sendu di kanvasku

Kutumpahkan semua kepenatanku pada selembar kanvas putih, dengan warna-warna yang berani merah, hitam, putih, kuning menyala. Kunyalakan lagi jiwaku yang mulai reda. Merah dan putih tidak aku campur, memerah menyala-nyala, membakar dan menghidupkan obyek lukisku. Namun semburat warna putih kutimpakan pada pinggir warna merah agar kontur warnanya tidak terlalu tajam.

Kusemburatkan lagi warna kuning yang ngejreng memeriahkan obyek yang sebenarnya adalah sendu, lalu mau kubawa kemana obyekku?, ahh tidak urusan, kusiram lagi kanvas putihku dengan luapan emosiku yang makin memanas walaupun obyek lukisanku sendu. Kuraih lagi warna putihku kulabur dan kukawinkan dengan kuningku, agak lunak namun sendu obyekku belum juga muncul, yang muncul gelegar semangat warna merahku. Tanpa sadar telah kupadamkan warna merah itu dengan kekejaman tube hitamku, merahku mengejang, sekarat dan kelabu, tetapi belum mati, namun antara mati dan hidup. Uhh.. senduku mulai nampak, berlahan-lahan merambah, menyeruak puas ke sekujur kanvasku, walaupun masih warna putih kanvas yang belum aku intervensi.

Sendu obyekku muncul, namun perlahan-lahan obyek senduku agak kabur, kadang jelas kadang menghilang, senduku kehilangan semangat, senduku kehilangan  merah, namun bukannya aku masih memiliki warna kuning yang dengan mesranya berkawin dengan putih. Dan masih banyak warna-warna lain yang ada dikoleksi warnaku yang belum berpartisipasi. Aku mohon obyek senduku jangan engkau tinggalkan aku dalam keterasingan kanvas putih ini, sungguh aku mohon jangan kau kabur, ehh jangan kau pergi tinggalkan aku bisa mati kesepian, aku bisa mati dalam kesenduan, aku mohooon….

Kuraih lagi warna merahku, kutumpahkan dengan penuh harap agar obyek senduku mau kembali, mau mencumbui kembali imajinasiku. Dengan penuh harap, dengan penuh mengiba aku oleskan, aku laburkan aku poleskan kembali sesuai alur yang tadi kulalui dengan penuh kehati-hatian, namun apa lacurnya ia semakin tenggelam dalam kekelaman hitam itu dalam kematian yang tak mati. Aduh aku semakin tersiksa, aku semakin sekarat aku putus asa. Tidak aku belum putus aku harus bangkit!!!!

Published in:  on November 30, 2007 at 3:52 am Leave a Comment

Etos Kerja Seekor Ulat

 Bagi yang penggemar  tanaman atau yang memiliki hobi berkebun, seringkali menemukan binatang yang menjengkelkan, dimana dedaunan muda yang  tumbuh segar,  menjadi tak beraturan dan bolong-bolong bahkan habis dan tinggal tangkainya saja. Ternyata setelah kita perhatikan  ada hewan yang biasanya berwarna hijau, sehijau dedaunan untuk kamuflase, binatang tersebut adalah ulat.

Ulat adalah salah satu binatang yang sangat rakus melahap hijaunya dedaunan tanaman yang kita sayangi. Rasa marah yang sangat bila kita jumpai tanaman kesayangan kita telah habis dedaunannya, bahkan hanya tinggal ranting-ranting saja. Sedih dan marah rasanya karena usaha kita terasa terampas begitu saja karena ulah sang ulat.

Di balik kekesalan dan rasa marah,   pernahkah kita mencoba untuk melihat atau sedikit tertegun dan menyernyitkan dahi atas ulah sang ulat tersebut  atau sebaliknya  kita membunuhnya untuk melampiaskan kekesalan kita, setega itukah?

Hasil  yang diakibatkan oleh ulah sang ulat sangat mengesankan bila dibanding dengan wujud ulat yang lemah dan lunak. Melihat dari akibat yang dihasilkan maka dapat kita katakan bahwa karakter ulat adalah pekerja keras dalam menggunduli dedaunan tanaman kita, seakan-akan mereka seperti dikejar deadline dan harus buru-buru untuk menyelesaikan. Hasilnya  sangat mengesalkan sekali buat kita, yaitu tanaman yang gundul dalam waktu yang relatif singkat dan sekali lagi sungguh mengesankan.

Dalam menjalani misinya sang ulat tak membiarkan sedikit waktu terbuang, waktunya tak tersia-siakan untuk melahap dedaunan. Sang ulat baru berhenti ketika sampai pada  saat yang ditentukan dimana ia harus berhenti makan untuk  menuju ke dalam kondisi puasa yang keras. Puasa yang sangat ketat tanpa makan tanpa minum sama sekali dalam lingkupan kepompong yang sempit dan gelap. Pada masa kepompong,  terjadi  sebuah peristiwa yang sangat menakjubkan, masa dimana terjadi  transformasi dari  menjadi kupu-kupu yang indahnya dikagumi  manusia. Sang kupu-kupu yang terlahir seakan-akan menjadi makhluk baru yang  mempunyai perwujudan dan perilaku yang baru dan sama sekali berubah.

Haruskah kita membiarkan begitu saja sebuah peristiwa yang sangat indah dan mengesankan ini, tentu tidak. Sebenarnya kita patut malu bila melihat tabiat ulat yang pekerja  keras. Ulat seakan tak mempunyai waktu yang terluang dan terbuang sedikitpun. Waktu yang tersedia adalah waktu yang sangat berharga bagi ulat untuk menggemukkan dirinya menuju sebuah keadaan dimana memerlukan energi yang besar yaitu masa kepompong, seakan dikejar-kejar oleh deadline sehingga sang ulat tak pernah beristirahat sejenakpun untuk terus melahap dedaunan.

Berpacunya sang ulat dengan waktu, ternyata disebabkan sang ulat telah  mempunyai sebuah tujuan yang sangat jernih dan jelas yaitu mengumpulkan semua potensi yang ada untuk menghadapi satu saat yang sangat kritis yaitu masa kepompong, dimana pada masa kepompong dibutuhkan energi yang banyak.  Datangnya masa kepompong adalah sebuah keniscayaan maka sang ulat mempersiapkan dengan kerja keras untuk menghadapinya. 

Sebuah persiapan diri dengan kerja keras dilakukan juga  pada hewan-hewan yang mengalami musim dingin. Dimana untuk menghadapi masa sulit di musim dingin, banyak hewan yang melakukan hibernasi selama musim dingin di gua-gua atau liang-liang, untuk terhindar dari musim yang tidak menguntungkan. Agar tubuh tetap hangat dan tersedianya energi  maka sebelum menjelang musim dingin,  hewan-hewan tersebut akan menumpuk lemak sebanyak-banyaknya di dalam tubuhnya, untuk dipakai sebagai bekal dalam tidur panjangnya.

Lalu coba kita berkaca dan mereview diri kita, adakah semangat yang luar biasa selayaknya ulat yang telah menggunduli dedaunan, bukankah sebuah masa depan begitu beratnya harus kita pikul dan tunaikan. Namun kita terbuai dan masih sering suka bermain-main, selayaknya tertipu oleh permainan yang sangat melenakan. Masa-masa dalam kehidupan kita sebagai individu atau kelompok, pasti tak akan pernah luput dari masa yang menyenangkan dan kemudian digantikan masa-masa yang sulit, itu adalah sebuah kepastian, sepasti bergantinya musim hujan disongsong oleh musim kemarau yang memayahkan.

Di dalam masa-masa senang satu saat akan berganti menjadi masa yang sulit dan bahkan menjadi sebuah musibah karena mengintai sebuah keterlenaan. Sungguh benar hadist nabi  untuk mengambil kesempatan lima sebelum lima: muda sebelum tua, sehatmu sebelum sakit, kayamu sebelum melarat, hidupmu sebelum mati dan senggang sebelum sibuk (HR. Al Hakim dan Al Baihaqi). Dan bukankah kita telah diwanti-wanti untuk senantiasa mempersiapkan diri dengan apa saja yang kita mampu, untuk menggentarkan hati musuh-musuh kita.

Janganlah kita terlena bahkan kalah dengan hewan yang bernama ulat yang mempunyai etos kerja unggul dan memiliki pola pandang yang jauh ke depan dan dijalani dengan kerja keras, karena masa itu pasti akan datang dan menghampiri kita. (wallahu’alam bishowab).   (warsito suwadi)

Published in:  on November 22, 2007 at 6:28 am Leave a Comment

Pagar

Pagar dan kekuatan, keamanan, privasi, sembunyi, sendiri mengkooptasi dengan dunia luar, walau itu tidak mungkin. Kekuatan pagar menjadi simbol “memberi rasa aman”, namun belum tentu. Alangkah sombongnya sebuah pagar dengan pos pejagaan, dengan dijaga empat, lima orang berseragam satpam, tentara dan polisi, segerombolan anjing-anjing buldog dan  herder. Pagar  bergerbang tunjukkan kewibawaan, tunjukkan kesombongan, tunjukan ketidaktersentuhan, ini adalah wilayah terlarang bagi orang yang tak terijinkan, lagak-lagak penguasa keraton yang merasa seperti raja yang menguasai sebuah wilayah. 

Pagar mengekspresikan macam-macam rasa. Namun aku, engkau bahkan semua yang berumah pagar menginginkan keamanan, menunjukkan ketidakpercayaannya pada dunia luar, pada sistem keamanan, pada ketidakpastian tatanan masyarakat yang mampu melindungi warga.

Pagar yang kekar dengan kawat berduri menjadi penegas bahwa ini milikku, tidak boleh orang mengaku-aku, ini adalah batas-batas kewilayahanku, kau tak berhak menginjak, masuk, bermain-main bahkan membuang sampah disini tanpa ada ijin yang kumandatkan padamu.

Rumah berarsitektur megah, menghabiskan jutaan, bahkan milyaran, akhirnya tak masuk dalam jajaran kesombongan sepenuhnya, namun hanya kesombongan dengan ketakutan, kesombongan dengan berpagar rapat, kesombongan dengan kerapuhan, kesombongan yang tak beridentititas, kesombongan yang lepas dari masyarakatnya.

Pagar yang rapi dan seragam adalah titah dari tatanan masyarakat yang didaulat bahwa keseragaman itu indah, ekspresi keberbedaan  hanya mengotori sebuah harmoni keseragaman yang dipaksakan belaka, keragaman hanya pengkhianat yang harus dipandang dengan curiga.

Pagar yang rapi dan seragam di desa-desa adalah kesederhanaan warganya yang ingin tampil secara kolektif dalam tatanan masyarakatnya, tatanan instruksi dari PakRT-nya, atau instruksi langsung dari desa, bahkan warnapun harus seragam terserah penguasa. merah , kuning, putih bahkan hijau, asalkan seragam nanti akan menimbulkan keindahan, kebersamaan, senasib sepenanggungan, sejiwa, kerukunan, dan kegotong royongan. Lalu sebuah keluguan dan kepatuhan dari jiwa-jiwa yang tulus dan lugu.

Pagar sebagai penguatan hak milik, pembuktian dengan pengakuan akan kekuasaan dan kekayaan. Alangkah bertanya-tanyanya orang bila melihat tanah luas berpagar, “di Jakarta lagi, Siapa yang memiliki tanah ini?”, orang menaksir  harganya , lalu di kepala mereka tertulis angka-angka yang jumlah yang tak pernah ternyanakan oleh ia sebagai orang yang biasa, orang-orang yang awam.

Rumah tak berpagar. Namun gila juga orang-orang yang rumahnya tanpa dipasangi dengan pagar, ini akan mengundang maling untuk masuk, perampok akan leluasa menggasak semua milik kita, bahkan jiwa kita satu-satunya.

Pagar-pagar berjeruji, pagar berbeling adalah jamak di rumah-rumah besar, rumah-rumah berpunya. Beling-beling, jeruji-jeruji adalah bahasa kiasan atau lebih pada sarkasme yang terkatakan: dilarang masuk lewat pagar, jangan coba-coba menaiki pagar kalau tidak ingin terluka dan nyangkut dipagar.

Pagar lancip diujung-ujungnya mungkin senada pula dengan pagar berbeling dan pagar berjeruji, jangan masuk, jangan lihat-lihat, atau matamu akan tertusuk lancipnya pagar rumahku.

Pagar berperdu terasa asri, hijau bahkan menyegarkan pandangan, namun jangan tinggi-tinggi kalau tak ingin terkurung dalam dalam kesejukan kesendirian.

Rumah-rumah tak berpagar, lebih karena apa, saya tidak tahu, apakah karena kemiskinan yang tak mampu untuk membeli pagar, memasang pagar. Rumah-rumah tanpa pagar lebih berdesak-desakan, banyak orang-orang yang menghampiri demi sumbangan, menawarkan sesuatu pada kita, mungkin telah menjadi teror tiap harinya terhadap orang rumahan.

Rumah belum ada, tanahpun belum punya, apalagi pagar rumahnya. Pagar-pagar itu masih menancap dalam dada-dada  ini, mungkin akan kunyatakan bila aku punya uang nanti, atau cukup sebuah pagar dari pohon perdu yang nanti kupangkas tiap minggunya, atau hanya pagar ilalang, yang tak terurus.

Published in:  on November 19, 2007 at 8:31 am Comments (1)

Bila cinta ditautkan

 Jantungnya berpacu cepat, degupnya menggoncang tubuhnya yang semakin ringkih. Kepalanya terasa berputar-putar, perutnya diaduk-aduk, hingga sarapan tadi pagi keluar semua.

Tak biasanya ia mengalami hal seperti ini. Sangat berat sekali kondisi yang dialaminya. Kupu-kupu beterbangan di atas kepalanya, mengantarkan pada pingsan.

Rahmat sendiri di rumah kontrakan yang sempit. istrinya pergi ke pasar untuk belanja ala kadarnya. Selagi simpanan masih ada walau tinggal beberapa ribu rupiah, tetapi urusan makan kan tidak bisa ditinggalkan.

Hati Raida terasa kacau, bercampur bau ikan basah yang menyengat, terasa terngiang jelas di telinganya, “Ida segera pulang”.

Panggilan itu jelas menyengat telinga, itu jelas suara Mas Rahmat.

Segera ia beranjak, menyusuri lorong pasar yang pengap dan bau, bersama kecipak pekat alas pasar sehabis hujan mengguyur tadi malam.

Raida ucapkan salam dan mendorong pintu yang memang tidak dikunci. Menyeruaklah tangis yang ditahan sepanjang perjalanan.

 ”Mas Rahmat…..” pekiknya,

Raida mendapati sekujur tubuh Rahmat yang dingin, dengan nafas yang terdengar memburu.

“aku, harus tenang, aku harus sabar” teriak Raida pada diri sendiri.

Disambarnya minyak angin yang tergeletak di meja ia olesi di sekitar hidung, perut dan punggung, ia olesi lagi hidung, dengan minyak angin.

Dengan lembut Raida, membisiki telinga Rahmat, “Mas Rahmat, bangun, sadarlah, aku mendengar teriakanmu” sambil berdoa, sambil berharap cemas.

Mata yang tertutup rapat itu kemudian meleleh dengan butiran-butiran hangat air mata. Memecah rasa dingin yang telah membungkus tubuh Rahmat.

Meledaklah tangis Raida. Menangis, menggugu sebisanya, ia memeluk tubuh suaminya. Hanya senyum Rahmat menyambut tangis istrinya. “Aku tidak apa-apa sayang”, sambil dielus rambut sang istri.

Walau tampak rapuh kehidupan rumah tangga yang baru dibangun dari segi ekonomi, namun Raida dan Rahmat merasa kokoh akan kehidupan baru mereka.

Sejak awal Rahmat meminang Ida, sudah dijelaskan dan ditekankan bahwa ia tidak memiliki apa-apa, hanya sebuah tekad dan keimanannya bahwa Allah akan mencukupi kehidupannya, dan alhamdulillah Ida menerima pinangannya dengan ikhlas dan menerima Rahmat apa adanya.

Untuk menutupi kebutuhan sehari-hari memang amat berat bagi Rahmat dengan gaji yang pas-pasan, namun ia sangat terhibur dengan kesetian Ida untuk menuruti kemauannya tinggal di kontrakan yang sangat minim fasilitasnya karena memang murah harganya.

Mas, kalau ini memang keputusanmu aku ngikut aja.

Sebab Mas Rahmat sekarang yang menjadi pemimpinku.

Dimana dan kemanapun Mas Rahmat pergi InsyaAllah aku akan mendampingimu. Semoga ini menjadi tabungan amal kita yang semakin membuat kita dicintai Allah.

Rahmat meneteskan airmatanya, ia agak sungkan juga untuk menangis, jaga wibawa pikirnya.

Terimakasih banyak Ida.

Aku tak bisa menjanjikan banyak kepadamu,

namun aku akan berusaha banyak untuk rumah tangga kita sebatas yang aku bisa.

Sejak peristiwa pingsannya Rahmat hati kedua manusia ini semakin erat.

Mereka percaya bahwa inilah ujian dari Allah akan pernyataan keimanannya.

Walaupun mereka kekurangan namun tak pernah mereka melewatkan hari-hari mereka dengan perut yang kosong, sebab mereka yakin Allah akan mencukupi segala hajat mahluknya. Memang ada saja rejeki yang Allah alirkan pada mereka.

 (abisaif ap 26 06)

Published in:  on November 14, 2007 at 3:23 am Leave a Comment

Cintai Aku apa adanya

Hari-hari pernikahan yang dilalui adalah aliran perjuangan yang akan terus dilalui sampai sebuah muara menjemput. Tanpa adanya kesungguhan membuat ia hanyalah perjuangan kesia-siaan, penderitaan dan kebosanan yang membuat berhenti, mandeg, lalu mati dalam hidup, hidup dalam kematian.Memaknai perjalanan, membuatnya menjadi lebih berarti dari sekedar arti yang biasa-biasa saja, arti dengan kesungguhan adalah arti yang sebenarnya, yang memiliki keunikan-keunikan tersendiri dari setiap individunya. Meraih keunikan adalah kepuasan tersendiri yang tidak pasaran yang biasanya murah harganya, seperti produk pabrikan.

Lika-likunya membuat terus untuk berada didalamnya, tidak ada kata bosan, penuh dengan hal-hal yang baru. Penuh dengan perasaan yang hangat, tanpa ada satu kebohongan yang kadang muncul atau sebuah ketakutan-ketakutan bayangan masa depan yang menciutkan jiwa, penuh keyakinan, penuh keimanan dalam meniti perjalanan hidup ini.

Alhamdulillah, Allah mempersembahkan teman dalam tiap kehidupan ini, kemana selalu dalam kebersamaan hati, memperhatikan, menyemangati sehingga kebosanan itu berubah menjadi semangat, kesedihan itu menjadi keceriaan.

Akhirnya setelah perjalanan waktu harus dikatakan, “aku mencintaimu dengan apa adanya, aku mencitaimu dengan sepenuh yang aku punya”. Kata-kata itu mampu memangkas semua riak gelombang karena angin masa lalu, bayang-bayang yang tak pernah terwujud, kekecewaan-kekecewaan yang tak mendasar.

Hari -hari kedepan sudah tak perlu ada himpitan setengah-setengah dalam hati, ketika anak-anak lahir, ketika tangung-jawab makin bertambah, tak perlu lagi hati terobang-abing oleh masa lalu dan perasaan-perasaan, sebab bangunan yang telah berdiri butuh untuk dibenahi, dengan cat yang riang dan warna-warna yang hangat, ataupun pernak-pernik yang selalu menyegarkan ketika kita didera kelelahan.

Totalitas itu adalah cintanya Rasulullah terhadap kecintaannya Khodijah tersayang, totalitas itu adalah menerima apa adanya dan memberi apa yang dipunyai agar menjadi sempurnanya bangunan suci itu mengemban misinya, menjadikan madrasah bagi lahirnya tauladan-tauladan di tengah umat, berbiaknya generasi rabbani yang akan mengusung kejayaan peradaban yang mulia dimuka bumi. (abisaif 05)

Published in:  on November 13, 2007 at 4:21 am Leave a Comment

Dinar dan Dirham akankah Jadi Alternatif ?

Kuatnya pengaruh dan dominasi uang dollar terhadap perekonomian kita khususnya dan negara-negara muslim umumnya telah menggerakkan sebagian orang untuk mencari alternatif lain. Dinar dan dirham yang pernah digunakan, bahkan pada jaman nabi, dilihat sebagai alternatif yang sangat baik. Dalam sejarah penggunaan uang dinar dan dirham pernah berjaya, namun kemudian digantikan oleh uang kertas yang sangat rentan terhadap inflasi yang mengggerogoti nilai uang dari waktu ke waktu.

Dalam perkembangannya uang telah mengalami perubahan fungsinya dan semakin jauh dari nilai keadilan dalam perekonomian. Pergeseran fungsi itu adalah uang menjadi satu komoditi dan motif tambahan yaitu spekulasi karena adanya perubahan nilai uang sewaktu-waktu. Perlu kemudian untuk mendudukkan kembali uang pada fungsi sebenarnya, yaitu uang sebagai alat tukar (medium of exchange), satuan hitung (unit of account). Demikian juga dalam motif orang memegang uang adalah untuk jaga-jaga (precautionary motive), transaksi (transaction motive), dan tidak untuk spekulatif (speculative motive).

Kemauan kuat untuk kembali mengggunakan dinar dan dirham perlu disambut dengan baik, dan semoga ini bergulir dan menjadi bola salju sehingga kemudian menjadi perhatian kita semua. Namun yang menjadi perhatian adalah penggunaan mata uang saat ini tak dapat dilepaskan pada ekonomi  sebagai bagian yang tidak dapat berdiri sendiri, dan juga faktor-faktor pendukung serta faktor-faktor yang mengancam. Sebab bila masalah hanya diurai dan tangani secara terpisah tidak akan menemukan jalan penyelesaian yang diharapkan.

Penggunaan mata uang dinar dan dirham tidak dapat berlepas dari pemahaman dan keyakinan dari masyarakat terhadap fungsi uang yang seharusnya, dan bagaimana Islam mendudukkan uang dalam kemaslahatan dan muamalah. Harta dalam Islam di bagi menjadi dua yaitu modal sebagai barang pribadi dan uang sebagai barang masyarakat. juga uang diposisikan sebagai alat tukar semata bukan berubah komoditi seperti saat ini. Dengan demikian tidak akan terjadi penimbunan uang atau penyimpanan uang yang berdampak berkurangnya jumlah uang sebagai sarana pertukaran dalam perekonomian, yang tentunya bila kita ibaratkan penimbunan uang akan membuat lesu darah perekonomian.

Uang sebagai alat pertukaran dalam perekonomian mempunyai dampak berupa inflasi dan deflasi yang disebabkan oleh jumlah uang beredar dan ketersediaan komoditi yang dipertukarkan, ketika jumlah uang beredar kurang dari permintaan pasar menyebabkan penurunan harga, demikian juga sebaliknya dengan berlebihnya jumlah uang beredar akan menyebabkan harga akan naik. Kondisi ini akan berkisar pada titik keseimbangan dimana terjadi bila permintaan dan penawaran dalam jumlah yang pas, sehingga tercipta kestabilan harga, permintaan dan penawaran uang.

Kestabilan nilai mata uang telah menjadi ide dasar menggunakan dinar dan dirham disamping juga keprihatinan terhadap dominasi nilai mata uang dolar dalam perekonomian dunia, dimana akibatnya sangat terasa dengan inflasi rupiah yang tinggi terhadap dolar, sehingga memukul perekonomian Indonesia yang tak mempunyai fundamental yang kuat dengan ditandainya jumlah devisa yang sangat tipis saat itu. Mungkin kondisi kita akan lain bila kita mempunyai cadangan yang cukup berupa devisa ataupun dalam bentuk emas, untuk mendukung kinerja rupiah sehingga tidak habis-habisan dipermainkan spekulan.

Dinar dan dirham dalam sejarah penggunaannya dikenal mempunyai kestabilan yang tinggi, disini bisa kita lihat dengan perbandingan di masa Rasulullah 1: 10 nilai dinar terhadap dirham dalam perjalanan waktu mengalami inflasi sebesar 1: 15 di masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz dalam kurun 4 abad. Inilah yang dinamakan inflasi alamiah sehingga nilainya kecil dari tahun ke tahun.

Ide penerapan dinar dan dirham yang telah dirintis tentu mendapat dukungan dan penolakan dengan segala argumentasi yang dikemukan. Namun dengan segala penentangan dan penerimaan tersebut harus senantiasa diperhatikan kembali kepada hakiki sebenarnya fungsi uang itu dalam kehidupan muamalah, sehingga tidak terjebak pada situasi dimana usaha-usaha yang telah dilakukan tidak maksimal bahkan sia-sia belaka. Pemberlakuan dinar dirham adalah ide yang sangat menarik dan baik sebagai alternatif terhadap kondisi perekonomian yang dikendali oleh dolar dalam perekonomian dunia. Kestabilan dinar dan dirham karena nilai yang dikandungnya adalah nilai intrinsik yang dimilikinya, dimana 1 dinar adalah dinar itu sendiri, bukan misalnya seribu rupiah adalah hanya selembar kertas yang diberikan nilai seribu, kemudian dinyatakan sebagai seribu rupiah sebagai alat pembayaran yang sah oleh negara. Nilai seribu rupiah tidak akan bernilai seribu lagi diluar wilayah negara yang menetapkan atau wilayah yang mengakui dan mempercayai kertas tersebut bernilai seribu rupiah. Kondisi ini berlainan dengan dinar yang akan diterima di mana saja karena satu dinar adalah satu dinar tanpa butuh pengesahan dan pengakuan fihak manapun.

Disinilah kemudian dinar dan dirham mempunyai fungsi yang sangat baik karena tidak mengenal negara atau bersifat global, sebagaimana uang kertas yang sangat rentan terhadap kondisi negara yang mengeluarkannya. Dinar dan dirham menjadi entitas tersendiri dalam ekonomi, yang akan mengalami dan mempunyai karakteristik yang unik sebagaimana suatu mata uang dan dimana akan mengalami kondisi jamaknya mata uang seperti inflasi ataupun deflasi.

Kondisi ideal yang telah dibuktikan dan diinginkan kembali adalah sebuah keinginan yang sangat rasional di tengah kondisi saat ini, kondisi yang membutuhkan suatu pra-syarat untuk dapat menumbuhkan tata perekonomian yang adil, yang tidak didiktekan oleh negara tertentu karena pengaruh yang dimilikinya, yaitu politik maupun fundamental ekonominya. Kondisi ideal tersebut adalah perlu adanya kekuatan entahlah apa namanya yang membuat mata uang adalah mata uang yang mempunyai fungsi sebagai alat pertukaran, bukan sebagai komoditi yang dapat diperjualbelikan. Kemudian tidak adanya penimbunan uang yang berakibat pada jumlah uang yang berkurang. Kondisi ideal itu juga berupa ketersediaan mata uang dalam jumlah equibilirium. Namun kondisi ini tentu tidak mudah.

Ide untuk menggunakan mata uang dinar dan dirham pada kalangan terbatas kemudian diharapkan dan meluas kebanyak kalangan perlu untuk dikritisi, yaitu dengan hukum Gresham “Bad money will drive out good money”, dimana mempunyai implikasi bahwa peredaran mata uang dinar dan dirham tidak dapat berjalan seperti yang diinginkan, karena dinar dan dirham sebagai good money akan cenderung disimpan (hoarding), daripada digunakan untuk melakukan transaksi. Karena perlakuan ini kemudian dinar dan dirham akan lebih menjadi uang komoditi yang sebenarnya yaitu ia tidak sebagai mata uang namun kemudian berfungsi hanya sebagai dinar emas, untuk disimpan, atau yang lebih agak liquid digunakan untuk ONH, mas kawin atau fungsi-fungsi lain yang tidak mempunyai nilai strategis dalam perekonomian.

Ide untuk membangkitkan lagi adalah sebuah langkah yang harus didukung oleh semua fihak, terutama bagi mereka yang memegang peranan dalam perekonomian, sehingga prinsip-prinsip keadilan, kestabilan dalam perekonomian dapat terwujud, dengan semangat menjunjung Islam sebagai agama rahmat bagi semua umat manusia. Inilah kemudian semangat ini muncul untuk lebih menunjukkan bahwa sistem moneter Islam lebih menjunjung keadilan walaupun dinar dan dirham itu sendiri bukan sebuah mata uang yang lahir dari peradaban Islam tapi spirit keadilannya itulah yang kemudian diperjuangkan karena ia tidak mengenal lagi bangsa, tapi ia menempati fungsi sebenarnya sebagai alam pertukaran, sebagai alat penilai.

Kondisi perekonomian global sekarang ditandai dengan naiknya harga minyak mentah dunia yang berada pada level 100 dolar dan dalam perdagangan Amerika mengalami defisit kembar yaitu pembayaran dan anggaran berjalan. Memberikan satu bukti yang nyata bahwa mata uang yang digunakan sebagai devisa ini tak mampu berperan sebagai mata uang yang berdiri sendiri, namun keberadaan dan keberdayaannya tergantung pada kondisi dari negara yang mengeluarkannya. Bila kekuatan politik dan ekonomi negara tersebut kuat maka semakin kuat dan stabil nilainya, demikian kondisi sebaliknya.

Terlepas pada setuju ataupun tidak setuju dengan terhadap mata uang dinar dan dirham untuk diaktifkan kembali, kita harus mencermati dengan melihat realitas dan ju juga kondisi obyektif maupun normatif sesuai dengan Islam dalam mengatur masalah perekonomian dikaitkan dengan ilmu dan kajian ekonomi yang begitu pesat melesat dengan kondisi perekonomian Islam yang sedang berkembang saat ini. Perlu digali ilmu-ilmu tersebut dan kemudian ada satu usaha yag keras untuk menjadikannya tidak sebagai alternatif belaka namun sebagai pilihan utama untuk mengatasi kondisi perekonomian umat Islam yang diakui atau tidak masih terbelakang dang menjadi bulan-bulanan negara-negara barat yang jelas-jelas tidak menyenangi Islam. Dengan kekuatan dan kekuasaan mereka secara halus maupun kasar sekalipun, agar negara-negara Islam untuk selalu dalam cengkramannya. Keberdayaan umat salah satunya adalah dengan ekonomi karena Rasulullah  jauh-jauh hari telah memberi satu peringatan bahwa kondisi umat yang berada dalam kemiskinan akan lebih cenderung pada kekafiran, hal ini sudah terbukti. Maka mulailah dengan segala yang bisa kita lalukan dengan upaya-upaya yang keras untuk membangkitkan dan menunjukan bahwa Islam adalah pemberi solusi permasalahan dan juga sebagai agama yang rahmatan lil alamin.

ws 

Published in:  on November 9, 2007 at 9:15 am Leave a Comment

Biru laut

Bahagiapun adalah pilihan kita, anda mau bahagia atau sedih dan sengsara adalah tergantung pada pilihan kita sendiri, bukan karena atau sebab orang lain.Kebahagian bukan uang kesenangan semata, kebagaian bukan kekuatan kekuasaan semata, kebahagiaan adalah hati.

Kebahagian bukanlah sesaat lalu kegelisahan yang menghantui, ia selaksa birunya laut, bukan keruhnya air limbah karena sejatinya biru itu meneduhkan dan tak berbatas dengan langit yang terhampar. Biru itu sejatinya adalah langit yang bercurah ke lautan.

Apa sesungguhnya birunya laut, sesungguhnya ia adalah karunia dari kebeningan dalam kedalamannya. Tanpa kebeningan laut tanpa birunya.

Published in:  on at 3:16 am Leave a Comment

Gejala dan Masalah

Masalah telah menjadi komponen yang tak terpisahkan dalam kehidupan manusia, sehingga akan menjadi masalah bila kita tidak punya masalah, atau tidak tahu kalau punya masalah dan yang lebih parah bila kita menjadi orang yang bermasalah.Setiap orang akan diuji dengan masalah, dan tentu saja kadar ujian yang diterima adalah relatif untuk setiap orang, dan Allah telah menentukan masing-masing kadar tersebut sesuai dengan kapasitas kita. Sehingga satu pegangan bahwa pada dasarnya ujian atau permasalahan yang menimpa kita, adalah pasti mampu untuk kita pecahkan, sebab kadarnya telah secara unik disesuaikan dengan keadaan kita.

Dalam memandang permasalahan orang akan melihatnya berbeda-beda, sehingga sudut pandang penyelesaian juga akan berbeda-beda sesuai kadar orang tersebut. Menarik untuk kita simak sebuah tag line dari pegadaian ” Mengatasi masalah tanpa masalah”, sebuah ide penyelesaian masalah yang komprehensif, sesuai dengan tingkatan dampak dan urgensinya dalam penyelesaian.

Sungguh menarik untuk kita simak tentang keadaan sekeliling kita, lingkungan, rumah tangga bahkan diri kita sendiri yang selalu dilingkupi dan didatangi oleh permasalahan yang silih berganti tanpa henti sampai ajal nanti menjemput. Permasalahan itu adalah batu undakan, batu tangga yang akan menghantarkan kita pada tingkatan-tingkatan menuju ketinggian. Ketinggian keimanan, keilmuan, kedewasaan, wawasan. Semua ketinggian itu akan bisa diraih dan terus menerus ujian dan masalahnya juga akan meninggkat, seperti pepatah ,semakin meninggi suatu pohon maka akan semakin kencang pula angin, badai, topan yang akan mengguncang, kemudian bagi sang pemenang adalah mengatasi masalah tersebut tanpa membuat masalah baru, atau ibarat pohon yang di guncang dan di hantam badai walau ranting dan dahannya luruh namun batang tetap terpancang menjulang tinggi dan siap untuk menumbuhkan ranting,dahan dan daun yang lebih kuat lagi.

Untuk menjadi pemecah masalah-masalah dan kemudian menjadi pemenang dengan mengatasi masalah tanpa masalah, tentu dibutuhkan banyak hal, namun dari semua itu sangat dibutuhkan kemampuan untuk membedakan gejala masalah dan masalahnya itu sendiri. Menurut kita misalnya rumah tangga yang selalu ribut tiap hari, disikapi sebagai gejala atau masalah. Apabila ribut tiap hari disikapi sebagai masalah maka dari keributan itu misalnya ditemukan solusi bahwa masing-masing pasangan supaya tutup mulut, biar tidak ada ribut lagi. Namun dengan diamnya apakah tetap tidak akan ribut?.
Apabila ribut didudukkan sebagai gejala dari sesuatu masalah maka, keributan cukup didudukkan sebagai gejala, selanjutnya coba didiagnosa untuk mencari akar permasalahan yang menyebabkan keributan tersebut. Tentu kemudian dari pasangan tersebut perlu mengintrospeksi dan duduk dengan kepala dingin, sebenarnya apakah masalah yang menyebabkan keributan itu muncul.

Jadi, permasalahan tentu tak akan pernah usai, sampai pada usainya kehidupan ini. Namun permasalahan adalah untuk diselesaikan, bukan untuk dihindari. Biar tidak salah menanganinya perlu dengan jeli mencari akar-akar permasalahannya, bukan gejala permasalahannya atau akibat permasalahannya saja. Hingga kemudian benar-benar jelas penyebab permasalahannya sehingga dapat kita selesaikan permasalahan kita secara komprehensif.

Ws

Published in:  on November 8, 2007 at 9:27 am Leave a Comment

Butiran-butiran hujan

Masih sesore ini rintik hujan semakin menderas. reda tak kunjung menghampiri. Sementara senja semakin berkejaran dengan detik-detik jam tangan. Lelah merayap menjadi satu sandaran bahwa telah jauh perputaran itu sampai dan menemukan titik awal bermula.Sore yang basah merayap malam yang gelap. Lampu-lampu jalanan menghablur menerobos dinding-dinding kristal butiran hujan, membuat pandangan terhalang oleh deretan sinar yang diurai menjadi tarian-tarian dipentas titik-titik air yang membasahi helm. Kayuh terus kayuh menerjang kubangan, menimbulkan sensasi cipratan yang meriahkan. Untung bawa jas hujan, cenung dalam hati, hingga tak perlu terhambat tertambat di halte bus yang telah berjejal manusia berlindung dari guyuran hujan.

Terbetik mencibir, salah siapa tak bawa jas hujan, udah tahu kalau lagi masa sering-sering turun hujan, Kalau begitu kan waktu terbuang percuma, sedang keluarga menunggu harap-harap cemas terhadap keselamatan.

dingin itu semakin menambah gigilan gigi yang tak kuasa menahan tebasan angin yang semakin meruntuhkan ketebalan jaket. Namun masih dapat teratasi. Segerombolan motor itu beriringan dengan laju agak pelan karena memang tak memungkinkan untuk ngebut karena macet ceetttt!!!.

Helai rambut yang tak terlindung digunjang hembusan dingin terlihat titik air hujan menggelayut, semakin masai rambut tak terurus itu.

Semakin dingin akan mengundang kegairahan, untuk duduk-duduk di sini, di lampu merah dekat jembatan layang dan kolong jembatan tempat biasa keluarga melepas penatnya. Lumayan juga seorang ibu mengulurkan lembaran ribuan. Sementara mata emak menguasai setiap gerak gerik di kejauhan. Batinnya “semoga kau semakin menggigil dan menengadahkan tangan agar semakin pula banyak orang iba dan mengulurkan lembaran rupiah terhadapmu.

Desah atau tangisan yang tak tersisa ketika runtuhan gunung melumatkan perkampungan. Batu-batu dan Lumpur serta tanah menjebol dinding-dinding rumah merangsek melumatkan meratakan dan tenggelam terhanyaut dalam aluran Lumpur yang terjun tanpa dikait lagi oleh rindangnya pepohonan. Terjual demi sebuah ambisi yang memakan gelondongan-gelondongan kayu bulat-bulat. Kembali lagi rintihan itu ditindas oleh batu gunung bulat-bulat.

Nafas tersendat tersengal hampir putus ketika harus melawan arus air yang menggila di tengah jalan yang diputus oleh banjir, kenekatan yang kadang harus dibayar dengan nyawa satu-satunya, untunglah tim SAR segera datang menyelamatkan. Banyak rumah terendam, kerugian material yang tak terhitung kemudian bantuan datang mengalir menyemut.

Published in:  on November 7, 2007 at 7:09 am Leave a Comment