan

ketika sebuah pergerakan adalah keniscayaan. Maka kemudian sarana-sarana pendukungnya menjadi sebuah keharusan sebagai kelengkapannya. selayaknya para pendaki gunung yang harus menempuh perjalanan yang tak landai, penuh rintangan dan tanjakan, maka sarana pendukung yang memadai menjadi penolongnya untuk dapat mencapai titik tujuan. 

Demikian juga ketika Rosul mengabarkan bahwa salah satu kelengkapan dakwah adalah infaq dari para pendukung dakwah, maka tanpa alasan yang dicari-cari seorang Abu Bakar menginfaqkan seluruh harta kekayaan. Tak kalah juga semangat Umar untuk berlomba dalam ranah kebaikan dan pahala ini. Beliau menginfaqkan separuh hartanya. sepenggal kemulian ini menjadi sebuah penggetar hati yang sangat melegenda, yang kemudian menjadi satu prototipe keikhlasan dan semangat berkorban yang tinggi nilainya. 

Kemudian terbetik dalam hati bahwa “mereka adalah sahabat-sahabat utama, yang tentunya sulit ditandingi, apalagi sekualitas kita saat ini”. ya itu adalah sah-sah saja, namun spirit yang terbawa mengalir deras dalam aliran keimanan kita.sebuah keikhlasan yang ditunjukkan oleh dua sahabat yang mulia, tentu bukan sebuah sikap yang sembrono. namun ada sesuatu kekuatan yang membentengi keduanya kenapa sampai bertindak demikian. di antara benteng pendukung itu adalah keimanan yang mendalam, dan kemudian kemampuan life skill yang handal. ketika dua komponen tersebut ada maka sikap dari dua sahabat mulia tersebut akan bermunculan ditengah kita.wallahualam bishowab

Published in:  on January 11, 2008 at 3:01 am Leave a Comment

Jangan Sekedar Layangan

   Layang-layang, begitu indah menghiasi langit di musim panen. Diselingi angin bertiup sepoi, begitu membelai. Mewartakan sebuah kedamaian dan kemakmuran, berkah melimpah bagi penduduk yang lugu dan jujur. Dengan ikhlas terus berucap syukur pada Allah yang melimpahkan panen tiada terkira untuk musim tanam kali ini.Layang-layang semarak di persawahan yang tinggal tunggul-tunggul padi yang merata menghampar. Di sana riuh anak kecil, pemuda maupun bapak-bapak,  bersaing untuk mengadu ataupun sekedar memamerkan layangan indahnya  di ketinggian langit yang biru menyejukkan.

Layangan yang diadu meriuhkan suasana, dengan kejar mengejar disertai galah yang panjang untuk memetiknya, demikian musim layangan akhirnya berganti dengan layangan hias; ada yang berbetuk capung, burung, kapal terbang, bahkan ada yang seperti ikan hiu. Sangat semarak suasana  di musim layangan.

Layangan begitu akrab di dunia ini, ia tidak hanya menjadi monopoli orang kampung, orang gunung, orang pantai atau orang kota saja, hampir bisa dikatakan layangan banyak sekali penggemarnya di seluruh pelosok dunia ini.

Sering bila layangan  telah kita bubungkan, banyak sekali angan-angan yang terhambur;  kita ingin terbang bersama layangan, bahkan menembus awan putih dan lepas di angkasa luas. Kita mainkan layangan hebat kita dengan berkilo meter benang hingga membumbung tinggi tak terlihat, terbang bersama angan-angan yang kita sematkan di layangan atau kita kirim melalui benangnya. Namun sayang kita tak mampu diterbangkan oleh layangan. Kita yang memainkannya tetap tinggal disini, di tanah bumi ini, sedang layangan kita membumbung tinggi hingga banyak orang mampu melihatnya. Namun kadang terasa menyakitkan bila kita kehilangan layangan yang kita naikkan tinggi-tinggi, karena benangnya putus.

Berpulang dari dunia layangan, sebenarnya ada apakah pada layangan, kalau boleh berkomentar ternyata: pertama adalah layangan dengan pemainnya hanya dihubungkan dengan seutas benang, yang akan semakin panjang apabila kita memainkannya setinggi-tingginya, seringan mungkin benang yang mengaitnya akan semakin baik, demikian sebaliknya semakin berat benang yang mengaitnya akan semakin susah untuk membumbung, apalagi kondisi angin yang bertiup lemah. Kedua adalah tidak pernah pemain layangan terbang bersama layangannya, bahkan orang yang melihat layangan di angkasa tidak mengenali layangan siapa yang sedang membumbung di angkasa.

Dari dua karakteristik ini coba kita tarik sebagai sebuah refleksi yang mungkin mampu menjadi sebuah pelajaran yang kadang terlewatkan begitu saja oleh kebanyakan dari kita.

Al Islam yang tinggi dan mulia adalah tuntunan hidup universal yang semua manusia dengan hati nurani yang bersih akan mengakuinya sebagai satu-satunya Dien yang sempurna. Kesempurnaan dan keuniversalannya tak ada yang menandingi, karena sangat tingginya dan seakan-akan hanya di awang-awang (langit) maka membetikkan gagasan untuk membumikan Al Islam. Namun apa yang terjadi dengan kondisi umat Islam  sekarang ini Al Islam selaksa layangan. Nilai-nilai Islam hanya dipegang dalam seutas benang, dimana jarak Al Islam dengan pemeluknya  sangat jauh sekali. Al Islam tampak hanya pada ritual-ritual rutinitas semata, hanya dalam skala musiman di mana kondisinya kondusif sekali, selayaknya layangan yang hanya dimainkan pada bulan-bulan tertentu.

Kondisi ini harus segera mengalami sebuah perubahan dimana harus diadakan perubahan yang mendasar dalam memberlakukan Islam dalam kehidupan kita sehari-hari.

Ketika  Islam kita dudukkan sebagai layangan semata-mata, maka kita hanya bisa berangan-angan saja untuk mengarungi ketinggian angkasa. Harus ada sebuah usaha yang nyata untuk merubah dengan  mendudukkan Islam menjadi sebuah pesawat terbang yang mampu mengangkut umatnya dalam sebuah mobilitas yang tinggi, bahkan tidak cukup pesawat terbang saja namun coba kita dudukkan Al Islam dalam kedudukan sebagai pesawat ruang angkasa yang akan mampu membawa umatnya untuk mengeksplorasi  jagat raya. 

Terakhir adalah sebuah pertanyaan besar menghadang “Bisakah kita menjadi demikian?”, jawabanya tentu ada dalam hati-hati kita, dan yang pasti kerja nyata nan rapi yang menjadi tuntutan selanjutnya.  (wallahua ‘alam bishshowab)

Published in:  on January 3, 2008 at 5:56 am Leave a Comment