Tak Jemu Ku Menunggu

Menunggu adalah satu pekerjaan yangn sangat menyebalkan bahkan menguras stamina. Menunggu membuat orang cepat marah, kesal dan tidak sabaran. Hati ini menjadi begitu sakit karena kekesalan yang menggunung. Apalagi menunggu sesuatu yang tidak tepat sesuai janji. Lebih-lebih menunggu yang tidak ada satu arah kepastian yang jelas.

Menunggu kadang menjadi sesuatu yang mengasyikkan, penuh harap, penuh ketidakpastian, penuh dengan kesetiaan. Menunggu dengan satu kesabaran dan keyakinan penuh bahwa sesuatu yang kita tunggu pasti akan datang.

Bagi yang telah terbiasa naik bis, pekerjaan menunggu merupakan pekerjaan hampir setiap hari baik pagi maupun petang. Pekerjaan menunggu menjadi pekerjaan yang menyita ketenangan hati apabila bisnya jarak jauh serta peminatnya banyak. Kadang dengan penantian yang memakan waktu yang lama ternyata bis telah penuh hingga kita tak punya kesempatan untuk terangkut, akibatnya kita harus menunggu lama lagi.

Menunggu adalah pekerjaan yang membosankan, sehingga banyak orang uring-uringan dan cepat naik pitam, teruskah kita diperbudak dari efek menunggu. Tentunya kita tidak mau. Akhirnya kita harus menyikapinya dengan sedikit kreatif dan menguntungkan.

Menunggu dalam penantian dan pengharapan akan selalu dialami oleh setiap orang,  mulai dari harus menantikan dan menunggu bis, surat panggilan kerja, menunggu teman yang telah berjanji di suatu tempat, bahkan menunggu kapan jodoh kita akan menghampiri dan menjelang. Semuanya menjadi saat-saat yang mengesalkan dan membuat putus asa bila kita tidak hati-hati mensikapinya.

Allah telah memberikan fenomena-fenomena kehidupan yang beragam, dari peredaran bumi mengelilingi matahari dalam susunan tata surya, demikian juga planet-planet yang lain, semuanya beredar dalam lintasannya, lintasan-lintasan tersebut berbeda satu dengan yang lainnya baik jarak tempuh dan tempat lintasan beredarnya. Tak dapat kita bayangkan apa yang akan terjadi bila garis edar bumi dan pluto misalnya sama baik waktu tempuhnya maupun tempatnya  maka sangat dimungkinkan terjadinya tabrakan. Demikian juga lintasan-lintasan penantian kita mempunyai jalur dan waktu tempuh yang berbeda-beda,  akankah kita merebut dan memaksakan lintasan yang bukan milik kita. Sedang bukan tidak mungkin dengan agak panjangnya waktu edar giliran kita, Allah akan memberikan janji terbaiknya buat kita.

Allah telah mengatur tata kehidupan ini sedemikian rapinya, hal-hal yang telah dijanjikan oleh Allah pasti akan ditunaikan sesuai dengan jatah yang kita miliki, mengenai waktu dan tempatnya Allah yang mengetahui pasti. Kesabaran adalah  salah satu wasilah dan senjata untuk kita agar  dapat menghadapi penungguan yang membosankan dan  menjadikan penantian yang menyenangkan. Kesabaran akan janji Allah, membuat kita tak menghabiskan energi hanya untuk menunggu semata, tetapi dengan kesabaran dan keyakinan terhadap janji Allah maka kita akan bisa menggunakan potensi dan tenaga untuk mengisi penantian dengan hal-hal yang bermanfaat, sehingga ketika hal yang kita tunggu telah datang, kita tidak canggung dan merasa berat.

Sesungguh sholat dan sabar adalah sebagai penolong kita. Ketika kita menunggu bis misalnya, kita bisa mengalihkan energi untuk membaca buku, ketika kita sedang menunggu panggilan kerja kita bisa belajar dan banyak membaca serta berlatih sehingga kemampuan kita semakin bertambah.

Sesungguhnya janji Allah itu pasti akan ditunaikan, maka dengan kesabaran kita jelang masa penuai janji tersebut dengan amal-amal yang produktif dan konstruktif. Wallahu’alam bishshowab.  (warsito suwadi)

Published in:  on December 28, 2007 at 2:59 am Leave a Comment

KECERDASAN

Kecerdasan menjadi sebuah kajian yang menarik, bahkan kajian ini tampaknya akan terus mengalami perkembangan, sesuai dengan sisi-sisi kebutuhan dan pemahaman manusia yang terus berkembang. Eksplorasi kecerdasan telah diawali dengan  menggunakan  parameter IQ (Intellegence Quotient ), EQ (Emotional Quotient), dan paling terakhir adalah SQ (Spiritual Quotient).  IQ adalah kemampuan manusia untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai alat bantu manusia dalam memenuhi kebutuhannya. EI (Emotional Intellegent) adalah kemampuan manusia untuk memanfaatkan emosinya guna mencapai  cita-cita yang tinggi.  SI (spiritual Intellegent) adalah kemampuan manusia  untuk membedakan hal-hal yang baik dari hal-hal yang buruk, yang positif dari yang negatif, haq dari yang batil, yang legal dari yang melanggar hukum sesuai atau berdasarkan ajaran-ajaran agama yang dianut manusia.

Kecerdasan manusia tentu sangat berkaitan erat dengan otak dan kalbu yang dimiliki manusia. Kebaikan dan keburukan yang dilahirkan manusia dalam tindakan nyata tentu awalnya terlahir dari komponen ini. Allah telah menganugerahkan manusia dengan kemampuan otak yang luar biasa.

Kemampuan otak yang luar biasa yang dimiliki oleh manusia, ternyata pemanfaatannya dalam kondisi normal masih sekitar 4%, sehingga kecerdasan-kecerdasan emosional atau bahkan kecerdasan spiritual tidak tertutup kemungkinan  penggunaannya akan sama sama yaitu cuma 4%.

Dengan potensi yang begitu besar sudah selayaknya manusia mendapat amanat yang berat sebagai khalifah yang harus  membuat kesejahteraan dan kerahmatan di bumi ini. Lalu bila kita melihat dan merasakan kondisi umat Islam saat ini jangan-jangan kita telah mendzolimi diri dan amanat ynag telah diberikan.

Kebodohan yang melanda khususnya pada diri saya maupun orang-orang yang terbodohkan kemungkinan besar bukanlah karena kesalahan sistem namun jangan-jangan karena kemalasan untuk menggali diri, memanfaatkan dan semakin mempertajamnya amanah terindah dan termahal yang diberikan Allah kepada kita.

Coba kita bayangkan alangkah dasyatnya kita bila mampu mengkaryakan potensi otak kita cukuplah 50 % saja. tentu tidak ada keraguan lagi bahwa beban tanggung jawab kita sebagai khalifah di bumi akan dapat ditanggung.

Sebagai umat Islam syarat-syarat sebagai pengembanan tugas suci ini sudah lengkap kiranya. Tentunya setiap mukmin telah memiliki kecerdasan spiritual yang lebih bila di banding orang ateis.  Untuk potensi IQ dapat digali dengan kekuatan Iqro, demikian juga untuk EI telah disediakan dalam Islam dalam keluasan akhlaqul karimah yang diajarkan.

Perspektif Islam mensikapi masalah kecerdasan, mungkin agak aneh karena kecerdasan dikaitkan dengan ingat mati. Lalu ada apa dibalik ini? Wallahualam bishshowab

Published in:  on December 17, 2007 at 6:24 am Leave a Comment

BERMANFAATLAH!!!

 oleh: Warsito Suwadi   (sitosuwadi@yahoo.com)

Sesuatu benda yang ada dalam kehidupan manusia, pasti memiliki kemanfaatan  yang akan dan telah dirasakan oleh pemiliknya. Demikian benda tersebut akan dibuang apabila nilai kemanfaatannya sudah hilang bagi pemiliknya. Benda tersebut kemudian  turun statusnya dari benda yang bermanfaat menjadi sampah.

Kemanfaatan selalu memiliki sebuah nilai  yang berarti dalam segala bentuknya. Dimensi kemanfaatan memiliki bentuk yang sesuai dengan lingkungan di mana kemanfaatan itu dapat dipetik dan seberapa besar ia bisa dipetik. Ada kemanfaatan untuk dirinya sendiri, untuk keluarga, untuk tetangga bahkan untuk masyarakat luas. Dalam bentuk apapun kemanfaatan itu berwujud, ia akan tetap menjadi sebuah komoditi yang dicari-cari.

Suatu kemanfaatan tidaklah selalu dalam bentuk  penampilan yang sempurna, namun lebih pada fungsionalnya.  Kursi yang sudah reot ternyata masih mempunyai kemanfaatan yang tinggi bagi orang yang hanya memiliki satu kursi reot tersebut. Tetapi sebuah kursi yang kondisinya lebih baik dari kursi yang reot tadi, karena telah dibuang di tempat sampah oleh pemiliknya, maka nilai kemanfaatannya telah hilang. Demikian sebuah kemanfaatan tidak selalu dengan bentuk yang sempurna, namun kemanfaatan akan bernilai lebih apabila ia berada pada tempat dan waktu yang tepat.

Kemanfaatan begitu melimpah diberikan oleh lingkungan alam kita, sungguh kemurahan ini adalah satu bukti betapa Maha Pengasihnya Allah terhadap  makhluknya. Mulai dari barang tambang, lautan yang menghampar dengan segala isinya,  bermacam ragam tanaman baik yang telah dibudidayakan atau yang masih berupa plasma nutfah, berjenis-jenis hewan ternak maupun hewan peliharaan. Semuanya mengalirkan kemanfaatan semata-mata bagi manusia.

Menggali manfaat yang lebih besar

Kebutuhan bagi  kehidupan manusia yang terus melaju, dibutuhkan satu rekayasa manusia dengan ditopang oleh ilmu pengetahuan dan teknologi untuk terus mencari keunggulan-keunggulan dari tanaman maupun hewan. Rekayasa-rekayasa yang dilakukan tersebut dikenal dengan usaha pemuliaan tanaman maupun hewan. Pemuliaan dalam ruang-ruang laboratorium dengan segala metodenya memunculkan varietas-varietas dan spesies-spesies  yang memiliki dan memberikan kemanfaatan yang besar bagi manusia.

Tanaman dan hewan unggul akan terus menjadi pilihan bagi petani dan peternak karena menguntungkan dan banyak diminati oleh konsumen. Petani dan peternak akan mendapatkan keuntungan maksimal. Keuntungan yang dinikmati adalah persembahan kemanfaatan yang maksimal dari tanaman dan hewan unggul tersebut.

Demikian halnya pada manusia yang selalu mengeluarkan produk-produk kemanfaatan. Kemanfaatan yang dihasilkan cepat atau lambat akan menjadi komoditi yang dicari-cari. Produk-produk bermanfaat tersebut akan terus mengalami peningkatan-peningkatan dengan sarana uji coba dalam laboratorium kehidupan ini. Hingga pada satu saat tertentu ia akan mencapai pada tataran unggul dengan produk-produk kemanfaatan yang maksimal. Kemuliaan yang direngkuh adalah kemuliaan di mata manusia maupun  dihadapan Allah SWT.

Demikian bahwa orang-orang yang bermanfaat adalah orang-orang yang selalu mengalami pemuliaan-pemulian, melalui serangkaian ujian-ujian dalam laboratorium kehidupan. sehingga ia akan mencapai kedudukan unggul.

Proses pemuliaan  pasti bukanlah sebuah proses yang sederhana dan dalam waktu sebentar. Bahkan mungkin sebuah usaha yang keras dan kesabaran yang tinggi agar kita bisa melalui ujian demi ujian. Kesabaran yang tinggi akan  mampu memberi kekuatan untuk terus maju dan memberikan kesiapan menghadapi ujian, sehingga dari proses tersebut mampu mengeluarkan kemanfaatan yang maksimal dan unggul. Walaupun tak jarang kegagalan sering menimpa, namun dalam laboratorium kehidupan try and error adalah sebuah kelaziman atau bahkan sebuah keniscayaan.

Kemanfaatan yang besar tentu tak selalu datang dari sebuah percobaan-percobaan yang maha besar, namun aktifitas kemanfaatan yang remeh-remeh, yang kecil-kecil akan mampu memunculkan dan melahirkan kemanfataan yang besar, namun karena kemanfatan kecil adalah sebuah kesepelean maka seakan-akan ia dihindari karena kecilnya, namun kadang ketika kita mengejar kemanfatan yang mercusuar, kemanfaatan yang besar, kita tersandung bahkan terpuruk karena kapasitas keunggulan kita belum mencapai kualitas yang disyaratkan.

Coba kita mulai menghasilkan produk-produk kemanfaatan walaupun kecil dan remeh bentuknya, bahkan kemanfaatan tersebut tak terlihat oleh orang lain, namun dengan kesabaran  serta daya tahan yang tinggi sudah menjadi keniscayaan, kemanfaatan kita akan mengalami peningkatan-peningkatan pada derajat yang unggul, yang tak hanya dapat dinikmati oleh lingkungan diri sendiri, namun kemanfatan itu mengalir dan direguk oleh masyarakat luas. Kemanfaatan yang kecil yang terus mengalir dalam keteraturan adalah lebih dicintai oleh Allah, daripada sebuah proyek yang besar namun hanya sebuah insidential semata-mata tanpa ada keterlanjutan. Karena kemanfaatan yang terus mengalir akan berjalan pada laboratorium-laboratorium kehidupan yang terus merekayasanya menjadi kemanfaatan yang unggul.

Maukah kita menjadi telaga-telaga kemanfaatan, walaupun kecil bentuknya untuk terus tumbuh  menjadi  unggul dan menjadi manusia terbaik, karena kemanfaatan kita yang terus mengalir. (ws)

Published in:  on December 13, 2007 at 9:26 am Leave a Comment

Kalender Baru, di tahun Baru

  oleh : Warsito Suwadi

Sitosuwadi@yahoo.com

Edisi baru lembaran hari selalu berganti  setiap jam duabelas malam. Lalu bergulirlah fajar menuju sebuah pagi yang merekah  dengan kemerahan matahari yang menggeliat di ufuk timur. “Matahari yang menggeliat?” agaknya sangat emosional sekali. Tidak sesungguhnya tidak demikian karena matahari tidak tidur atau istirahat sejenakpun  untuk memancarkan sinarnya, hingga tak perlu menggeliat, demikian juga bumi tidak berhenti sejenak untuk berotasi dan berputar pada sumbunya, lalu apa yang akan terjadi bila matahari atau bumi berhenti sejenak untuk tidur kemudian menggeliat, tentu tak akan mampu kita bayangkan akibatnya.

Hari-hari manusia seperti diterjemahkan dalam lembaran-lembaran kalender, hingga pada akhir bulan kita balik lembaran baru, demikian setiap bulan kita melakukan itu. Sampai pada penghujung tahun kemudian kalender tersebut kita buang.Kadang gambar-gambar kalender tersebut apabila masih terkesan kita gunting, yang pasti selanjutnya kalender kita buang ke tempat sampah. Kemudian kalender tersebut  adalah masa lalu yang tak perlu dikenang bahkan untuk disimpan. Musnah dengan datangnya kalender baru untuk menjadi pengingat tanggal-tanggal di tahun ini. Bergantinya tahun  dalam diri kita kadang serasa seperti bergantinya kalender yang selalu kita buang tiap tahunnya.

Coba kita luangkan barang sebentar untuk melihat kalender usang kita yang mungkin akan kita buang, pernahkan kita memberdayakannya sedemikian rupa atau hanya sebagai pengingat tanggal saja buat kita.

Yang terjadi dan terasa adalah jarang sekali pada akhir tahun kita melihat, tanggal mana saja yang telah kita tandai dengan spidol merah misalnya sebagai tanggal yang kita nanti-nantikan. Jarang sekali kita mengevaluasi satu tahun yang telah kita jalani, jarang sekali. Seakan-akan waktu dalam setahun berlalu begitu saja, wajar dan datar, kemudian kita beranjak pada tahun yang baru yang wajar datar dan hambar.

Setelah berlembar-lembar kalender terbuang terasa waktu menghantarkan kita bahwa kita telah uzur. Disaat kita sudah begitu uzurnya baru kita sadar, ternyata semuanya hanya sebuah permukaan datar hambar dan biasa-biasa. semua tahun-tahun telah berhimpun terbuang begitu saja, senasib kalender-kalender usang saat tahun baru menjelang.

Hilang, musnah, bahkan anak cucu kita tak pernah mengenal siapa kita, Karena tak pernah berbekas, datar, hambar, biasa-biasa saja. Hilang ditelan riuhnya jaman.

(Semoga itu bukan kita, Amin)

Published in:  on December 12, 2007 at 1:53 am Leave a Comment

Mensyukuri Turunnya Hujan

artikel ini pernah dimuat di PKPU Online lumayan lama.

Warsito Suwadi

Selasa, 26 Maret 2002
Mensyukuri Turunnya Hujan

PKPU Online Hujan, melimpahkan berkah dari sang pencipta pada mahluk-mahluknya yang melata di muka bumi ini, bukan hanya untukmu manusia. Tumbuhan semakin hijau menyegarkan, benih-benih menggeliat tumbuh untuk memulai babak baru dalam hidupnya. Mungkin bila hujan itu diciptakan hanya untuk manusia maka sampai detik ini, ia tak akan turun lagi, karena kemaksiatan yang telah diperbuat. Sudah selayaknya kita harus berterima kasih dengan tumbuhan, hewan, yang karena ketulusan merekalah salah satu yang menyebabkan hujan turun membasahi bumi.

Hujan yang mulia kadang diumpati oleh orang-orang yang yang belum mampu mensyukuri nikmat dari Allah yang Maha bagi semua mahluknya, mereka hanya terfikir oleh tujuan-tujuan sesaat mereka saja. Mungkin perasaan yang dongkol sering terlontar atau hanya ada dalam hati.

Hujan menyiram bumi dengan derasnya kadang membawa bencana, karena manusia yang serakah memakan hutan yang begitu baiknya memberikan segalanya bagi manusia. Manusia-manusia yang tak tahu berterima kasih malah melahapnya bulat-bulat untuk kepentingannya sendiri. Sunggguh benar adanya, bahwa kerusakan di langit dan di bumi bukan siapa-siapa yang menciptakan, namun diri manusia sendirilah penyebabnya.

Hujan di pagi hari, banyak digerutui orang-orang yang akan berangkat kerja dengan alasan perjalanan menuju ke kantor jadi macet total, lalu sudah pasti terlambat, harus berhujan-hujan ria, hingga kedinginan.

Jangkrik dan kodok bersujud syukur, dengan lantunan doanya yang sangat harmonik, ia mengekpresikan kegembiraan dan syukur yang mendalam, Allah telah memberkahi bangsa katak dan hewan-hewan lainnya. Lalu berudu itupun jadi katak-katak kecil yang berjuang hidup sampai akhirnya ia harus berbiak lagi demi kelanggengan pengabdian.

Di padang Kalahari yang panas dan luas hujan adalah awal kemeriahan kehidupan bagi penghuni padang, singa-singa jadi gemuk lagi, semua penghunipun bergairah untuk melakukan regenerasi bagi keturuanannya, ini adalah masa yang baik untuk membesarkan anak, masa penuh makanan, masa penuh perburuan, masa penuh istirahat diantara kewaspadaan.

Hujan begitu ditunggu-tunggu oleh petani-petani kita. hujan pertama dengan sedikit angin kencang melegakan mereka, karena besok dapat membajak sawahnya, yang telah ditunggui sepetak kecil bibit padi yang disemai. Hujan adalah keberkahan bagi petani.

Hujan-hujan menghijaukan hutan-hutan tropis di negeri kita. Hijaunya hutan tropis kita menyumbang begitu banyak oksigen dunia. Hujan menyegarkan dunia ini dengan kehijauannya, dengan fotosintesis dan oksigen yang dihasilkan.

Hujan sama sekali bukan malapetaka buat mahluk-mahluk yang terus mensyukuri kenikmatan. Masihkan kita mengerutu dengan hujan yang turun pagi ini? Wallahu ‘alam bishowab. [warsito.suwadi/warsito@attglobal.net]

Published in:  on December 10, 2007 at 10:07 am Leave a Comment

Rezim Produktifitas

 oleh : Warsito Suwadi

Produktivitas menjadi bahasan yang sangat menarik perhatian dalam sejarah peradaban manusia. Semenjak revolusi industri, produktivitas menjadi penting. Semuanya diukur dengan parameter produktivitas, sampai-sampai menanggalkan sisi-sisi kemanusiaan. Ilmu-ilmu manajemen berkembang pesat dalam penelaahnya terhadap pengelolaan SDM sehingga mampu mempunyai produktivitas yang tinggi.

Pernahkan kita makan ayam pedaging, ternyata ayam-ayam pedaging itu demi produktivitas dalam waktu 29 sampai 32 harus harus menjadi besar, dan siap untuk dilepas ke pasaran, bahkan demi produktivitas ayam-ayam tersebut tidak boleh berbulu banyak-banyak dimana diciptakan suatu kondisi agar ayam-ayam tersebut tetap hangat sehingga tidak memerlukan lagi perlindungan bulu, dan yang lebih kasihan lagi ayam pedaging  harus melahap hormon-hormon pertumbuhan agar cepat besar.

Pernahkan kita makan telur ayam negeri, bagaimana ayam-ayam petelur telah berubah fungsinya sebagai  mesin-mesin telur dengan cap ayam leghorn, yang harus menghasilkan telur-telur tiap harinya, mesin-mesin telur cap ayam ini, dikungkung dalam kandang yang sempit, dan diberi ransum yang bergizi, agar ia menghasilkan telur yang produktif. Semua itu berdiri diatas rezim produktivitas.

Atas nama produktivitas pula pupuk-pupuk diproduksi, obat-obatan dibuat, mesin pengolah pertanian didirikan. Dengan nama produktivitas padi-padi harus berumur pendek, cukup 3 bulan harus dapat dipanen.

 Bagaimana revolusi industri telah mengubah paradigma manusia dan wajah dunia. Revolusi industri telah mengubah paradigma manusia terhadap arti produktivitas.

Kemajuan yang pesat dalam perekonomian negara-negara Eropa salah satu faktor pendukungnya adalah mesin-mesin industri mereka, akhirnya  pola pembangunan yang bersendikan industri menjadi trend  terutama di negara-negara dunia ketiga untuk mencapai kemajuan, tak urung negara kitapun mengikutinya, namun kita ternyata gagal, bukannya menuju era tinggal landas tetapi terpuruk pada era tinggal kandas.

Demikian seiring dengan majunya teknologi, laju produktivitas semakin kencang. Apalagi dengan ditopang oleh teknologi informasi yang semakin canggih.

Dengan kemajuan penunjang prasarana dan sarana yang ada pada manusia maka, produktivitas yang dihasilkan harus berlipat pula.

Menarik untuk disikapi, ternyata sebuah produktivitas akan menghasilkan perubahan-perubahan yang monumental dalam sejarah manusia. Contoh menarik yang mungkin sudah sering sekali kita dengarkan adalah bangsa Jepang, dengan etos produktivitasnya yang tinggi ia mampu bangkit mensejajarkan diri dengan negara-negara maju lainnya, setelah mengalami kehancuran karena kalah perang. Bangsa Jepang menjadi ikon perekonomian  dunia di samping Amerika Serikat.

Apakah produktivitas hanya monopoli bangsa-bangsa yang maju secara perekonomian dan teknologi sekarang ini, jawabannya adalah tidak, produktivitas ternyata milik Islam semata-mata. Namun kenapa sekarang kita berkubang dalam terpurukan?.

Untuk lebih jauh lagi  marilah kita melihat sejarah yang harusnya menjadi panutan kita, pada siroh nabawi, siroh para sahabat, serta ulama-ulama salaf.  Kemudian yang jadi pertanyaan adalah sejauh mana kita telah mengetahui, mengenal atau bahkan berinteraksi dengan mereka. Karena seperti slogan-slogan para fans musik seperti “punk never die”, atau “rock never die”, haruskah kita kalah semangat dengan mereka sedangkan sebagaimana kita mahfum bahwa  siroh -siroh rujukan kitapun tak akan pernah usang dan lekang oleh perjalanan waktu, dan bahkan Allah sendiri yang akan menjaga orisinalitas dari Al Qur’an sebagai rujukan utama kita.

Produktivitas para teladan kita sangat luar biasa sekali, bagaimana Rosul tercinta kita, dalam melakukan produktivitas ibadahnya, sampai bengkak kakinya, demikian juga bagaimana  para sahabat yang dalam tiga hari mampu mengkhatamkan Al Qur’an, bahkan bisa lebih. Bagaimana Al Qur’an telah meminta kita untuk bekerja dan bekerja, dan jangan sekali-sekali puas dengan hasil yang kita terima, karena semata-mata hasil itu hanya Allah, Rosul dan orang-orang yang beriman yang menentukan.  Atas nama produktivitas pula Rasullullah telah menuntaskan Al Islam dalam waktu 23 tahun.

Produktivitas seharusnya bukan produktivitas yang kasar, merusak yang akhirnya melahirkan budaya-budaya yang negatif sebagai efek sampingnya, seperti kapitalisme, yang telah menghilangkan sisi-sisi kemanusian, sehingga bangunan ini akan  menjadi bentuk peradaban yang tidak rahmatan lil alamin, dan bahkan menjadi peradaban yang menghancurkan alam ini, bagaimana ozon makin tipis, persediaan air tanah yang semakin tipis digerogoti oleh air laut, sungai-sungai yang tidak menghidupkan lagi ikan-ikan, dan yang paling akhir ini adalah pemanasan global, semua itu disebabkan oleh produktivitas dalam nafsu kerakusan.

Produktivitas yang harus kita emban adalah produktivitas yang rahmatan lil alamin, dimana kita mampu menggenjot produktivitas ayam petelur tanpa harus menghilangkan sisi fitrah kehewanan ayam, bagaimana kita mampu meningkatkan produktivitas ayam pedaging tanpa menyakitinya. Bagaimana kita menjadi workaholic tanpa menjadi robot.

Wallahu’allam bishowab

Published in:  on at 9:05 am Leave a Comment

Menjual Ekonomi Syariah

  Ekonomi syariah diyakini oleh para pengusungnya adalah jalan terbaik, bukan hanya sekedar alternatif semata atas sistem ekonomi yang sekarang ada atau yang pernah ada. Ekonomi syariah memberikan solusi yang tidak diberikan oleh sistem kapitalis maupun komunis. Sehingga ekonomi syariah menjadi sangat layak jual dan siap menggantikan sistem-sistem yang telah ada.Bila kita melihat kondisi ada saat ini, terutama di Indonesia, ada sedikit kegamangan di samping optimisme yang tinggi. Kegamangan itu terlihat sekali dengan perkembangan bank syariah yang tidak ada pentrasi yang optimal terhadap perbankan konvensional bila dilihat dari market share yang masih kecil, yaitu masih kurang dari angka 2 % per oktober 2007.  Sedangkan berdasarkan blue print BI angka 5 persen adalah market share yang harus digenggam perbankan syariah di tahun 2008. kegamangan ini makin terlihat nyata saat MUI mengeluarkan fatwa bahwa bunga bank adalah riba, sehingga analogi yang terjadi adalah dengan bunga bank yang riba tersebut maka menabung di bank konvensional dan menerima bunga maka telah memakan barang haram. Namun pada tataran prakteknya rush pada bank konvensional tidak terjadi, alih-alih ada pelonjakan market share di bank syariah masih belum terjadi.

Contoh  di bank syariah nyata kiranya untuk menjadi alat, guna melihat seberapa besar ekonomi syariah telah menemukan bentuk nyata dalam kehidupan sehari hari. Walaupun masih dini untuk mengatakan bahwa ekonomi syariah tidak berkembang. Namun dengan keyakinan yang dalam dan semangat yang tinggi hal ini harus dimaknai sebagai tantangan dalam membangun dan menemukan bentuk ekonomi syariah dalam bentuknya yang powerful dan rahmatan lil alamin.

Dalam mengimplementasikan ekonomi syariah, sebenarnya ada banyak contoh-contoh praktek walaupun tak sama persis. Contoh tersebut adalah bagaimana gerilya Grameen bank yang dimotori oleh M. Yunus yang sekarang telah mendunia, yang diakui mampu mengentaskan kemiskinan, terlepas dari pro kontra disekitarnya. Dan tentunya adalah contoh yang tak lekang oleh jaman yaitu perjuangan Nabi Muhammad dalam mengemban dan menegakkan syiar Islam di muka bumi ini.

Potensi perekonomian syariah untuk membangkitkan perekonomian umat adalah berbanding lurus dengan jumlah penganutnya, bila kita melihat Indonesia tentu potensinya adalah terbesar di dunia dari segi sumberdaya manusia dan alam. Hal ini akan menjadi tantangan para cerdik pandai yang ada di dalamnya untuk menyebarkan nilai ekonomi syariah ke seluruh kalangan sehingga sistem ekonomi syariah tidak menjadi macan di kertas saja, namun menjadi satu kekuatan yang nyata dan dengan contoh yang nyata pula.

Menjual ekonomi syariah perlu difahami, dilakukan dan dimaknai sebagai upaya dakwah. Dimana di dalamnya dilingkupi dengan perjuangan yang tulus dan suci sebagai bagian integral dakwah Islam. Mendakwahkan ekonomi syariah tak hanya butuh teori-teori ekonomi dan moral-moral ekonomi syariah semata, namun yang lebih penting adalah perekonomian syariah secara nyata memberi solusi atas keterpurukan ekonomi masyarakat dan bangsa ini.

Sebagaimana perjuangan Nabi Muhammad yang turun langsung dan memberi dampak yang nyata. Maka perjuangan pengusung ekonomi syariah harus demikian pula adanya.

Upaya untuk menjual ekonomi syariah perlu disertai dengan langkah-langkah yang memberikan dampak perbaikan atas kerusakan yang ditimbulkan oleh sistem kapitalis. Keberfihakan terhadap kaum miskin yang jelas sebagai subyek ekonomi terbesar dan menjadi obyek eksploitasi terbesar dari sistem kapitalis, harus diangkat martabatnya menjadi subyek ekonomi itu sendiri.

Untuk menjual ekonomi syariah adalah dengan membumi seperti yang dicontohkan  Nabi Muhammad, ataupun contoh saat ini dengan gerilya Muhammad Yunus dengan  Grameen Banknya.

(Wallahu’alam bishowab) warsito suwadi  on sitosuwadi@yahoo.com

Published in:  on December 6, 2007 at 4:47 am Leave a Comment