Ibu, setiap kuingat dan terlintas adalah air mata keharuanku. Ketangguhanmu, kedalaman cintamu, ketulusan doamu. Kata-katamu adalah butiran mutiara, linangan air matamu adalah berlian, tak ada setitik celamu untukku. Renta wajahmu kini adalah kecantikan yang tak tertanding. Suaramu semerdu tetesan air dan embun di kesejukan pagi.
Sungguh, tak akan bisa terbantahkan akhlak mulia yang Islam ajarkan untuk menyanjungmu, memuliakanmu. Dan aku meminta maaf untuk kata-kata kasar yang terlontar, dari mulut tanpa terima kasih anakmu ini. Kenakalan dan ketidakpatuhanku.
Ilmu yang dalam penuh kebijakan dari perjalanan hidup yang mencerdaskan, tak akan pernah aku mampu menggapainya, walau dengan seluruh susah payahku. Kau tuturkan dalam untaian nasehat indah sejukmu, walau aku tak perhatikan dan hanya membuai tidurku.
Tak kau kenal lagi keluh kesah, lelah, kau sejukkan tangisku, kau kenyangkan laparku, kau diamkan kegusaranmu, kau buaikan aku dengan tembang lirismu yang tersahdu di muka bumi ini. Aku terlelap, aku tumbuh, aku mendewasa, hingga aku menjadi bapak untuk anak-anakku.
aku kini melihat seluruh dari apa yang istriku lakukan untuk anak-anakku, itu tentu tak sepayah engkau dengan segala keterbatasan yang membelenggu namun itu tak ada artinya buatmu.
Bu kau adalah mata air kebeninganku.