aku berselisih dengan masa

Aku berselisih dengan masa. 

Ohh, aku telah berselisih dengan masa.

 Kumpulkan genangan kenangan. Membaur berIbu kisah, berAyah penantian. Namun itu belum sebagai penuntas. 

 Ohh, kupandang wajah  di cermin pias. Tertinggal bergurat wajah yang menguning padi. Harusnya merunduk, harusnya berisi. Ohh…. harus kemana, harus kucari. 

 Ohh, padang-padang itu telah kering bersalaman kemarau Mengabarkan sebuah derita kepanasan. Ohh….. lalu aku lupa  bertanya saat hijaunya menyejukkan. 

 Ohh, masa berlarut tak berbekas Menggulung seperti banjir bandang. Hanya membekas kerja-kerja besar. Di buku dan ingatan peradaban. 

Jul 08, 02 

Published in:  on March 14, 2007 at 10:47 am Leave a Comment

gusur kaki 5

Penggusuran kaki 5.

 

 

Terkejut, ia memandang dengan pucat, wajah tanpa darah, matamu sayu namun tajam, tak ada setitik rasa di wajah tirusmu. Diam hanya memandang, sepasang matamu menjadi mata elang, tanpa kedip menusuk di tangkup jantung. Pelan suara sengau meluncur, “ aku hanya cari makan, aku tak pernah ganggu orang”.

 

Keributan itu menjadi kekacauan belaka. Batu, kayu beterbangan, air pemadam kebakaran menyemprot mematikan api perlawanan. Terakhir letusan peluru mengoyak, darah melesak, melebar, melebar, bercampur dengan air.

 

Genangan air, merah menghitam bercampur tengiknya sebuah pasar.

 

Penggusuran kaki 5.

30/0806

Published in:  on at 10:25 am Leave a Comment

Mata Air Kebeningan

 

Ibu, setiap kuingat dan terlintas adalah air mata keharuanku. Ketangguhanmu, kedalaman cintamu, ketulusan doamu. Kata-katamu adalah butiran mutiara, linangan air matamu adalah berlian, tak ada setitik celamu untukku. Renta wajahmu kini adalah kecantikan yang tak tertanding. Suaramu semerdu tetesan air dan embun di kesejukan pagi.

Sungguh, tak akan bisa terbantahkan akhlak mulia yang Islam ajarkan untuk menyanjungmu, memuliakanmu. Dan aku meminta maaf untuk kata-kata kasar yang terlontar, dari mulut tanpa terima kasih anakmu ini. Kenakalan dan ketidakpatuhanku.

Ilmu yang dalam penuh kebijakan dari perjalanan hidup yang mencerdaskan, tak akan pernah aku mampu menggapainya, walau dengan seluruh susah payahku. Kau tuturkan dalam untaian nasehat indah sejukmu, walau aku tak perhatikan dan hanya membuai tidurku.

Tak kau kenal lagi keluh kesah, lelah, kau sejukkan tangisku, kau kenyangkan laparku, kau diamkan kegusaranmu, kau buaikan  aku dengan tembang lirismu yang tersahdu di muka bumi ini. Aku terlelap, aku tumbuh, aku mendewasa, hingga aku menjadi bapak untuk anak-anakku.

aku kini melihat seluruh dari apa yang istriku lakukan untuk anak-anakku, itu tentu tak sepayah engkau dengan segala keterbatasan yang membelenggu namun itu tak ada artinya buatmu.

Bu kau adalah mata air kebeninganku.

Published in:  on March 13, 2007 at 5:55 am Leave a Comment